ID EN

Banjir Kepung Thailand, Ular dan Buaya Raksasa Mulai Masuk Permukiman

Minggu, 4 Oktober 2026 | 20:00

Penulis: Respaty Gilang

Ilustrasi banjitr Thailand
Ilustrasi banjir Thailand.. Foto: ChatGPT AI

Banjir yang melanda sejumlah wilayah Thailand menimbulkan persoalan lain di luar terganggunya aktivitas masyarakat dan Pariwisata. Genangan air yang meluas membuat sejumlah satwa liar keluar dari habitatnya, termasuk ular dan buaya berukuran besar.

Kemunculan reptil tersebut dilaporkan terjadi di sejumlah kawasan yang terdampak banjir. Sebagian ditemukan di sekitar permukiman, sementara lainnya terancam terbawa arus atau keluar dari tempat pemeliharaan akibat naiknya permukaan air.

Salah satu kejadian terjadi di distrik Sanam Chai Khet, Provinsi Chachoengsao. Seekor buaya dengan panjang sekitar dua meter ditemukan berkeliaran di dekat permukiman warga pada Kamis, 1 Oktober 2026.

Petugas akhirnya menembak mati buaya tersebut karena keberadaannya dianggap dapat membahayakan keselamatan masyarakat.

Kemunculan buaya juga dilaporkan warga Desa Ban Bang Phaniang 2, Kecamatan Khu Yai Mi, ketika banjir semakin meluas.

Anggota Dewan Provinsi Udon Thepwatee kemudian membagikan informasi mengenai penanganan satwa tersebut melalui akun Facebook miliknya. Operasi itu melibatkan petugas dari Kantor Polisi Sanam Chai Khet.

"Buaya itu sudah ditembak mati. Terima kasih kepada petugas kepolisian Sanam Chai Khet," tulis Udon, seperti dikutip Bangkok Post.

Pemerintah Thailand sebelumnya telah mengingatkan masyarakat untuk tidak bermain atau beraktivitas di genangan banjir. Warga juga diminta menjauhi kegiatan memancing serta saluran irigasi dan wilayah yang terendam.

Imbauan tersebut berkaitan dengan potensi munculnya satwa air maupun reptil yang terdorong meninggalkan habitatnya akibat perubahan kondisi lingkungan dan meningkatnya permukaan air.

Ancaman serupa juga terlihat di Bangkok. Hujan dengan intensitas lebih dari 300 milimeter dalam kurun 48 jam menyebabkan sejumlah wilayah ibu kota Thailand dilanda banjir cukup parah.

Di tengah kondisi tersebut, rekaman ular yang berenang mengikuti genangan hingga melintasi ruas jalan beredar di media sosial. Situasi ini menambah kewaspadaan warga yang harus beraktivitas di tengah banjir.

Bukan hanya reptil yang terdampak. Banjir juga mengancam berbagai satwa lainnya. Sebanyak 10 rusa babi berhasil diselamatkan dari Siam Amazing Park, meski beberapa ekor lainnya ditemukan mati.

Di wilayah lain, empat ekor buaya dengan panjang sekitar dua meter dilaporkan kabur dari sebuah peternakan setelah ketinggian air meningkat.

Kondisi berbeda terjadi di sebuah kuil di Provinsi Prachinburi. Seekor buaya berukuran jauh lebih besar justru berada dalam situasi yang membahayakan karena kandangnya ikut terendam banjir.

Pada Minggu (27/9), Kepala Distrik Si Maha Phot, Juthamas Buaphuean, menerima permintaan dari pengelola Wat Pho Thong untuk membantu mengevakuasi buaya tersebut.

Juthamas kemudian berkoordinasi dengan Kementerian Perikanan, relawan penyelamat dari Yayasan Ruamkatanyu, serta masyarakat sekitar untuk menjalankan proses evakuasi, sebagaimana dilaporkan The Straits Times.

Proses pemindahan dilakukan dengan mengikat bagian rahang dan kaki buaya menggunakan tali. Setelah berhasil dibawa menuju jalan, petugas menggunakan derek pada sebuah truk untuk mengangkatnya ke kendaraan pengangkut.

Buaya bernama Nuea Thong tersebut bukan satwa berukuran biasa. Reptil berusia 27 tahun itu memiliki panjang lebih dari empat meter dengan bobot mencapai lebih dari 400 kilogram.

Ketinggian air di sekitar kandangnya telah mencapai sekitar 1,3 meter. Untuk menghindari risiko buaya keluar dari area tersebut, Nuea Thong dibawa ke lokasi penampungan sementara yang berada sekitar 20 kilometer dari kuil.

Lokasi baru itu berada di kecamatan lain yang belum terdampak banjir sehingga dinilai lebih aman untuk sementara waktu.

Evakuasi tersebut disambut lega oleh kepala biara, warga, dan petugas. Mereka sebelumnya khawatir Nuea Thong dapat keluar dari kandang dan mencapai Sungai Prachin Buri apabila ketinggian air terus bertambah.

Di tengah banjir yang masih mengganggu berbagai aktivitas, pemerintah Thailand juga mengambil sejumlah langkah untuk membatasi dampaknya terhadap masyarakat.

Sejumlah sekolah terpaksa ditutup dan masyarakat diimbau menjalankan pekerjaan dari rumah. Kebijakan tersebut turut membuat kondisi jalan raya dan Transportasi Umum di Bangkok menjadi lebih lengang dari biasanya.

Situasi ini menunjukkan bahwa banjir di Thailand tidak hanya berdampak terhadap mobilitas dan aktivitas ekonomi, tetapi juga mengubah kondisi habitat satwa. Kemunculan ular dan buaya di kawasan yang dihuni manusia menjadi risiko tambahan yang harus diantisipasi selama genangan masih meluas.

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!