ID EN

Rupsi, Permata Tersembunyi India yang Mendadak Dilirik Traveler untuk 2027

Senin, 12 Oktober 2026 | 18:00

Penulis: Respaty Gilang

Raimona, National Park.
. Foto: Raimona, National Park.

India selama ini identik dengan kemegahan Taj Mahal, hiruk-pikuk Delhi, hingga istana bersejarah Jaipur. Namun, di bagian timur laut negara tersebut, ada kawasan yang menawarkan pengalaman berbeda bagi traveler yang ingin menjelajahi alam liar, peninggalan kerajaan, dan kehidupan masyarakat lokal. Namanya Rupsi, sebuah wilayah di Assam yang mulai menarik perhatian wisatawan menjelang 2027.

Minat terhadap Rupsi meningkat setelah Skyscanner Travel Trends Report 2027 mencatat lonjakan pencarian penerbangan menuju destinasi tersebut sebesar 502 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menempatkan Rupsi di posisi kedua dalam daftar destinasi yang sedang naik daun di kalangan Wisatawan India, tepat di bawah Bishkek, Kirgizstan. 

Meski demikian, peningkatan pencarian itu tidak serta-merta berarti jumlah Kunjungan Wisatawan telah melonjak dalam proporsi yang sama. Data tersebut lebih tepat dibaca sebagai sinyal meningkatnya rasa ingin tahu terhadap destinasi yang belum sepopuler kawasan wisata utama India.

Daya tarik Rupsi terletak pada posisinya sebagai pintu masuk menuju wilayah Assam bagian barat. Dari sini, wisatawan dapat merencanakan perjalanan untuk mengenal hutan dengan keanekaragaman hayati tinggi, situs religi bersejarah, warisan keluarga kerajaan, hingga desa yang mempertahankan tradisi kerajinan lokal.

Bagi traveler yang bosan dengan rute wisata konvensional, kawasan ini menawarkan alasan untuk melihat India dari perspektif berbeda.

Menjelajahi Raimona National Park dan Habitat Satwa Liar

Salah satu pengalaman yang layak masuk agenda perjalanan adalah mengunjungi Raimona National Park. Berada di distrik Kokrajhar, Taman Nasional seluas sekitar 422 kilometer persegi ini dikenal sebagai habitat langur emas atau golden langur, primata yang menjadi salah satu satwa ikonik kawasan Bodoland.

Selain primata tersebut, kawasan hutan ini juga menjadi habitat gajah Asia, gaur, anjing liar India, serta beragam spesies burung dan kupu-kupu. Keanekaragaman tersebut menjadikan Raimona menarik bagi pencinta alam, pengamat burung, dan traveler yang ingin mengenal ekosistem India timur laut. 

Perjalanan ke taman nasional ini sebaiknya direncanakan bersama operator atau pemandu lokal yang memahami akses kawasan. Pengunjung juga perlu mengetahui aturan konservasi dan tidak menganggap perjumpaan dengan satwa liar sebagai sesuatu yang pasti terjadi.

Menurut informasi resmi pariwisata Bodoland, musim gugur hingga awal musim semi menjadi periode yang menarik untuk merencanakan kunjungan. Cuaca dan kondisi jalan tetap perlu diperiksa sebelum berangkat, terutama setelah periode hujan lebat.

Menyusuri Jejak Keluarga Kerajaan di Gauripur

Rupsi juga membuka akses menuju Gauripur, kawasan yang memiliki warisan sejarah kerajaan. Salah satu landmark yang menarik perhatian adalah Matiabagh Royal Palace, yang juga dikenal sebagai Hawa Mahal.

Istana tersebut berkaitan dengan keluarga kerajaan Gauripur dan menjadi bagian dari sejarah lokal Assam. Kunjungan ke kawasan ini dapat memberikan perspektif berbeda tentang kehidupan masyarakat dan perkembangan budaya di luar pusat-pusat wisata India yang lebih dikenal.

Gauripur juga memiliki hubungan dengan tradisi musik rakyat Goalparia dan sejarah perfilman India melalui sosok Pramathesh Chandra Barua. Perpaduan sejarah, seni, dan warisan keluarga kerajaan membuat kawasan ini menarik bagi wisatawan yang menyukai perjalanan berbasis cerita.

Namun, traveler sebaiknya memastikan terlebih dahulu apakah area istana terbuka untuk pengunjung umum sebelum memasukkannya ke dalam rencana perjalanan.

Menemukan Warisan Spiritual di Tepi Sungai Brahmaputra

Perjalanan ke Assam bagian barat tidak hanya berkaitan dengan alam dan sejarah kerajaan. Wilayah ini juga memiliki sejumlah tempat ibadah yang menyimpan cerita penting tentang kehidupan spiritual masyarakat setempat.

Di Dhubri, Gurudwara Sri Guru Teg Bahadur Sahib Ji berdiri di tepi Sungai Brahmaputra. Tempat ibadah Sikh ini menjadi salah satu landmark religi penting di kawasan tersebut dan berkaitan dengan sejarah Guru Tegh Bahadur pada abad ke-17. 

Lokasinya di tepi sungai menghadirkan kesempatan bagi traveler untuk mengenal Dhubri melalui perpaduan sejarah, tradisi keagamaan, dan kehidupan masyarakat di sekitar Brahmaputra.

Selain itu, Mahamaya Dham di kawasan Bogribari menjadi tujuan ziarah yang penting bagi masyarakat setempat. Kuil ini menawarkan sudut pandang lain tentang tradisi spiritual yang berkembang di Assam.

Ketika mengunjungi tempat-tempat tersebut, wisatawan sebaiknya menghormati aturan setempat, mengenakan pakaian yang pantas, dan memperhatikan ketentuan bagi pengunjung di area ibadah.

Berkunjung ke Asharikandi, Desa yang Menjaga Tradisi Kerajinan

Bagi traveler yang lebih menyukai Pengalaman Budaya dibandingkan sekadar mengunjungi landmark, Asharikandi di distrik Dhubri patut dipertimbangkan.

Desa ini dikenal dengan tradisi kerajinan tembikar terakota. Produk yang dibuat para pengrajin memperlihatkan keterampilan mengolah tanah liat menjadi benda-benda yang memiliki fungsi sekaligus nilai artistik.

Mengunjungi desa kerajinan dapat memberikan pengalaman yang berbeda dari perjalanan ke pusat perbelanjaan atau toko suvenir. Wisatawan berkesempatan mengenal proses produksi, memahami tradisi yang diwariskan antargenerasi, dan melihat bagaimana kerajinan lokal menjadi bagian dari identitas masyarakat.

Jika ingin berinteraksi langsung dengan pengrajin, traveler sebaiknya mengatur kunjungan terlebih dahulu. Ketersediaan demonstrasi maupun aktivitas bagi pengunjung bergantung pada kesediaan perajin dan pengaturan lokal.

Menikmati Alam di Saralpara dengan Latar Pegunungan Bhutan

Bagi pencinta lanskap alam, Saralpara menawarkan suasana yang berbeda dari kawasan perkotaan. Destinasi ini dikenal dengan aliran sungai atau mata air, lingkungan hijau, serta pemandangan ke arah kaki pegunungan Bhutan.

Saralpara berada lebih jauh dari Rupsi dibandingkan beberapa atraksi sejarah dan religi di sekitarnya. Karena itu, perjalanan ke lokasi ini lebih cocok disiapkan sebagai agenda tersendiri, bukan sekadar persinggahan singkat.

Suasana alamnya dapat menjadi pilihan bagi traveler yang ingin menikmati kegiatan luar ruang, piknik, atau menjauh sejenak dari keramaian kota. Meski begitu, kondisi jalan, cuaca, akses lokal, dan fasilitas yang tersedia perlu dipastikan sebelum berangkat.

Kapan Waktu Terbaik untuk Mengunjungi Rupsi?

Oktober hingga April dapat menjadi rentang waktu yang layak dipertimbangkan untuk menjelajahi Assam bagian barat. Periode tersebut memungkinkan wisatawan menyusun perjalanan yang menggabungkan kunjungan budaya, Wisata Sejarah, dan aktivitas luar ruang.

Bagi traveler yang memprioritaskan Raimona National Park, periode musim gugur hingga awal musim semi juga dapat menjadi pilihan. Namun, jadwal operasional kawasan konservasi, kondisi cuaca, serta akses menuju lokasi tetap perlu dikonfirmasi menjelang perjalanan. 

Musim hujan berpotensi menghadirkan curah hujan tinggi dan memengaruhi perjalanan darat. Oleh sebab itu, wisatawan sebaiknya tidak hanya mengandalkan perkiraan cuaca umum, tetapi juga memeriksa informasi lokal sebelum menentukan tanggal keberangkatan.

Cara Menuju Rupsi dan Menyusun Itinerary

Rupsi memiliki bandara domestik yang dikelola Airports Authority of India. Berdasarkan informasi resmi otoritas bandara, Rupsi memiliki konektivitas udara menuju Guwahati dan Kolkata. Namun, jadwal penerbangan, hari operasional, dan ketersediaan tiket perlu diperiksa kembali sebelum memesan perjalanan. 

Wisatawan juga dapat mempertimbangkan perjalanan kereta menuju kawasan Kokrajhar, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan darat. Pilihan transportasi terbaik akan bergantung pada lokasi atraksi yang ingin dikunjungi dan jadwal kedatangan.

Untuk perjalanan dua hingga tiga hari, traveler dapat memprioritaskan Gauripur, Dhubri, dan Asharikandi. Jika ingin memasukkan Raimona National Park atau Saralpara, sebaiknya sediakan waktu tambahan karena jarak antardestinasi cukup berjauhan.

Mengingat atraksi tersebar di beberapa wilayah, menyewa kendaraan atau mengatur transportasi dengan operator lokal dapat membuat perjalanan lebih efisien. Pilihan akomodasi dan akses ke tempat wisata juga sebaiknya dikonfirmasi sebelum keberangkatan.

Rupsi dan Tren Baru Perjalanan: Mencari Pengalaman yang Lebih Personal

Meningkatnya minat terhadap Rupsi memperlihatkan bagaimana destinasi di luar jalur wisata populer dapat memperoleh perhatian ketika traveler mencari pengalaman baru. Daya tariknya bukan semata-mata pemandangan alam, melainkan kombinasi keanekaragaman hayati, sejarah lokal, tradisi religi, dan kehidupan masyarakat.

Meski angka pencarian penerbangan yang meningkat belum menjamin Rupsi akan segera menjadi destinasi massal, tren tersebut memberikan gambaran mengenai peluang kawasan yang selama ini kurang dikenal untuk menjangkau pasar wisatawan lebih luas.

Bagi traveler, Rupsi bisa menjadi inspirasi untuk merancang perjalanan yang tidak hanya mengejar tempat terkenal, tetapi juga memahami cerita di balik sebuah wilayah. Sementara bagi masyarakat lokal, meningkatnya perhatian wisatawan dapat membuka peluang ekonomi apabila pengembangan pariwisata dilakukan dengan menghormati lingkungan, budaya, dan kebutuhan komunitas setempat.

Pada akhirnya, daya tarik perjalanan ke Assam bagian barat terletak pada kesempatan untuk mengenal India dari sisi yang berbeda. Bukan hanya melalui monumen megah atau kota besar, tetapi lewat hutan yang kaya kehidupan, peninggalan sejarah, tradisi kerajinan, dan pertemuan dengan budaya lokal.

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!