Wisatawan China ke Indonesia Tumbuh 15,6 Persen, Promosi Wisata Tak Hanya Bali
Jumat, 23 Oktober 2026 | 15:53
Penulis: Arif S

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menangkap peluang dari kebijakan bebas visa China bagi warga negara asing dengan memperkuat promosi Destinasi Wisata Indonesia di pasar negeri tirai bambu. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan minat wisatawan China untuk berlibur ke Indonesia, sekaligus memperluas pilihan destinasi di luar Bali.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengatakan, pemerintah Indonesia menggandeng pelaku industri pariwisata untuk memperluas jangkauan promosi. Kolaborasi ini melibatkan platform perjalanan digital, maskapai penerbangan, dan mitra pariwisata dari kedua negara.
"Kemenpar terus memperkuat promosi di pasar Tiongkok," ujar Ni Luh kepada Xinhua, Kamis 22 September 2026.
BACA JUGA
Rute Shenzhen-Jakarta Dibuka Lagi, Kunjungan Turis Tiongkok Diharapkan Meningkat
Tren Disposable Clothing di Kalangan Turis China, Murah untuk Liburan tapi Jadi Polemik
Erupsi Gunung Anak Krakatau, Ini Langkah Kemenpar Lindungi Wisatawan dan Destinasi
Sejumlah platform perjalanan digital yang menjadi mitra promosi antara lain Ctrip, Qunar, dan Tuniu. Kemenpar bekerja sama dengan maskapai China Southern Airlines dan Xiamen Airlines untuk mendukung konektivitas serta mempermudah wisatawan merencanakan perjalanan ke Indonesia.
Kolaborasi ini menjadi penting karena keputusan berwisata tidak hanya dipengaruhi daya tarik destinasi, tetapi juga kemudahan mencari informasi, memesan perjalanan, dan memperoleh akses penerbangan.
Melalui kerja sama dengan platform digital dan industri penerbangan, promosi Indonesia diharapkan dapat menjangkau calon wisatawan China secara lebih luas.
Peluang Wisata dari Kebijakan Bebas Visa China
Kebijakan bebas visa China bagi warga negara asing sejak Agustus 2026 membuka peluang baru bagi perjalanan internasional. Selain itu, skema bebas visa regional bagi rombongan wisatawan dari negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, dinilai dapat memperkuat hubungan antarmasyarakat kedua negara.
Bagi industri pariwisata, kemudahan perjalanan dapat mendorong lebih banyak wisatawan untuk menjelajahi destinasi di luar negara asalnya. Namun, peluang itu perlu didukung akses transportasi, informasi wisata mudah dipahami, serta produk perjalanan sesuai dengan kebutuhan pasar.
Indonesia turut memperkuat kemudahan transaksi bagi wisatawan melalui penerapan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) Antarnegara Indonesia-China yang sudah diberlakukan pada 30 April 2026. Sistem pembayaran ini diharapkan membantu wisatawan melakukan transaksi selama perjalanan dengan lebih praktis.
Kemudahan pembayaran menjadi salah satu bagian penting dari pengalaman wisata, terutama ketika wisatawan ingin berbelanja, menikmati kuliner lokal, atau menggunakan layanan di destinasi yang dikunjungi.
Dengan dukungan promosi, konektivitas penerbangan, dan sistem pembayaran, Indonesia berupaya menciptakan Pengalaman Perjalanan yang semakin mudah bagi wisatawan China.
Kapasitas Penerbangan Langsung China-Indonesia Capai 1,9 Juta Kursi
Konektivitas udara menjadi faktor pendukung dalam meningkatkan kunjungan wisatawan. Berdasarkan data Amadeus yang dikutip Kemenpar, kapasitas penerbangan langsung dari berbagai kota di China menuju Indonesia mencapai sekitar 1,9 juta kursi hingga Oktober 2026.
Ketersediaan kapasitas itu memberikan peluang bagi pengembangan perjalanan wisata kedua negara. Pergerakan wisatawan yang semakin aktif berpotensi mendorong penambahan rute dan frekuensi penerbangan langsung.
Ni Luh menilai hubungan perjalanan dua arah dapat memberikan manfaat bagi industri pariwisata Indonesia. Akses penerbangan lebih luas akan membantu wisatawan merencanakan perjalanan, sekaligus membuka kesempatan bagi lebih banyak destinasi untuk menarik pasar China.
Pasar itu berperan dalam mendukung kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia. Karena itu, Kemenpar berupaya memanfaatkan konektivitas udara dan kerja sama industri untuk memperluas jangkauan promosi.
"China adalah salah satu pasar utama kami. Pada Agustus 2026, wisatawan China menjadi penyumbang kunjungan terbesar ketiga dengan sekitar 162,6 ribu kunjungan, tumbuh sekitar 15,6 persen dibandingkan Agustus 2025," ungkap Ni Luh.
Promosi Wisata Indonesia Tak Hanya Bali
Selama ini, Bali menjadi salah satu destinasi Indonesia yang dikenal luas di kalangan wisatawan China. Namun, Kemenpar ingin memperluas pilihan perjalanan dengan memperkenalkan berbagai daerah dengan potensi wisata bahari, alam, budaya, dan kebugaran atau wellness.
Wisata bahari dapat menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin menikmati pantai, kehidupan bawah laut, dan aktivitas di kawasan pesisir. Sementara itu, destinasi alam menawarkan pengalaman menjelajahi lanskap pegunungan, hutan, dan kawasan konservasi.
Indonesia juga memiliki beragam atraksi budaya, mulai dari tradisi lokal hingga seni dan kuliner daerah. Di sisi lain, wisata wellness membuka peluang untuk memperkenalkan pengalaman relaksasi, perawatan tubuh, dan kegiatan yang mendukung kebugaran selama berlibur.
Diversifikasi destinasi dapat membantu memperluas manfaat pariwisata ke berbagai daerah. Strategi ini juga memberikan alternatif bagi wisatawan yang ingin mencoba pengalaman berbeda setelah mengunjungi destinasi populer.***











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!