Cara Menjelajahi Bali tanpa Terjebak Wisata Massal di Tengah Kelangkaan BBM
Senin, 19 Oktober 2026 | 15:03
Penulis: Respaty Gilang

Bali selama ini menjadi salah satu Destinasi Favorit wisatawan yang ingin menikmati pantai, pegunungan, budaya, hingga suasana pedesaan. Namun, perjalanan di Pulau Dewata kini menghadapi tantangan setelah antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) mengganggu mobilitas masyarakat dan wisatawan.
Gangguan distribusi bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi sejak pertengahan Oktober 2026 turut memengaruhi aktivitas pariwisata. Salah satu destinasi yang merasakan dampaknya adalah Jatiluwih di Kabupaten Tabanan. Pada 18 Oktober 2026, pengelola setempat melaporkan penurunan Kunjungan Wisatawan hingga hampir 50 persen, setelah sebelumnya berada di kisaran 30 persen.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa merencanakan liburan ke Bali tidak cukup hanya dengan menentukan destinasi yang ingin dikunjungi. Wisatawan juga perlu mempertimbangkan jarak perjalanan, kondisi lalu lintas, kebutuhan bahan bakar, serta pilihan aktivitas yang tidak mengharuskan mereka berpindah tempat berkali-kali dalam sehari.
BACA JUGA
Tips Liburan Nyaman di Bali Saat Libur Nyepi dan Idul Fitri Maret 2026
Ini Alasan Bali Masih Jadi Surga Wellness di Indonesia
Ramai Wisatawan Mancanegara, Gerbang Handara Mendadak Jadi Spot Wajib di Bali
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menyusun itinerary yang lebih efisien sekaligus menghindari kawasan yang terlalu padat. Dengan perencanaan yang tepat, pengalaman menjelajahi Bali tetap bisa menyenangkan tanpa harus mengunjungi banyak tempat dalam waktu singkat.
1. Pilih Destinasi Berdasarkan Kawasan
Salah satu kesalahan yang kerap dilakukan saat berlibur ke Bali adalah menyusun jadwal berdasarkan popularitas tempat wisata tanpa memperhitungkan jarak antarlokasi.
Sebagai contoh, wisatawan yang menginap di kawasan Ubud bisa memprioritaskan objek wisata, restoran, dan aktivitas budaya di sekitar kawasan tersebut. Sementara itu, wisatawan yang tinggal di Sanur dapat memilih pantai, tempat makan, serta aktivitas santai yang relatif mudah dijangkau dari penginapan.
Cara ini membantu mengurangi perjalanan bolak-balik yang menghabiskan waktu dan bahan bakar. Wisatawan juga memiliki kesempatan lebih banyak untuk menikmati setiap destinasi tanpa terburu-buru mengejar jadwal berikutnya.
Sebelum berangkat, periksa jarak antarlokasi melalui aplikasi navigasi dan pantau kondisi lalu lintas terkini. Waktu tempuh di Bali dapat berubah karena kepadatan kendaraan, antrean SPBU, maupun aktivitas masyarakat di sepanjang jalan.
2. Pertimbangkan Wisata di Sekitar Penginapan
Ketika mobilitas menjadi tantangan, menjelajahi kawasan di sekitar penginapan bisa menjadi alternatif yang menarik. Wisatawan tidak harus selalu pergi jauh untuk mendapatkan pengalaman liburan yang berkesan.
Jika menginap di kawasan pesisir, misalnya, wisatawan dapat menikmati suasana pantai, mencoba kuliner lokal, atau berjalan santai di area yang memungkinkan aktivitas tersebut dilakukan dengan aman.
Sementara itu, pengunjung yang memilih kawasan Ubud dapat mengeksplorasi galeri seni, pasar lokal, tempat makan, dan Pengalaman Budaya di sekitarnya. Pilihan aktivitas tentu perlu disesuaikan dengan lokasi penginapan, jam operasional, serta kondisi lalu lintas.
Selain menghemat waktu perjalanan, cara ini juga memberikan kesempatan untuk mengenal kehidupan lokal dengan lebih dekat. Wisatawan dapat menikmati Bali secara lebih santai tanpa harus berpindah dari satu objek wisata populer ke objek lainnya.
3. Cari Pengalaman Wisata di Luar destinasi populer
Bali memiliki banyak pilihan wisata yang tidak selalu identik dengan pantai populer atau kawasan yang ramai dikunjungi wisatawan. Desa wisata, kawasan persawahan, sentra kerajinan, hingga aktivitas budaya dapat menjadi alternatif bagi pelancong yang ingin mendapatkan pengalaman berbeda.
Jatiluwih di Tabanan, misalnya, dikenal dengan lanskap persawahan yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut. Namun, wisatawan yang berencana berkunjung sebaiknya terlebih dahulu memastikan kondisi perjalanan dan ketersediaan transportasi sebelum berangkat.
Gangguan BBM yang berdampak pada kunjungan ke Jatiluwih menunjukkan pentingnya mempertimbangkan aksesibilitas saat memilih destinasi. Pada 17 Oktober 2026, pengelola melaporkan bahwa jumlah kunjungan mulai menurun seiring munculnya antrean di SPBU.
Karena itu, memilih Destinasi Alternatif bukan berarti harus mencari tempat yang benar-benar terpencil. Prioritaskan lokasi yang bisa dijangkau secara efisien, memiliki akses transportasi yang jelas, serta sesuai dengan kebutuhan perjalanan.
4. Susun Itinerary Fleksibel dan Jangan Terlalu Padat
Perjalanan yang dipenuhi banyak agenda berisiko membuat wisatawan kesulitan menyesuaikan diri ketika kondisi di lapangan berubah. Hal ini semakin penting ketika antrean BBM dan kepadatan lalu lintas berpotensi mengubah waktu tempuh.
Alih-alih mengunjungi lima atau enam tempat dalam sehari, wisatawan dapat memilih dua atau tiga aktivitas utama yang lokasinya berdekatan. Sisakan waktu tambahan untuk perjalanan, makan, beristirahat, dan menghadapi kemungkinan keterlambatan.
Wisatawan juga sebaiknya menyiapkan destinasi cadangan yang tidak terlalu jauh dari rencana awal. Jika perjalanan ke suatu lokasi terkendala, agenda dapat dialihkan tanpa harus menempuh perjalanan panjang menuju tempat lain.
Fleksibilitas seperti ini membantu menjaga kenyamanan liburan sekaligus mengurangi tekanan untuk mengejar seluruh agenda yang sudah direncanakan.
5. Gunakan Transportasi Secara Bijak
Antrean BBM dapat memengaruhi operasional kendaraan wisata dan jadwal penjemputan tamu. Sejumlah pelaku usaha perjalanan di Bali bahkan melaporkan gangguan layanan akibat waktu yang tersita untuk mencari dan mengantre bahan bakar.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, wisatawan perlu mengonfirmasi jadwal penjemputan, ketersediaan kendaraan, dan rencana perjalanan dengan penyedia transportasi sebelum memulai aktivitas.
Jika memungkinkan, pilih transportasi yang sesuai dengan kebutuhan rombongan dan susun perjalanan berdasarkan lokasi yang berdekatan. Wisatawan juga dapat menanyakan opsi perjalanan alternatif kepada pengelola penginapan atau agen perjalanan yang memahami situasi setempat.
Hindari berangkat dengan asumsi bahwa seluruh SPBU memiliki pasokan dan kondisi antrean yang sama. Periksa informasi terbaru sebelum bepergian dan jangan mengandalkan satu titik pengisian bahan bakar tanpa rencana cadangan.
Bagi wisatawan yang menyewa kendaraan sendiri, pastikan bahan bakar mencukupi untuk perjalanan yang direncanakan, tanpa melakukan pembelian berlebihan atau penimbunan.
6. Manfaatkan Informasi Lokal Sebelum Berangkat
Informasi mengenai kondisi jalan, antrean SPBU, dan operasional destinasi dapat berubah dari waktu ke waktu. Karena itu, wisatawan sebaiknya memeriksa perkembangan terbaru sebelum memulai perjalanan.
Hubungi pihak hotel, pengelola objek wisata, atau agen perjalanan untuk memastikan apakah lokasi tujuan dapat diakses sesuai jadwal. Aplikasi navigasi juga dapat membantu memantau kepadatan lalu lintas, meskipun informasi tersebut tetap perlu dilengkapi dengan konfirmasi dari sumber lokal.
Wisatawan dapat memantau pengumuman resmi pemerintah daerah dan Pertamina terkait distribusi BBM. Pada 16 Oktober 2026, Gubernur Bali Wayan Koster menyatakan bahwa pemerintah daerah bersama Pertamina tengah memprioritaskan kelancaran distribusi dan pelayanan BBM di tengah antrean yang terjadi.
Informasi semacam ini membantu pelancong membuat keputusan berdasarkan situasi terbaru, bukan hanya mengandalkan kabar yang beredar di media sosial.
7. Nikmati Bali dengan Tempo yang Lebih Santai
Liburan tidak harus diukur dari berapa banyak tempat yang berhasil dikunjungi. Menikmati matahari terbit, mencicipi makanan khas, berinteraksi dengan masyarakat lokal, atau menghabiskan waktu lebih lama di satu kawasan juga dapat menjadi pengalaman yang berkesan.
Di tengah tantangan mobilitas, wisatawan bisa menjadikan perjalanan ini sebagai kesempatan untuk menerapkan konsep slow travel, yakni menjelajahi destinasi dengan tempo lebih santai dan memberikan perhatian lebih pada pengalaman selama perjalanan.
Pendekatan ini bukan hanya membantu mengurangi perpindahan antarlokasi, tetapi juga membuka peluang bagi wisatawan untuk menikmati sisi Bali yang mungkin terlewat ketika terlalu sibuk mengejar banyak destinasi.
Meski demikian, wisatawan tetap perlu menyesuaikan rencana dengan kondisi aktual. Jika akses menuju suatu lokasi terganggu atau transportasi belum tersedia, memilih aktivitas di sekitar penginapan dapat menjadi keputusan yang lebih bijak.
Pada akhirnya, menjelajahi Bali tanpa terjebak wisata massal bukan sekadar mencari tempat yang sepi. Perjalanan yang nyaman juga bergantung pada kemampuan memilih destinasi secara cermat, mengatur waktu, dan menyesuaikan agenda dengan keadaan.
Di tengah gangguan distribusi BBM yang dilaporkan pada Oktober 2026, perencanaan yang fleksibel dapat membantu wisatawan menikmati liburan secara lebih efisien sekaligus mendukung pelaku usaha lokal yang menggantungkan pendapatan pada sektor pariwisata.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!