Dieng Culture Festival 2026, Tradisi Ruwatan hingga Jazz Atas Awan Gerakkan Ekonomi Warga
Rabu, 26 Agustus 2026 | 15:04
Penulis: Arif S

Dataran Tinggi Dieng kembali bersiap menjadi panggung perayaan budaya, alam, dan kehidupan masyarakat lokal. Dieng Culture Festival (DCF) 2026 akan digelar pada 28-30 Agustus 2026 di Desa Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, dengan rangkaian acara memadukan tradisi khas Dieng, pertunjukan seni, musik, kopi, hingga geliat UMKM.
Bukan sekadar festival, DCF 2026 diharapkan menjadi penggerak ekonomi masyarakat melalui pengembangan pariwisata berbasis komunitas.
Kemeriahan tahunan di kawasan dataran tinggi ini dirancang agar manfaatnya tidak hanya dirasakan wisatawan, tetapi juga warga yang menjalankan usaha di sekitar Dieng.
BACA JUGA
Embun Upas Dieng Jadi Daya Tarik Wisata, Kunjungan Wisatawan Meningkat
Kawah Sikidang di Kawasan Dieng Dipadati Wisatawan Saat Libur HUT Ke-81 Kemerdekaan RI
Jateng Menata Wisata Ramah Muslim, dari Tawangmangu hingga Ekosistem Halal
Koordinator Umum DCF, Alif Faozi, mengatakan festival dibangun melalui kolaborasi banyak pihak, mulai dari masyarakat hingga pelaku usaha.
"Festival kami adalah festival gotong royong yang melibatkan masyarakat, sivitas akademika, media, pemerintah, hingga para pelaku usaha atau bisnis," ujarnya.
Semangat gotong royong itu menjadi salah satu kekuatan utama DCF. Festival ini tumbuh dari masyarakat dan terus berkembang menjadi salah satu agenda budaya yang paling dinantikan di Jawa Tengah.
Penginapan Dieng Hampir Penuh
Antusiasme wisatawan terhadap Dieng Culture Festival 2026 sudah terlihat bahkan sebelum acara dimulai. Tingkat keterisian penginapan di kawasan Dieng menjelang festival disebut telah mencapai sekitar 95 persen.
Tingginya permintaan akomodasi menjadi sinyal kuat wisatawan kembali menjadikan DCF sebagai agenda perjalanan pada akhir Agustus. Bagi masyarakat lokal, lonjakan kunjungan ini juga membuka peluang ekonomi yang semakin luas.
"Kalau penginapan terinformasi mungkin sudah 95 persen. Kalaupun ada yang masih kosong mungkin satu-dua, bahkan saya juga kesulitan ketika beberapa teman mencari penginapan," katanya.
Menariknya, permintaan penginapan tidak hanya terkonsentrasi di Desa Dieng Kulon. Wisatawan mulai mencari tempat menginap di Desa Karangtengah dan sejumlah kawasan lain di sekitar Dataran Tinggi Dieng, Kecamatan Batur, Banjarnegara.
Pilihan akomodasi bahkan meluas hingga Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Situasi itu menunjukkan bagaimana sebuah festival mampu memberikan dampak ekonomi yang menjangkau kawasan lebih luas.
UMKM, Kopi, dan Jazz di Atas Awan
Kemeriahan DCF 2026 tidak hanya bertumpu pada ritual budaya. Festival ini juga menghadirkan berbagai kegiatan yang memberi ruang bagi pelaku usaha lokal.
Ekspo UMKM akan digelar di Venue Arjuna sebagai tempat promosi dan pemasaran produk-produk masyarakat. Wisatawan dapat menemukan berbagai produk lokal sekaligus menjadi bagian dari perputaran ekonomi selama festival berlangsung.
Sementara itu, Venue Gatotkaca akan menjadi lokasi Festival Kopi Dieng dan Jazz Atas Awan Showcase. Kombinasi kopi dari kawasan pegunungan dan pertunjukan musik menjadi pengalaman tersendiri bagi wisatawan yang datang ke Dieng.
Agenda itu diharapkan tidak hanya memperkuat citra Dieng sebagai destinasi budaya dan alam, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal, khususnya kopi.
Ruwatan Anak Berambut Gimbal Jadi Puncak Tradisi
Salah satu agenda paling dinantikan dalam Dieng Culture Festival adalah Ruwatan Anak Berambut Gimbal.
Ritual khas identitas budaya Dieng ini akan digelar di kompleks Candi Arjuna pada 29 Agustus 2026. Untuk sementara, sebanyak 13 anak dari berbagai wilayah kawasan Dieng, baik dari Banjarnegara, Wonosobo, maupun Batang, dipastikan mengikuti ritual tersebut.
Alif mengatakan jumlah pendaftar sebenarnya jauh lebih banyak. Proses kurasi dilakukan sebelum menentukan anak-anak yang akan mengikuti rangkaian ruwatan.
“Ada lebih dari 40 anak berambut gimbal yang mendaftar untuk mengikuti ritual tersebut. Setelah melalui proses kurasi, terdapat 30 anak, dan hasil penjaringan sementara hingga saat ini ada 13 anak yang dipastikan mengikuti ritual serta difasilitasi berbagai permintaannya,” kata Alif.
Bagi wisatawan, ritual ruwatan menjadi salah satu momen paling unik untuk melihat tradisi Dieng dari dekat.
Di tengah suasana sejuk dataran tinggi dan lanskap pegunungan, ritual itu menghadirkan perpaduan nilai budaya, kepercayaan, dan identitas masyarakat setempat.
DCF dan Perputaran Ekonomi Masyarakat
Pemerintah Kabupaten Banjarnegara melihat DCF sebagai salah satu kekuatan penting untuk menggerakkan ekonomi lokal.
Bupati Banjarnegara Amalia Desiana mengatakan pemerintah daerah terus mendukung penyelenggaraan festival, terutama karena manfaatnya dirasakan langsung masyarakat Desa Dieng Kulon dan kawasan sekitarnya.
Menurutnya, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Pandawa telah mengembangkan DCF selama 16 tahun sebagai industri wisata berbasis komunitas.
Dampak ekonominya pun tidak kecil.
“Laporan Bank Indonesia pada 2025 mencatat perputaran uang di kawasan Dataran Tinggi Dieng selama festival mencapai lebih dari Rp40 miliar, meskipun wisatawan rata-rata hanya menginap satu malam,” katanya.
Angka itu memperlihatkan besarnya kekuatan sebuah festival ketika budaya, masyarakat, dan pariwisata berjalan dalam satu ekosistem.
DCF 2026 diharapkan kembali membawa denyut ekonomi ke penginapan, warung makan, transportasi lokal, penjual oleh-oleh, petani, pelaku UMKM, hingga berbagai usaha masyarakat di sekitar kawasan Dieng.
Selama tiga hari, Dieng tidak hanya menawarkan udara dingin dan pemandangan pegunungan. Kawasan ini akan berubah menjadi ruang perjumpaan antara tradisi, musik, kopi, UMKM, dan masyarakat yang menjadi jantung dari festival itu sendiri.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!