Persija Jakarta merespons kekalahan dari Persita Tangerang dengan kemenangan 5-1 atas Arema FC pada pekan keenam BRI Super League 2026/2027 di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Rabu (21/10/2026). Hasil ini memperlihatkan ketajaman lini depan Macan Kemayoran di bawah Shin Tae-yong (STY). Namun, kemenangan besar tersebut belum otomatis membuktikan bahwa seluruh persoalan taktik Persija telah teratasi.
Persija menguasai 67 persen bola, melepaskan 17 tembakan, dan mencatat delapan tembakan tepat sasaran. Sebaliknya, Arema hanya menghasilkan tiga tembakan, dengan dua di antaranya mengarah ke gawang. Persija juga unggul dalam tendangan sudut, delapan berbanding empat.
Statistik tersebut menunjukkan kemampuan Persija mengendalikan permainan dan menjaga tekanan di wilayah pertahanan lawan.
BACA JUGA
Persija Pesta Gol! Tekuk Arema 5-1, Macan Kemayoran Rebut Puncak Klasemen
Drama 5 Gol! Persita Hentikan Rekor Sempurna Persija Lewat Gol Menit Akhir
Persija Belum Pikirkan Persib, Mauricio Souza Tegaskan Fokus Penuh ke Persijap Jepara
Dominasi dan Efektivitas Serangan
Alexander Jeremejeff menjadi pembeda lewat dua gol pada menit ke-10 dan ke-45.
Pada babak kedua, Stjepan Loncar menambah keunggulan pada menit ke-76, disusul gol bunuh diri Walisson Maia pada menit ke-80. Ivan Mamut melengkapi kemenangan pada menit ke-90+2, sementara Arema membalas melalui Gabriel Silva.
Persija tidak bergantung pada ketajaman Alexander Jeremejeff semata. Kontribusi Stjepan Loncar dan Ivan Mamut menunjukkan bahwa ancaman Macan Kemayoran tetap terjaga hingga babak kedua dan melibatkan pemain dari lini berbeda.
Tantangan Shin Tae-yong kini adalah mempertahankan agresivitas tersebut sembari memastikan koordinasi antarlini dan disiplin pertahanan tetap solid, terutama ketika menghadapi lawan yang mampu mengeksploitasi ruang melalui serangan balik.
Kekalahan dari Persita Menjadi Pelajaran
Kekalahan 2-3 dari Persita pada pekan sebelumnya menjadi pengingat bahwa agresivitas harus disertai keseimbangan. Persija kebobolan pada masa injury time melalui Aleksa Andrejic, memperlihatkan pentingnya menjaga konsentrasi hingga laga berakhir.
Persita mampu memanfaatkan pemain seperti Rayco Rodriguez untuk menahan bola dan memberi waktu kepada rekan setim membangun serangan. Ketika tekanan pertama Persija berhasil dilewati, ruang di belakang pemain yang naik menekan berpotensi terbuka.
Berbeda dari Persita, Arema kesulitan mengimbangi pergerakan Persija dan hanya mencatat tiga tembakan sepanjang pertandingan. Karena itu, perbedaan hasil kedua laga tidak semata-mata menunjukkan perubahan kualitas permainan Persija, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan lawan mengeksploitasi ruang.
Sistem STY dan Pekerjaan Rumah Persija
Dalam pembahasan taktik, Pengamat Sepak Bola Sapto Haryo Rajasa menyoroti kombinasi mid block dan penjagaan man-to-man yang digunakan Persija untuk menjebak lawan. Strategi ini dapat membantu tim merebut bola dan melancarkan serangan dengan cepat.
Namun, sistem tersebut berisiko ketika lawan mampu melewati tekanan pertama. Pemain di lini belakang dan tengah harus bergerak terkoordinasi untuk menutup ruang serta mengantisipasi serangan balik. Agresivitas baru benar-benar efektif jika diikuti perlindungan yang memadai saat kehilangan bola.
Kedalaman skuad juga menjadi modal Persija. Ketajaman Jeremejeff dan kontribusi pemain pengganti seperti Mamut memperlihatkan adanya pilihan untuk menjaga ancaman serangan. Akan tetapi, rotasi harus tetap mempertahankan koordinasi antarlini dan disiplin pertahanan.
Analisis mengenai kemenangan Persija ini juga menjadi bahasan Podcast ITSMe bersama Pengamat Sepak Bola Erwin Fitriansyah dan Sapto Haryo Rajasa, dipandu Gilang Respaty dan Pudila di Studio Sentul, Bogor, pada 23 Oktober 2026. Pembahasan menyoroti strategi Shin Tae-yong, ketajaman lini depan, serta pekerjaan rumah Persija dan Arema setelah pertandingan.
Konsistensi Menjadi Ukuran Berikutnya
Laga berikutnya melawan Persik Kediri menjadi kesempatan bagi Persija untuk membuktikan bahwa mereka mampu mempertahankan agresivitas sekaligus memperbaiki antisipasi terhadap serangan balik.
Kemenangan 5-1 menegaskan potensi serangan Persija, tetapi tantangan STY bukan sekadar mengulang pesta gol. Persija perlu menjaga keseimbangan permainan dari pekan ke pekan. Sementara itu, Arema harus mengevaluasi kemampuan menghadapi tekanan dan menjaga pertahanan ketika lawan meningkatkan intensitas serangan.
Dalam persaingan BRI Super League 2026/2027, konsistensi taktik dan kemampuan beradaptasi terhadap karakter lawan akan menjadi ukuran penting bagi ambisi Persija bersaing di papan atas.










