ID EN

Film Pulang Kampung Jadi Cara Baru Memperkenalkan Wisata dan Budaya Sumut

Kamis, 8 Oktober 2026 | 13:00

Penulis: Arif S

Peluncuran cuplikan Film Pulang Kampung
Peluncuran cuplikan Film Pulang Kampung di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Rabu 7 Oktober 2026. . Foto: Antara/Abdu Faisal

Film Musikal Pulang Kampung tidak hanya mengisahkan tentang perjalanan pulang, tetapi juga menjadikan keindahan Sumatera Utara sebagai bagian penting dari visual film. Sutradara Bene Dion Rajagukguk memanfaatkan sejumlah Destinasi Wisata ikonik untuk memperkenalkan kekayaan alam sekaligus budaya Batak kepada penonton.

Salah satu bagian menarik adalah adegan menyanyikan lagu medley. Adegan itu direkam di sejumlah lokasi wisata di Sumatera Utara dan dirancang untuk memperlihatkan karakter setiap tempat melalui perpaduan musik, lanskap, serta aktivitas masyarakat setempat.

"Kita mau tunjukkan pariwisata dan keindahan Sumatera Utara melalui adegan 'medley' ini," ujar Bene Dion Rajagukguk dalam konferensi pers peluncuran cuplikan film "Pulang Kampung" di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat.

Produser Ernest Prakasa mengatakan proses pengambilan gambar keseluruhan film menghabiskan waktu 26 hari. Rinciannya, 21 hari digunakan untuk produksi di Sumatera Utara dan lima hari lainnya di Jakarta.

Dari keseluruhan proses itu, empat hari secara khusus dialokasikan untuk merekam adegan medley dari satu lokasi ke lokasi lain sekaligus memastikan setiap destinasi dapat tampil sesuai kebutuhan cerita.

Tim produksi berusaha menjaga agar gambaran masyarakat di setiap lokasi tetap terasa alami. Produser Dipa Andika mengatakan mereka tidak menggunakan pemeran figuran karena ingin menyesuaikan karakter warga dengan kondisi demografi setempat.

Rekrutmen figuran dilakukan berdasarkan kebiasaan dan profil usia masyarakat di masing-masing lokasi. Ketika syuting berlangsung di area lapo, misalnya, tim produksi melibatkan kelompok bapak-bapak setempat.

Pendekatan berbeda diterapkan di lokasi lain. Area dengan dominasi perempuan diisi ibu-ibu dengan rentang usia 30-60 tahun. Sementara anak muda dilibatkan untuk adegan di kawasan Danau Toba dan area wisata air mancur.

"Kalau misalnya Bene melihat, 'Oh di sini biasanya dominannya ibu-ibu. Di sini kita pindah ibu-ibu, tapi umurnya mungkin 30 sampai 40 (tahun), di sana 50 (tahun), di tempat lain 60 (tahun). 'That's why' di setiap tempat kami enggak pakai 'extras' yang sama. 'Extras'-nya kami ganti di setiap tempat," kata Dipa Andika.

Konsep ini menjadikan kehadiran masyarakat lokal tidak sekadar menjadi latar belakang. Warga dari setiap lokasi ikut membantu membangun suasana yang sesuai dengan karakter tempat wisata dalam film.

Keindahan alam Sumatera Utara kemudian dipadukan dengan kekayaan musik tradisional. Komposer Viky Sianipar merancang aransemen medley untuk merangkum musik dari sejumlah rumpun etnis di Sumatera Utara, mulai dari Batak Toba, Karo, Simalungun, hingga Pakpak.

Batak Toba menjadi unsur terbesar dalam komposisi dengan porsi sekitar 80 persen. Sementara unsur etnis lainnya dimasukkan melalui struktur medley agar keberagaman budaya Sumatera Utara tetap terasa dalam satu rangkaian musik.

"Semua lengkap sih, karena pada dasarnya 80 persen ini Batak Toba ya. Tapi kenyataannya ada medlei itu yang mau menunjukkan unsur etnis," kata Viky Sianipar.

Menggabungkan musik, lokasi wisata, dan produksi berskala besar membutuhkan biaya lebih tinggi. 

Mengacu pada produksi musikal dengan standar internasional seperti Film La La Land, Viky memperkirakan anggaran Film Pulang Kampung sekitar tiga kali lipat dibanding film biasa.

"Bisa tiga kali film biasa," kata Viky Sianipar.

Film Pulang Kampung nantinya akan hadir dengan total sembilan lagu. Film ini dijadwalkan tayang serentak di seluruh jaringan bioskop Indonesia mulai 26 November 2026.

Cuplikan film yang dirilis Imajinari juga memperkenalkan empat lagu, yaitu Jamila, Pulo Samosir, Tortorhon Ma, dan Tirismo Lae Bangkuang. Tiga lagu, yaitu Jamila, Tortorhon Ma, dan Tirismo Lae Bangkuang sudah mulai dirilis melalui akun Instagram, YouTube, dan TikTok @imajinari.id.

Melalui Film Pulang Kampung, destinasi Wisata Sumatera Utara tidak hanya hadir sebagai latar cerita.

Alam, masyarakat, dan musik tradisional ditempatkan sebagai bagian dari pengalaman film, membuka cara lain untuk memperkenalkan pesona Sumatera Utara kepada penonton di berbagai daerah.***

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!