ITSMe – Kevin Rose Nasution mengenal dunia renang sejak kecil. Tumbuh dalam keluarga perenang Indonesia, ia menjalani latihan ketat, mengejar prestasi, hingga menjadi bagian dari tim nasional. Namun, perjalanan hidup membawanya keluar dari kolam kompetisi sebelum akhirnya kembali dengan peran berbeda: membimbing generasi perenang berikutnya.
Kini, Kevin aktif melatih renang di Senayan, Jakarta. Dalam wawancara bersama host ITSMe, Raisha, di Senayan, ia berbagi cerita tentang perjalanan sebagai atlet, pergulatan meninggalkan dunia renang, hingga menemukan kembali makna olahraga melalui kegiatan melatih dan berlari.
Kevin merupakan anak keempat dari lima bersaudara keluarga Nasution, putra pasangan Radja Mursinal Nasution dan istrinya. Tiga kakaknya, Elfira Rosa, Maya Masita, dan Elsa Manora, lebih dahulu menekuni renang, sebelum Kevin mengikuti jejak mereka. Adiknya, Muhammad Akbar Nasution, juga menjadi perenang nasional.
BACA JUGA
Federasi Internasional Kompak Dukung Indonesia Jadi Tuan Rumah Ajang Olahraga Dunia
Swedia Pesta Gol 5-1 Kontra Tunisia, Graham Potter Beri Sinyal Bahaya di Piala Dunia 2026
Gol Arkhan Kaka Hanya Bonus, Pelajaran Terbesar Datang dari Cara Aston Villa Bermain
Dibentuk untuk Menjadi Perenang
Kevin menceritakan bahwa ketertarikannya terhadap renang tumbuh ketika ia sering dibawa orang tuanya ke kolam untuk menemani kakak-kakaknya berlatih. Ia kemudian menekuni olahraga tersebut dengan bimbingan langsung sang ayah, yang dikenal menerapkan disiplin ketat.
Kevin mencatat salah satu pencapaian awalnya saat mewakili Provinsi Jambi dalam kejuaraan nasional antarprovinsi pada usia delapan tahun. Ia kemudian menjadi anggota tim nasional dari kelompok junior hingga senior selama sekitar enam tahun.
Namun, perjalanan menuju prestasi memiliki konsekuensi. Latihan dan kompetisi menjadi bagian besar kehidupannya sejak kecil. Sebagai anak keempat, Kevin juga menghadapi persaingan dengan kakak-kakaknya sendiri.
Meninggalkan Kolam untuk Mencari Jalan Berbeda
Pada 1998, setelah mengikuti Arafuru Games di Darwin, Australia, Kevin memutuskan mundur dari pemusatan latihan nasional. Keputusan itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Setelah bertahun-tahun menjalani latihan ketat dan mengejar prestasi, Kevin ingin mencoba kehidupan di luar kolam renang.
Ia kemudian menjajal dunia entertainment, mulai dari menjadi foto model hingga mengikuti ajang pemilihan model majalah remaja. Namun, dunia yang baru baginya itu tidak sepenuhnya memberikan kenyamanan. Setelah sekian lama hidup dalam ritme latihan dan kompetisi, Kevin berada dalam fase mencari pengalaman sekaligus menemukan jati dirinya di luar identitas sebagai atlet.
Meski sempat memilih jalan berbeda, renang tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Pengalaman yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun sebagai atlet menjadi bekal berharga ketika akhirnya kembali ke dunia tersebut, bukan lagi untuk mengejar prestasi bagi dirinya sendiri, melainkan untuk membimbing dan mengembangkan kemampuan generasi perenang berikutnya.
Kembali ke Kolam, Membagikan Pengalaman
Kevin kemudian meneruskan perjalanan keluarganya melalui Pari Sakti Swimming Club, klub yang dirintis ayahnya pada 1996. Bersama sang adik, Muhammad Akbar Nasution, ia mengambil peran dalam melanjutkan pembinaan perenang.
Kini, Kevin kembali berada di pinggir kolam sebagai pelatih di Senayan, Jakarta. Ia berbagi pengalaman kepada anak-anak yang sedang belajar renang, sekaligus mendampingi mereka mengembangkan kemampuan dan keberanian dalam olahraga.
Bagi seorang mantan atlet, pengalaman menghadapi latihan, kompetisi, dan tekanan prestasi menjadi bekal penting dalam memahami perjalanan perenang muda. Pembinaan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis, tetapi juga proses belajar, konsistensi, dan keberanian mengejar potensi diri.
Menemukan Kebahagiaan Melalui Lari
Di luar renang, Kevin kini menikmati Olahraga Lari. Bagi Kevin lari merupakan me time, aktivitas yang memberinya ruang untuk berolahraga sesuai suasana hati dan kemampuan tubuh.
Baginya, olahraga tidak harus selalu berkaitan dengan target kompetisi. Lari menjadi cara untuk menjaga kebugaran sekaligus menikmati aktivitas fisik tanpa tekanan yang sama seperti ketika ia masih menjadi atlet.
Perjalanan Kevin memperlihatkan perubahan cara pandang terhadap olahraga. Dulu, ia berjuang mengejar prestasi di dalam kolam. Kini, ia membagikan pengalaman kepada Generasi Muda dan menemukan kebahagiaan melalui aktivitas olahraga yang dijalaninya sendiri.
Dari anak yang dibentuk dengan disiplin ketat hingga menjadi pelatih, Kevin memiliki pengalaman yang dapat diteruskan kepada perenang muda. Pesan yang relevan dari perjalanannya adalah keberanian untuk bermimpi, konsistensi dalam berusaha, dan kesediaan menemukan jalan sendiri.
Kini, Kevin tidak lagi mengejar catatan waktunya sendiri, tetapi membantu anak-anak mengenal kemampuan mereka dan berani melangkah menuju cita-cita.










