ID EN

Tren Disposable Clothing di Kalangan Turis China, Murah untuk Liburan tapi Jadi Polemik

Kamis, 1 Oktober 2026 | 15:30

Penulis: Arif S

Turis China
Ilustrasi - Tren baru di kalangan turis China.. Foto: Envato

Liburan bagi sebagian turis China tidak hanya soal destinasi, tetapi juga penampilan selama berada di lokasi wisata. Pakaian murah khusus perjalanan atau Disposable Clothing menjadi tren, dengan sebagian wisatawan memilih membuang bahkan menjual kembali pakaian yang dikenakan setelah pulang.

Fenomena ini mulai ramai di kalangan pengguna internet China sejak musim panas 2026. Tagar terkait tren itu bahkan telah mencatat 6,8 juta tayangan dan 135 ribu diskusi di salah satu platform media sosial.

Bagi sebagian wisatawan, membeli pakaian khusus untuk satu kali perjalanan dianggap lebih praktis daripada membawa banyak pakaian dari rumah. Seorang perempuan mengaku membeli lima set pakaian untuk perjalanan selama tujuh hari dengan total pengeluaran tidak lebih dari 200 yuan atau sekitar Rp530 ribu.

Sejak awal, ia memang tidak berencana menyimpan pakaian itu setelah liburan berakhir. Pakaian itu dipilih untuk memenuhi kebutuhan selama perjalanan sekaligus menunjang penampilan saat berfoto di berbagai destinasi.

Model disposable clothing biasanya dirancang agar terlihat menarik di depan kamera. Pilihannya beragam, mulai dari rok panjang berwarna mencolok, jubah, jaket untuk aktivitas luar ruangan, hingga pakaian tradisional sesuai karakter destinasi.

Seorang pemilik toko pakaian perempuan kepada media China, City Express, mengatakan tokonya menyediakan berbagai jenis pakaian khusus wisatawan. 

Koleksinya ANTARA lain rok untuk berfoto di pantai, pakaian tradisional hanfu untuk Festival Perahu Naga, hingga rok bergaya eksotis bagi wisatawan yang berkunjung ke Xinjiang.

Bisnis ini berkembang cepat karena besarnya minat. Pemilik toko mengaku menjual sekitar 15 ribu potong pakaian setiap bulan. Konsumen utamanya berasal dari kelompok usia 18-30 tahun.

Harga menjadi salah satu alasan tren itu mudah diterima. Pakaian paling banyak diminati dibanderol sekitar 10-50 yuan atau Rp26 ribu-Rp133 ribu per potong. Nominal itu setara dengan satu kali makan sederhana.

Setelah perjalanan selesai, siklus pakaian biasanya ikut berakhir. Sebagian wisatawan membuangnya, sementara lainnya mencoba menjual kembali melalui platform e-commerce barang bekas.

Cara itu mendapat respons positif dari wisatawan yang ingin tampil berbeda di setiap destinasi tanpa perlu mengeluarkan banyak uang. Namun, tren ini juga memicu kritik karena pakaian berumur sangat pendek dapat menambah persoalan limbah tekstil.

Persoalan menjadi lebih besar ketika dikaitkan dengan skala industri tekstil global. Menurut Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), dunia menghasilkan sekitar 92 juta ton limbah tekstil setiap tahun. 

Produksi tekstil meningkat dua kali lipat pada 2000-2015, sementara masa pakai tekstil justru turun 36 persen.

Tantangannya tidak hanya pada jumlah pakaian yang dibuang. Hanya sekitar 8 persen serat tekstil yang digunakan pada 2023 berasal dari bahan daur ulang, sedangkan produk pakaian dan tekstil menyumbang sekitar 11 persen sampah plastik.

Karena pakaian murah untuk kebutuhan sesaat umumnya menggunakan bahan berbasis plastik, kebiasaan membeli untuk satu kali pakai kemudian membuangnya berpotensi memperbesar beban lingkungan. 

Semakin pendek usia sebuah pakaian, semakin cepat pula produk berubah dari barang konsumsi menjadi limbah.

Kualitas material juga menjadi perhatian. Pakaian dengan bahan berkualitas rendah dapat menimbulkan pertanyaan tentang keamanan pemakaian, terutama ketika konsumen tidak mengetahui secara jelas bagaimana produk dibuat dan diproses.

Direktur Pusat Riset Industri Budaya Sichuan University, Profesor Cai Shangwei menyoroti aspek kebersihan ketika pakaian disposable kembali masuk ke pasar melalui platform barang bekas. Menurutnya, hal itu perlu diperhatikan karena pakaian sudah pernah digunakan sebelumnya.

Kritik terhadap tren itu kemudian bermunculan di media sosial. Sebagian warganet mempertanyakan apakah pengalaman bepergian harus selalu dikaitkan dengan kebutuhan menghasilkan foto berbeda untuk setiap destinasi?

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!