Desa Adat Sade Bangkit Pascakebakaran, Rumah Adat dan Tradisi Sasak Tetap Dijaga
Rabu, 14 Oktober 2026 | 15:30
Penulis: Arif S

Desa Adat Sade di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah menjalani proses pemulihan setelah kebakaran pada 22 Agustus 2026 merusak kawasan permukiman tradisional itu. Upaya rehabilitasi tidak sekadar membangun kembali bangunan terdampak, tetapi juga memastikan tradisi masyarakat Sasak tetap lestari, lingkungan lebih aman, dan roda perekonomian warga kembali bergerak.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana meninjau kembali proses rehabilitasi Desa Adat Sade pada 11 Oktober 2026. Dalam kunjungannya, Menpar menegaskan pemulihan harus mempertahankan keaslian arsitektur rumah adat sekaligus memperkuat perlindungan terhadap risiko kebakaran.
“Prinsip kita jelas, yaitu membangun kembali Desa Adat Sade agar lebih aman dan lebih tangguh, tanpa kehilangan keaslian arsitektur serta nilai-nilai adat yang menjadi identitasnya,” ujar Menpar Widiyanti.
BACA JUGA
78,2 Persen Masih Rintisan, Pemerintah Genjot Transformasi Desa Wisata
Sade Mulai Bangkit, Kemenpar Beri Bantuan Modal Kerja UMKM hingga Promosi Wisata
Erupsi Gunung Anak Krakatau, Ini Langkah Kemenpar Lindungi Wisatawan dan Destinasi
Bagi masyarakat Sade, rumah adat, tata ruang permukiman, kerajinan tenun, dan tradisi leluhur merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari sekaligus daya tarik wisata budaya. Karena itu, proses pembangunan kembali perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga identitas masyarakat setempat.
Widiyanti menekankan dampak kebakaran tidak cukup diukur berdasarkan kerugian materiil. Pemulihan juga harus menjangkau kehidupan sosial, mata pencaharian, serta warisan budaya masyarakat yang selama ini menjadi bagian penting dari pariwisata Sade.
“Namun, bagi kita, angka tersebut tidak hanya menggambarkan kerugian fisik. Ada kehidupan masyarakat, aktivitas ekonomi, dan warisan budaya yang harus kita pulihkan secara bersamaan,” kata Menpar.
Rekonstruksi Dimulai dengan Ritual Adat
Proses rekonstruksi Desa Adat Sade telah dimulai pada 3 September 2026. Tahap awal ditandai dengan ritual adat Nyemulak (Tanjak Teken), yang menjadi simbol dimulainya pembangunan kembali kawasan bersama para mitra.
Pembangunan diprioritaskan pada fasilitas bagi kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Pekerjaan dimulai dari pembangunan masjid, kemudian sekenam atau ruang berkumpul, museum semipermanen, serta fasilitas kamar mandi dan toilet yang layak.
Tahap berikutnya akan mencakup rekonstruksi kawasan secara menyeluruh dengan mempertahankan karakteristik arsitektur rumah adat, tata ruang tradisional, dan pola kehidupan masyarakat Sasak.
Namun, menjaga keaslian kawasan bukan berarti mengabaikan keselamatan. Pemerintah juga mendorong penyediaan sistem proteksi kebakaran, jalur evakuasi, pasokan air, alat pemadam kebakaran, sanitasi lebih baik, serta infrastruktur untuk menangani keadaan darurat.
Dengan langkah ini diharapkan Desa Adat Sade menjadi destinasi wisata budaya yang tidak hanya menarik dan autentik, tetapi juga lebih aman dan nyaman bagi warga maupun wisatawan.
Bantuan Rp817,5 Juta untuk Menggerakkan Ekonomi Warga
Selain pembangunan fisik, pemulihan penghasilan masyarakat menjadi perhatian utama Kementerian Pariwisata. Warga perlu kembali menjalankan usaha tanpa harus menunggu seluruh proses rekonstruksi selesai.
Untuk mendukung kebutuhan itu, Kemenpar telah menyalurkan bantuan modal usaha dan peralatan kerja dengan nilai keseluruhan mencapai Rp817,5 juta.
Bantuan itu mencakup 15 unit alat tenun gedogan, modal kerja bagi 69 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), 70 paket bahan baku tenun, serta 43 paket peralatan kerajinan nontenun.
Dukungan itu diharapkan membantu para penenun, perajin, dan pelaku UMKM kembali berproduksi, memasarkan produk, serta memperoleh penghasilan harian selama proses pemulihan berlangsung.
Bagi masyarakat Sasak, tenun bukan hanya produk kerajinan bernilai ekonomi. Motif dan proses pembuatannya juga merepresentasikan identitas budaya serta pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Saat meninjau kawasan, Widiyanti berdialog dengan Ina Aris, salah satu penenun Desa Adat Sade. Ina berharap Kunjungan Wisatawan dapat memberikan manfaat lebih besar bagi para perajin lokal.
“Motif tenun Sade punya ciri khas tersendiri. Saya berharap, wisatawan yang berkunjung ke Desa Sade tidak hanya menikmati keindahan desa, tetapi juga mengenal proses pembuatan tenun dan membeli produk lokal. Dengan begitu, tenun Sade semakin dikenal, tetap lestari, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” kata Ina.
Harapan itu sejalan dengan upaya menjadikan pariwisata sebagai sumber penghidupan masyarakat. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat rumah tradisional dan suasana desa, tetapi juga berkesempatan mengenal proses pembuatan tenun serta membeli produk langsung dari perajin.
Dengan begitu, aktivitas wisata dapat memberikan manfaat ekonomi secara langsung sekaligus membantu mempertahankan keterampilan tradisional masyarakat Sasak.
Masyarakat Adat Menjadi Pelaku Utama Pemulihan
Widiyanti menegaskan masyarakat adat harus terlibat dalam setiap tahap rehabilitasi. Keterlibatan warga diperlukan agar pembangunan kembali tetap menghormati nilai adat, mempertahankan kearifan lokal, dan menjawab kebutuhan masyarakat.
Kemenpar juga menyiapkan program pelatihan untuk meningkatkan kemampuan warga dalam mengelola pariwisata dan usaha kreatif berbasis budaya.
Program itu meliputi peningkatan kompetensi pemandu wisata lokal, penerapan standar keselamatan dan pelayanan, pembaruan katalog produk kerajinan, penguatan identitas produk melalui branding, serta pemasaran digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Pemerintah juga mempersiapkan peluncuran Kembali (relaunching) Desa Adat Sade sebagai destinasi wisata budaya.
Pelaksanaannya akan mempertimbangkan kesiapan masyarakat, kelengkapan fasilitas, serta standar keselamatan agar wisatawan dapat berkunjung dengan aman dan nyaman.
Dalam kunjungan itu, Widiyanti meninjau Museum Sade bersama kurator Museum NTB dan mencoba fasilitas virtual tour yang didukung Politeknik Pariwisata Lombok.
Pemanfaatan teknologi digital tersebut menjadi salah satu cara untuk memperkaya pengalaman wisatawan dan memperluas akses terhadap warisan budaya Sasak.
Bangkit Tanpa Kehilangan Identitas Budaya
Pemulihan Desa Adat Sade melibatkan pemerintah pusat dan daerah, masyarakat adat, serta mitra strategis. Dalam kunjungannya, Widiyanti didampingi jajaran Kemenpar, sementara perwakilan pemerintah daerah dan PT Amerta Indah Otsuka turut hadir memberikan dukungan.
Kepala Dusun Adat Sade, Endap, menyampaikan apresiasi atas perhatian dan bantuan yang diberikan kepada masyarakat selama proses pemulihan.
“Bagi kami, Sade bukan sekadar destinasi wisata, tetapi rumah bagi budaya dan adat istiadat warisan leluhur yang harus terus kami jaga. Kami berharap dukungan dari Ibu Menteri dan seluruh pihak dapat mempercepat pemulihan Sade agar masyarakat kembali beraktivitas dan tradisi kami tetap lestari,” kata Endap.
Bagi masyarakat Sade, keberhasilan pemulihan tidak hanya berarti bangunan rusak kembali berdiri. Lebih penting lagi, warga dapat melanjutkan kehidupan, mempertahankan tradisi, dan memperoleh penghasilan dari kegiatan ekonomi serta pariwisata.
Widiyanti menegaskan kolaborasi seluruh pihak perlu berlanjut hingga manfaat pemulihan benar-benar dirasakan masyarakat.
“Ukuran keberhasilan kita bukan hanya seberapa banyak bangunan yang kembali berdiri, melainkan saat masyarakat kembali berdaya, budaya tetap hidup, ekonomi bergerak, dan wisatawan dapat berkunjung dengan aman,” pungkas Menpar.***











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!