Kuliner Aceh Tak Cukup Hanya Lezat, Cerita di Baliknya Perlu Diangkat
Senin, 14 September 2026 | 17:00
Penulis: Rojes Saragih

Banda Aceh - Kekayaan kuliner Aceh dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi daya tarik wisata gastronomi Indonesia. Namun, cita rasa yang kuat saja belum cukup.
Cerita mengenai sejarah, budaya, tradisi, bahan pangan, hingga kehidupan masyarakat di balik setiap hidangan perlu diperkuat agar pengalaman wisatawan menjadi lebih utuh.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa meminta pemerintah daerah dan para pelaku pariwisata di Aceh memperkuat storytelling atau narasi di balik kuliner khas daerah tersebut.
BACA JUGA
China Jadi Penyumbang Wisatawan Terbesar Keempat ke Indonesia
Global Muslim Travel Index 2026: Jabar Jadi Destinasi Wisata Ramah Muslim Paling Menjanjikan
Daftar Negara Asia Tenggara Paling Banyak Dikunjungi, Indonesia Nomor Berapa?
“Kita harus kuatkan storytelling dari kuliner-kuliner Aceh sehingga kita tidak hanya merasakan enaknya saja, tetapi, kita tahu cerita di baliknya,” kata Ni Luh saat menghadiri penutupan Aceh Culinary Festival (ACF) 2026 di Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Senin, 14/09/2026.
Menurut Ni Luh, gastronomi tidak sekadar membahas rasa sebuah makanan. Di dalamnya terdapat identitas budaya, tradisi, sejarah, bahan pangan, serta kehidupan masyarakat yang membentuk sebuah hidangan.
Karena itu, narasi menjadi bagian penting dalam mengembangkan kuliner sebagai produk pariwisata.
Wisatawan tidak hanya diajak mencicipi makanan, tetapi juga memahami asal-usul, nilai budaya, dan cerita masyarakat yang melekat pada hidangan tersebut.
Dengan pendekatan itu, kuliner Aceh dapat memiliki daya tarik yang lebih kuat. Sebuah hidangan tidak berhenti sebagai makanan yang disantap wisatawan, tetapi menjadi bagian dari pengalaman perjalanan yang menghubungkan mereka dengan sejarah dan budaya daerah.
Festival Kuliner Harus Berdampak ke Ekonomi
Ni Luh juga menekankan bahwa festival kuliner seharusnya tidak berhenti sebagai tontonan atau ruang perayaan budaya.
Kegiatan seperti ACF perlu menghasilkan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat, antara lain melalui peningkatan transaksi UMKM, penciptaan lapangan kerja, serta tumbuhnya aktivitas ekonomi di sekitar lokasi festival.
Data Kementerian Pariwisata menunjukkan, rangkaian Karisma Event Nusantara (KEN) 2025 mencatat perputaran ekonomi lebih dari Rp17 triliun, tumbuh 25,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Rangkaian KEN 2025 juga mencatat 10,8 juta pengunjung. Kegiatan tersebut melibatkan sekitar 108.500 tenaga kerja, 105.700 pelaku seni, 15.400 pengusaha UMKM, dan 4.900 anggota komunitas lokal.
Capaian tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan pariwisata dapat memberikan efek berganda bagi perekonomian.
Selain menjadi ruang untuk merawat dan memperkenalkan kebudayaan, festival dapat memperkuat ekonomi lokal melalui keterlibatan UMKM, pelaku seni, komunitas, dan tenaga kerja.
ACF Jadi Panggung Kuliner Aceh
Ni Luh menilai Aceh Culinary Festival 2026 menunjukkan besarnya potensi kuliner Aceh untuk dikembangkan sebagai bagian dari pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan.
Ia berharap ACF dapat ikut memperkuat Wonderful Indonesia Gourmet (WIG), inisiatif Kementerian Pariwisata untuk mengembangkan kekayaan gastronomi Nusantara sebagai daya tarik wisata.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Dedy Yuswadi, seperti dikutip Antara, mengatakan Aceh Culinary Festival telah empat kali masuk dalam jajaran 10 besar KEN Kementerian Pariwisata.
ACF 2026 berlangsung pada 11–14 September 2026 dengan melibatkan lebih dari 100 pengusaha UMKM kuliner dari 12 kabupaten/kota.
Festival tersebut juga melibatkan lebih dari 20 komunitas dan inisiatif kreatif dari Aceh, Jakarta, dan Bali.
Hingga hari penutupan, jumlah kunjungan ACF 2026 tercatat lebih dari 11.000 orang dengan nilai transaksi mencapai lebih dari Rp1,5 miliar.
Menurut Dedy, capaian itu merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari Kementerian Pariwisata, Pemerintah Aceh, pemerintah kabupaten/kota, Kementerian Kebudayaan, komunitas, hingga para pengusaha UMKM yang terlibat dalam festival.
Penguatan storytelling diharapkan membuat kuliner Aceh tidak hanya dikenal karena rasanya, tetapi juga karena cerita, sejarah, dan identitas budaya yang melekat di balik setiap hidangan.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!