Tren Liburan Wisatawan China Berubah, Indonesia Punya Kesempatan Curi Perhatian
Minggu, 11 Oktober 2026 | 13:57
Penulis: Respaty Gilang

Pergeseran Tren Liburan Wisatawan China membuka peluang baru bagi industri pariwisata Indonesia. Di tengah meningkatnya minat untuk bepergian ke luar negeri, Indonesia masuk dalam daftar destinasi yang diminati saat Libur Panjang Golden Week 2026.
Dikutip dari Kyodo News, agen perjalanan asal China, Tuniu, memasukkan Indonesia ke dalam daftar destinasi luar negeri populer bersama Turki dan Korea Selatan. Menariknya, Jepang yang sebelumnya menjadi salah satu tujuan favorit tidak lagi menempati posisi teratas dalam daftar tersebut.
Golden Week merupakan periode Libur Nasional di China yang berlangsung pada 1–7 Oktober. Pada tahun ini, periode tersebut berdekatan dengan Festival Pertengahan Musim Gugur sehingga sebagian wisatawan memiliki kesempatan memperpanjang waktu liburan.
BACA JUGA
Garap Pasar China, Promosi Wisata Indonesia Hasilkan Potensi Transaksi Rp109 Miliar
Jakarta Jadi Gerbang Baru Wisatawan China Lewat Penerbangan Langsung Changsha
Kunjungan Turis China Naik 25,5 Persen, Masuk ke Indonesia Lewat Dua Gerbang Utama
Kondisi ini turut mendorong minat perjalanan internasional. Travel Weekly Asia melaporkan bahwa pemesanan Penerbangan Internasional untuk periode Golden Week meningkat 22,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya, berdasarkan data yang tersedia pada 24 September 2026.
Bagi Indonesia, perubahan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat daya tarik Destinasi Wisata di mata pelancong asal China. Bali, misalnya, memiliki kombinasi pantai, budaya, kuliner, dan fasilitas akomodasi yang dapat menarik wisatawan dengan beragam preferensi perjalanan.
Namun, peluang ini tidak hanya terbatas pada Bali. Destinasi lain di Indonesia juga berpotensi mendapat perhatian apabila mampu menawarkan pengalaman khas, akses transportasi yang memadai, serta layanan yang sesuai dengan kebutuhan Wisatawan Mancanegara.
Minat Terhadap Indonesia Menunjukkan Pertumbuhan
Sinyal positif juga terlihat dari data pencarian akomodasi. Platform perjalanan digital Agoda pada Juli 2026 melaporkan bahwa China menjadi pasar asal wisatawan dengan pertumbuhan minat tertinggi terhadap Indonesia selama semester pertama tahun ini.
Berdasarkan pencarian akomodasi antara Januari dan Juni 2026, minat Wisatawan China terhadap Indonesia tumbuh 44 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. China bahkan masuk lima besar pasar asal dengan minat tertinggi terhadap akomodasi di Indonesia untuk pertama kalinya dalam laporan tersebut.
Meski demikian, data pencarian akomodasi perlu dibedakan dari angka kedatangan wisatawan yang benar-benar terealisasi. Peningkatan minat menunjukkan potensi pasar, tetapi belum otomatis berarti jumlah kunjungan meningkat dalam persentase yang sama.
Wisatawan Tetap Bepergian, Tetapi Lebih Berhati-hati Mengeluarkan Uang
Peluang pasar tersebut juga perlu dibaca bersama perubahan perilaku belanja wisatawan China. Reuters melaporkan pada 9 Oktober 2026 bahwa rata-rata pengeluaran per perjalanan domestik selama Golden Week turun 1,9 persen menjadi 893,92 yuan atau sekitar US$133,51.
Angka tersebut menjadi yang terendah dalam empat tahun, meskipun perjalanan ke luar negeri menunjukkan penguatan. Salah satu faktor yang mendukung tren tersebut adalah kesempatan mengambil liburan lebih panjang dengan menggabungkan beberapa periode hari libur.
Situasi ini memperlihatkan bahwa tingginya minat bepergian tidak selalu diikuti peningkatan pengeluaran per wisatawan. Pelancong tetap mencari pengalaman baru, tetapi dapat menjadi lebih selektif dalam menentukan anggaran, akomodasi, dan aktivitas selama perjalanan.
Bagi pelaku industri pariwisata Indonesia, memahami kebutuhan tersebut menjadi penting. Penawaran paket perjalanan yang fleksibel, pilihan akomodasi dari berbagai kelas harga, kemudahan pemesanan, serta pengalaman lokal yang autentik dapat menjadi bagian dari strategi menarik pasar China.
Momentum untuk Memperkuat Daya Saing Pariwisata Indonesia
Perubahan pilihan destinasi saat Golden Week dan meningkatnya minat pencarian akomodasi menunjukkan adanya peluang yang patut diperhatikan Indonesia. Akan tetapi, momentum tersebut perlu ditindaklanjuti dengan strategi yang tepat agar minat wisatawan dapat berubah menjadi kunjungan nyata.
Selain promosi, faktor seperti konektivitas penerbangan, kemudahan akses informasi, kualitas pelayanan, dan kesiapan destinasi turut menentukan daya saing Indonesia dibandingkan negara lain di kawasan Asia.
Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang dapat menjadi pembeda. Tantangannya adalah memastikan pengalaman wisata yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan pasar, sekaligus menjaga kualitas destinasi agar tetap menarik dalam jangka panjang.
Dengan pendekatan yang tepat, perubahan tren perjalanan wisatawan China dapat menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk memperluas jangkauan pasar internasional dan memperkuat posisinya sebagai salah satu tujuan wisata pilihan di Asia.











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!