ID EN

Richard Bland Bongkar Ketidakpastian LIV Golf, Pemain Jadi Penentu Masa Depan

Kamis, 1 Oktober 2026 | 17:00

Penulis: Arif S

Turnamen golf
Ilustrasi - Turnamen golf.. Foto: Envato

Masa depan LIV Golf masih berada dalam bayang-bayang ketidakpastian. Richard Bland, salah satu pemain awal LIV Golf menilai keberlangsungan proyek baru bukan hanya ditentukan ketersediaan dana, tetapi juga kesediaan para pemain untuk tetap bertahan.

LIV sebelumnya mengajukan perlindungan dari kebangkrutan pada awal September. Dalam proses itu, sedikitnya 45 juta dolar AS masih harus dibayarkan kepada para pemain.

Ketidakpastian itu muncul setelah Saudi Public Investment Fund (PIF) disebut akan mengakhiri dukungan finansial bernilai miliaran dolar AS kepada LIV pada akhir musim. 

Pada Agustus 2026, LIV mengumumkan telah mendapatkan investor utama baru yang identitasnya belum dipublikasikan untuk menjaga liga tetap berjalan pada 2027.

Rencana masa depan itu dikenal sebagai "LIV 2.0". Namun, menurut Bland, keberadaan dana saja belum cukup untuk menjamin liga dapat bertahan.

"Pendanaannya semuanya tersedia," ujarnya kepada BBC South Today.

Bland menilai persoalan berikutnya terletak pada komitmen para pemain. Menurutnya, dukungan dari para pegolf akan menjadi faktor penting setelah persoalan LIV 1.0 selesai.

"Setelah semuanya benar-benar diselesaikan dengan LIV 1.0, selanjutnya bergantung pada dukungan para pemain dan siapa saja yang akan mendaftar untuk liga baru," katanya.

Ia bahkan memberikan catatan mengenai masa depan LIV 2.0 meski sumber dana telah tersedia.

"Meskipun pendanaannya tersedia, secara teori tidak ada jaminan LIV 2.0 akan terus berlanjut jika mereka tidak mendapatkan dukungan para pemain," katanya. 

Pernyataan Bland muncul setelah sejumlah pemain bintang memilih meninggalkan PGA Tour untuk bergabung dengan LIV sejak liga dimulai pada 2021. Bryson DeChambeau dan Jon Rahm menjadi dua nama besar di antara para pegolf yang bergabung.

Situasi menjadi semakin membingungkan bagi para pemain setelah informasi mengenai pendanaan LIV berubah dalam hitungan beberapa bulan. 

Bland mengungkapkan, dalam pertemuan di Riyadh pada akhir Januari, para pemain sempat diberi tahu liga akan mendapatkan dukungan finansial hingga 2032.

"Kami diberi tahu di Riyadh sekitar akhir Januari bahwa liga akan didanai hingga 2032," kata Bland.

"Informasi itu juga disampaikan Yasir, jadi bisa dibilang langsung dari sumber utamanya," tambahnya.

Pertemuan itu sempat mengembalikan optimisme para pemain. Namun, hanya beberapa bulan kemudian, kabar dari Meksiko memberikan gambaran berbeda setelah muncul laporan rencana pendanaan tidak akan berjalan seperti sebelumnya, menyusul mundurnya Gubernur PIF Yasir Al-Rumayyan dari dewan.

"Semua orang meninggalkan pertemuan para pemain dengan perasaan sangat positif dan bersemangat tentang masa depan. Kemudian, empat bulan setelahnya di Meksiko, kami mengetahui bahwa tur tersebut akan dihentikan. Banyak pemain yang tidak bisa mempercayainya," katanya.

Bland mengakui kondisi itu tidak mudah bagi LIV, terutama staf dan CEO Scott O'Neil yang harus mencari jalan agar kompetisi tetap berjalan.

"Ini sangat menyedihkan dan menjadi perjalanan sangat sulit untuk dijalani, terutama bagi staf dan Scott     (O'Neil, CEO LIV) untuk mencari jalan ke depan. Kami masih sedikit dalam kegelapan mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya," jelasnya.

Kiprah Richard Bland

Di tengah gejolak itu, pengalaman Bland memberikan perspektif berbeda. Pegolf berusia 53 tahun itu termasuk pemain awal LIV dan telah menikmati keuntungan finansial besar sejak bergabung.

Bland menjadi pemenang tertua pertama dalam sejarah European Tour ketika merebut British Masters 2021. 

Tiga tahun kemudian, ia memenangi Senior PGA Championship pada penampilan pertamanya di kompetisi senior.

Ia mengakui laporan mengenai pendapatan lebih dari 20 juta dolar AS selama bermain di LIV mendekati angka sebenarnya.

Bagi Bland, keputusan bergabung dengan LIV pada usia 49 tahun merupakan pertimbangan yang berkaitan dengan keluarga dan keamanan finansial.

"Pada usia 49 tahun, ketika kesempatan itu datang, Anda pasti akan gila jika tidak mengambilnya," katanya.

"Saya hidup nyaman di DP World, tetapi saya diberi kesempatan bermain dengan bayaran tujuh hingga delapan kali lebih besar. Sebagian orang mungkin tidak setuju dengan keputusan itu dan itu sepenuhnya tidak masalah."

"Keputusan itu adalah milik saya dan saya mengambilnya demi keluarga serta keamanan saya di masa depan. Dalam pandangan saya, keputusan itu tidak perlu dipikirkan dua kali."

Di usianya saat ini, Bland berada dalam posisi berbeda dibandingkan para pemain muda LIV. Ia mengaku dampak kegagalan LIV 2.0 kepada dirinya tidak akan sebesar kemungkinan yang dirasakan pemain muda.

"Sekarang saya berada dalam posisi beruntung karena jika LIV 2.0 tidak terwujud, dampaknya bagi saya mungkin tidak sebesar yang dirasakan beberapa pemain muda," jelasnya. 

Sambil menunggu kejelasan masa depan LIV, sejumlah pemain bintang mulai kembali tampil di turnamen DP World Tour. 

Jon Rahm, Joaquin Niemann dan Tyrrell Hatton bermain di BMW PGA Championship di Wentworth, setelah sebelumnya mengikuti Irish Open.

Bland juga akan mengambil jalur serupa. Ia dijadwalkan melakukan penampilan pertamanya di DP World Tour sejak 2023 ketika turun di Alfred Dunhill Links Championship di Skotlandia.***

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!