Sejarah dan Cerita di Balik Rasa: Menjelajahi Gastronomi Indonesia
Senin, 5 Oktober 2026 | 07:00
Penulis: Rojes Saragih

Mengapa makanan khas Yogyakarta cenderung memiliki rasa manis?
Jawabannya ternyata membawa kita pada sejarah gula dan kehidupan Keraton Yogyakarta.
Pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VII, terdapat sekitar 19 pabrik gula di Yogyakarta. Gula ketika itu bukan sekadar bahan makanan, tetapi juga menjadi simbol status sosial dan kekayaan di lingkungan keraton.
BACA JUGA
Chef Expo 2026 Jadi Ajang Promosi Cita Rasa Indonesia ke Dunia
Diplomasi Gastronomi Indonesia Menyapa Restoran Tiga Bintang Michelin di Jerman
Kehadiran Restoran Kelas Dunia di Ubud Perkaya Plihan Wisata Kuliner Premium
Pengaruhnya kemudian ikut terasa di meja makan. Makanan dan minuman yang disajikan pada masa itu banyak memiliki cita rasa manis.
Cerita seperti ini membuat pengalaman menikmati makanan menjadi lebih dari sekadar urusan rasa.
Sebuah hidangan bisa menjadi pintu untuk memahami sejarah, budaya, kebiasaan masyarakat, hingga identitas sebuah daerah.
Menurut Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, latar belakang sejarah semacam itu perlu dikemas menjadi bagian dari pengalaman wisata gastronomi.
“Semua produk wisata gastronomi di Yogyakarta harus memiliki cerita di baliknya,” kata GKR Bendara dalam keterangan Kementerian Pariwisata, 04/10/2026.
Ketika Makanan Menjadi Cerita
Wisata gastronomi bukan sekadar mencari makanan enak.
Ada pengalaman untuk mengetahui dari mana sebuah hidangan berasal, mengapa dibuat dengan cara tertentu, bahan apa yang digunakan, dan bagaimana makanan tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Yogyakarta memiliki sejumlah contoh menarik.
Di antara makanan yang kini tergolong langka terdapat nasi golong gilig dan dawet sambal.
Nama terakhir mungkin terdengar aneh bagi wisatawan yang belum pernah mencobanya.
Dawet biasanya identik dengan rasa manis dan segar. Namun, di Yogyakarta, ada versi yang justru dipadukan dengan sambal pecel dan tahu.
Perpaduan tersebut bisa membuat orang bertanya-tanya sebelum mencicipinya.
Bagaimana mungkin dawet manis bertemu dengan sambal?
Justru rasa penasaran itulah yang menjadi bagian dari pengalaman gastronomi.
GKR Bendara menjelaskan bahwa dawet sambal merupakan perpaduan dawet manis dengan sambal pecel dan tahu. Menurutnya, keunikan seperti ini perlu dikenalkan bersama cerita yang menyertainya, bukan sekadar ditampilkan sebagai makanan yang unik.
Ada Sejarah di Balik Sepiring Rendang
Cerita serupa bisa ditemukan di berbagai daerah Indonesia.
Rendang, misalnya, sudah dikenal luas sebagai salah satu ikon kuliner Indonesia. Namun, bagi wisatawan, pengalaman mencicipinya bisa menjadi lebih menarik ketika memahami nilai budaya dan filosofi yang berada di balik hidangan tersebut.
Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias menilai kekuatan gastronomi seperti itu perlu terus didokumentasikan dan diwariskan.
Menurutnya, gastronomi tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga dapat diintegrasikan dengan warisan kota, penataan kawasan bersejarah, dan cerita budaya untuk memberikan nilai tambah bagi wisatawan.
Dengan pendekatan tersebut, Makanan Tradisional tidak berhenti sebagai produk kuliner.
Ia menjadi bagian dari perjalanan untuk mengenal sebuah tempat.
Wisatawan yang datang ke Sumatra Barat, misalnya, tidak hanya membawa pulang pengalaman menikmati rendang. Mereka juga dapat menemukan cerita mengenai masyarakat dan budaya yang membuat hidangan tersebut bertahan hingga sekarang.
Makanan dan Kenangan
Ada satu hal lain yang membuat kuliner Indonesia menarik: makanan memiliki hubungan yang sangat kuat dengan memori.
Sebuah masakan bisa mengingatkan seseorang pada dapur nenek, masakan ibu, acara keluarga, atau suasana kampung halaman.
Karena itu, rasa bukan hanya persoalan lidah.
Ada memori yang ikut hadir ketika seseorang menyantap makanan yang sudah dikenalnya sejak kecil.
Chef Fernando Sindu mengatakan masyarakat Indonesia cenderung memiliki standar tinggi terhadap makanan daerah karena banyak hidangan memiliki hubungan emosional dengan masa kecil.
“Orang Indonesia sangat kritis terhadap makanan lokal karena memiliki kenangan atau ikatan emosional dengan masakan keluarga, seperti masakan nenek atau ibu,” kata Sindu.
Bagi wisatawan, pengalaman seperti ini menjadi kesempatan untuk melihat Indonesia dari sisi yang berbeda.
Bukan hanya melalui pemandangan alam, bangunan bersejarah, atau destinasi populer, tetapi melalui meja makan dan cerita yang ada di atasnya.
Dari Kuliner Menjadi Pengalaman Perjalanan
Konsep gastronomi juga semakin penting ketika perjalanan wisata mulai bergeser dari sekadar sightseeing menuju pencarian pengalaman yang lebih autentik.
Wisatawan ingin mengetahui bagaimana sebuah makanan dibuat, siapa yang membuatnya, bahan apa yang digunakan, serta mengapa makanan tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Cerita tentang gula di Yogyakarta, rendang di Sumatra Barat, atau makanan tradisional yang hanya ditemukan di komunitas tertentu bisa menjadi bagian dari pengalaman perjalanan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Karena itu, dokumentasi dan pewarisan pengetahuan kuliner menjadi penting.
Sebuah makanan yang hampir terlupakan sebenarnya bukan sekadar resep yang hilang. Bersamanya bisa ikut hilang cerita tentang masyarakat, sejarah, lingkungan, dan identitas sebuah daerah.
Gagasan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) Talks 2026 di Yogyakarta pada Jumat (02/10/2026).
Kegiatan tersebut mempertemukan 22 pembicara dari unsur pemerintah, industri, praktisi seni, dan akademisi untuk membahas gastronomi sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus peluang ekonomi berkelanjutan.
Pada akhirnya, perjalanan gastronomi menawarkan cara sederhana untuk mengenal Indonesia:
datang, duduk, mencicipi, lalu mendengarkan cerita.
Sebab, terkadang cara terbaik memahami sebuah tempat bukan dengan melihatnya dari kejauhan, tetapi dengan mencicipinya dari sebuah piring.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!