Aktivitas Pariwisata Labuan Bajo Pascagempa, Kunjungan Wisatawan Relatif Terjaga
Sabtu, 29 Agustus 2026 | 15:00
Penulis: Arif S

Aktivitas pariwisata di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur tetap berjalan setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Flores. Arus kunjungan wisatawan relatif terjaga dan menjadi sinyal positif bagi proses pemulihan sektor pariwisata di kawasan itu.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana bertemu Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat serta pelaku industri dan asosiasi pariwisata di Labuan Bajo untuk membahas kondisi sektor pariwisata setelah gempa sekaligus merumuskan langkah pemulihan.
Pertemuan melibatkan pemerintah daerah, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA), asosiasi pelaku wisata bahari, pramuwisata, kelompok usaha, serta pemangku kepentingan lainnya.
BACA JUGA
Labuan Bajo Tak Hanya Komodo, Kemenpar Dorong Pengembangan Daya Tarik Wisata Baru
Labuan Bajo dan Tantangan Menjaga Habitat Komodo di Tengah Lonjakan Wisatawan
Robert De Niro Jadi Alasan Michelle Monaghan Kembali ke Indonesia untuk Melihat Komodo
Berdasarkan laporan Bupati Manggarai Barat per 28 Agustus 2026, aktivitas pelayaran wisata di Labuan Bajo tetap berlangsung. Sejak 15 Agustus 2026 tercatat 2.854 keberangkatan kapal dan 32.692 pergerakan wisatawan.
Arus penerbangan domestik maupun internasional di Labuan Bajo juga relatif stabil.
Taman Nasional Komodo dan Pulau Padar Kembali Dibuka
Sejumlah destinasi wisata utama yang sebelumnya sempat ditutup sementara untuk kepentingan asesmen keselamatan telah Kembali beroperasi.
Taman Nasional Komodo dan Pulau Padar telah kembali dibuka. Sejumlah atraksi wisata darat di kawasan Labuan Bajo juga tetap berjalan.
Widiyanti menilai kondisi aktual perlu disampaikan kepada masyarakat secara akurat agar wisatawan mendapatkan gambaran jelas sebelum melakukan perjalanan.
“Keselamatan wisatawan dan masyarakat tetap menjadi prioritas. Karena itu, informasi harus berbasis data yang sama, diperbarui secara cepat, dan disampaikan secara konsisten agar wisatawan dapat mengambil keputusan berdasarkan kondisi yang benar-benar terjadi di lapangan,” ujar Menpar.
BPOLBF Pantau Destinasi dan Industri Pariwisata
Kementerian Pariwisata melalui Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) terus melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah serta kementerian dan lembaga terkait.
Pemantauan dilakukan terhadap berbagai komponen ekosistem pariwisata, mulai dari daya tarik wisata, hotel dan akomodasi, restoran, fasilitas pendukung, hingga aksesibilitas.
BPOLBF juga mendukung penyampaian informasi kepada wisatawan, memberikan pendampingan, serta membantu proses penyaluran bantuan di kawasan terdampak.
Langkah itu dilakukan agar proses pemulihan tidak hanya berfokus pada destinasi, tetapi juga memperhatikan keberlangsungan pelaku usaha dan masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari sektor pariwisata.
Pemulihan Tak Hanya Bangunan
Bagi Kementerian Pariwisata, ukuran keberhasilan pemulihan tidak cukup hanya dilihat dari kembali berfungsinya fasilitas atau destinasi wisata.
Pemulihan harus menyentuh seluruh mata rantai pariwisata, termasuk kapal wisata, pemandu, hotel, restoran, desa wisata, hingga UMKM.
Widiyanti mengatakan proses itu perlu disusun berdasarkan tingkat kerusakan, kesiapan destinasi dan pelaku usaha untuk beroperasi kembali, serta tingkat ketergantungan masyarakat terhadap aktivitas pariwisata.
“Kementerian Pariwisata hadir di Labuan Bajo dengan fokus pada pemulihan dan keberlanjutan sektor pariwisata. Hari ini saya bertemu langsung dengan pemerintah daerah, industri, asosiasi, serta para pemangku kepentingan pariwisata. Yang paling penting, saya datang ke sini untuk mendengar langsung kondisi, tantangan, dan kebutuhan mereka pascabencana,” kata Menpar.
Pemerintah menyiapkan empat fokus utama dalam proses pemulihan pariwisata Flores.
Pertama, memastikan keselamatan dan membangun komunikasi publik berbasis data aktual dan konsisten. Kedua, memulihkan destinasi, industri pariwisata, dan ekonomi masyarakat.
Ketiga, mengembalikan kepercayaan pasar sekaligus melakukan reaktivasi pariwisata secara bertahap. Keempat, memperkuat ketangguhan destinasi menghadapi risiko bencana di masa depan.
Pendekatan itu diperlukan agar proses pemulihan tidak terburu-buru tetapi tetap memberikan kepastian bagi pelaku industri dan wisatawan.
Momentum Memperkuat Mitigasi Bencana
Gempa menjadi pengingat, destinasi wisata di kawasan rawan bencana perlu memiliki sistem mitigasi yang kuat.
Karena itu, pemerintah menjadikan proses pemulihan sebagai kesempatan untuk meningkatkan standar kesiapsiagaan, bukan sekadar mengembalikan kondisi seperti sebelum bencana.
“Pemulihan tidak berhenti pada perbaikan kerusakan fisik. Momentum ini harus kita gunakan untuk memperkuat manajemen risiko bencana, SOP tanggap darurat, jalur dan titik evakuasi, sistem komunikasi, hingga kesiapan seluruh pelaku pariwisata menghadapi kondisi darurat,” pungkasnya.***











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!