ID EN

Dari Minibike ke Moto3, Veda Ega Pratama Menjaga Asa ke MotoGP

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:00

Penulis: Rojes Saragih

Veda Ega Pratama berlatih di Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah
Veda Ega Pratama berlatih di Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah, 21 Juli 2026, menjelang MotoGP Indonesia, 9–11 Oktober 2026. Foto: Antara/Ahmad Subaidi

Sebelum namanya dikenal di panggung Grand Prix, Veda Ega Pratama sudah lebih dahulu mengenal dunia balap melalui sebuah minibike. Saat berusia lima tahun, ketertarikannya terhadap kecepatan mulai tumbuh. Setahun kemudian, ia mengikuti balapan pertamanya.

Dari titik itu, perjalanan Veda bergerak melalui berbagai tahapan. Ia berkompetisi di tingkat nasional, mengasah kemampuan di kejuaraan pembinaan Asia, lalu menghadapi persaingan yang semakin ketat di Eropa. Pada 2026, semua proses tersebut membawanya ke Kejuaraan Dunia Moto3 bersama Honda Team Asia.

Pencapaian terbesarnya sejauh ini datang di Grand Prix Brasil pada Maret 2026. Dalam balapan yang harus dimulai ulang setelah insiden di lintasan, Veda bangkit dari posisi ketujuh dan merebut posisi ketiga pada lap terakhir.

Hasil itu menjadikannya Pembalap Indonesia pertama yang meraih podium di kejuaraan Grand Prix Balap Motor prototipe. Bagi Indonesia, pencapaian tersebut menandai tonggak baru. Bagi Veda, podium itu menjadi bukti bahwa dirinya mampu bersaing dengan pembalap-pembalap muda terbaik dunia.

Namun, satu hasil besar tidak otomatis menentukan perjalanan berikutnya.

Veda masih harus membuktikan konsistensi di tengah persaingan Moto3 yang ketat. Ia juga harus terus mengembangkan kemampuan teknis, memahami karakter sirkuit, dan belajar menghadapi tekanan yang menyertai setiap balapan.

Di tengah meningkatnya perhatian publik, pembalap kelahiran Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, 23 November 2008, itu memilih untuk tidak terburu-buru menetapkan batas waktu menuju MotoGP.

Bagi Veda, pekerjaan terpenting saat ini adalah terus berkembang.

Fondasi yang Dibangun Sejak Kecil


Perjalanan Veda tidak dapat dilepaskan dari peran keluarganya, terutama sang ayah, Sudarmono.

Mantan pembalap nasional itu memahami bahwa Balap Motor bukan sekadar persoalan kecepatan. Seorang pembalap harus mampu membaca situasi, mengambil keputusan dalam waktu singkat, mengendalikan emosi, dan menjaga konsentrasi ketika berhadapan dengan risiko di lintasan.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari lingkungan yang membentuk Veda sejak usia dini. Ketika sang anak mulai menekuni balap motor, Sudarmono mendukung perkembangannya. Ia juga disebut menjadi sponsor pertama dalam perjalanan karier putranya.

Dukungan keluarga memberikan fondasi penting bagi Veda untuk menjalani kompetisi secara bertahap. Ketertarikan yang bermula pada masa kanak-kanak berkembang menjadi kegiatan yang menuntut disiplin, latihan, dan komitmen jangka panjang.

Pada 2019, Veda menjuarai Kejuaraan Nasional Balap Underbone. Gelar tersebut menjadi salah satu pencapaian awal yang memperlihatkan potensinya di tingkat nasional.

Namun, kemenangan itu bukanlah akhir dari proses. Untuk berkembang menjadi pembalap internasional, ia harus melewati lingkungan kompetisi yang berbeda dan menghadapi lawan dengan kemampuan yang semakin tinggi.

Tahap berikutnya membawanya ke Asia Talent Cup, salah satu jalur pembinaan pembalap muda di kawasan Asia. Veda mengikuti beberapa penampilan sebagai pembalap wildcard pada 2021 sebelum menjalani satu musim penuh pada 2022.

Pada musim pertamanya secara penuh, ia finis di peringkat ketiga klasemen. Setahun kemudian, Veda menjadi juara Asia Talent Cup 2023.

Pencapaian itu membuka jalan menuju kompetisi yang lebih tinggi. Ia kemudian mengikuti Red Bull MotoGP Rookies Cup pada 2024 dan kembali berkompetisi di ajang tersebut pada 2025. Pada musim 2025, Veda finis sebagai runner-up, sekaligus tampil di FIM JuniorGP World Championship.

Rangkaian hasil tersebut memperlihatkan perkembangan yang berlangsung secara bertahap. Dari kompetisi nasional menuju Asia, kemudian ke kejuaraan pembinaan internasional, Veda memperoleh pengalaman untuk menghadapi standar persaingan yang semakin tinggi.

Perjalanan itu juga menunjukkan bahwa bakat perlu disertai kemampuan beradaptasi. Setiap sirkuit memiliki karakter berbeda, sementara persaingan di level internasional menuntut pembalap untuk terus meningkatkan ketepatan dan konsistensi.

Veda Ega Pratama berdiskusi dengan tim teknik Honda Team Asia seusai FP1 Moto3 GP Indonesia 2026 di Mandalika, Jumat (9/10/2026)
Veda Ega Pratama berdiskusi dengan tim teknik Honda Team Asia seusai FP1 Moto3 GP Indonesia 2026 di Mandalika, Jumat (9/10/2026)
Sumber: Antara/Donny Aditra

Podium Brasil Mengubah Skala Harapan


Ketika Honda Team Asia merekrut Veda untuk musim Moto3 2026, ia memasuki babak baru dalam kariernya. Kejuaraan dunia menghadirkan persaingan dengan tuntutan yang berbeda dibandingkan kompetisi pembinaan yang sebelumnya ia jalani.

Veda memulai musim dengan hasil yang menjanjikan. Pada seri pembuka di Thailand, ia finis kelima setelah memulai balapan dari posisi keempat di grid.

Kemudian datang Grand Prix Brasil, seri kedua musim tersebut.

Setelah balapan dihentikan dan dimulai ulang, Veda harus kembali membangun posisinya di tengah persaingan. Ia berada di posisi ketujuh ketika memasuki empat lap terakhir, sebelum bergerak maju dan merebut tempat ketiga pada lap terakhir.

Podium itu bukan sekadar hasil bagus bagi seorang pembalap rookie. Pencapaian tersebut memiliki arti khusus karena menjadikan Veda Pembalap Indonesia pertama yang meraih podium Grand Prix dalam balap motor prototipe.

Sejarah tersebut meningkatkan perhatian terhadap dirinya. Nama Veda kini tidak hanya dikaitkan dengan potensi masa depan, tetapi juga dengan prestasi nyata di panggung internasional.

Meski demikian, tantangan setelah podium tidak lebih sederhana. Ketika seorang pembalap membuktikan bahwa dirinya mampu berada di barisan depan, ekspektasi terhadap hasil berikutnya ikut meningkat.

Persaingan di Moto3 juga tidak memberi banyak ruang untuk berpuas diri. Perbedaan kecil dalam pengereman, pemilihan jalur, dan keputusan saat menyalip dapat menentukan posisi finis. Pembalap harus terus belajar dari setiap sesi latihan dan balapan.

Veda masih berada pada tahap awal kariernya di kejuaraan dunia. Karena itu, podium Brasil lebih tepat dilihat sebagai tonggak perkembangan daripada jaminan bahwa perjalanan menuju kelas utama akan berlangsung tanpa hambatan.

MotoGP Adalah Mimpi, Bukan Tenggat Waktu


Bagi banyak pembalap muda, MotoGP menjadi tujuan yang membayangi setiap tahap karier. Kelas utama tersebut merupakan panggung tertinggi kejuaraan dunia balap motor, tempat para pembalap bersaing dengan teknologi dan tuntutan performa pada level tertinggi.

Veda juga memiliki ambisi untuk melangkah lebih jauh. Namun, ia tidak ingin menetapkan usia tertentu sebagai batas untuk mencapai MotoGP.

Pendekatan itu tercermin dalam pernyataannya mengenai cara mempertahankan performa setelah mencetak prestasi besar.

"Untuk menjaga tentunya ya harus terus bekerja keras saja, jangan sampai kehilangan fokus," kata Veda saat diwawancarai Antara.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa ia ingin menjaga perhatian pada hal-hal yang dapat dikendalikan. Alih-alih terbebani oleh pertanyaan kapan akan naik kelas, ia memilih terus bekerja keras dan meningkatkan kemampuan.

Pendekatan itu penting dalam olahraga yang perjalanan kariernya dipengaruhi banyak faktor. Kecepatan saja tidak cukup. Pembalap harus menjaga konsistensi, memahami karakter motor, mengambil keputusan dengan tepat, dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan kompetisi.

Cedera, perubahan performa, dan persaingan juga dapat memengaruhi kesempatan untuk naik ke jenjang berikutnya. Tidak ada jaminan bahwa pencapaian pada satu musim akan langsung diikuti promosi pada musim selanjutnya.

Dengan memberi ruang bagi dirinya untuk berkembang, Veda dapat menjadikan Moto3 sebagai tempat membangun fondasi, bukan sekadar tahapan yang harus segera dilewati.

Ia juga tidak ingin terlalu memikirkan penilaian negatif dari luar. Perhatian publik merupakan konsekuensi dari prestasi, tetapi fokus seorang atlet perlu tetap diarahkan pada persiapan dan performa.

Pada usia 17 tahun, Veda masih memiliki banyak kesempatan untuk belajar. Pengalaman menghadapi tekanan di kejuaraan dunia akan menjadi bekal yang tidak dapat diperoleh hanya melalui latihan.

Direktur Operasional ITDC Troy Reza Warokka bersama pembalap Indonesia Veda Ega Pratama dan Mario Aji.
Direktur Operasional ITDC Troy Reza Warokka bersama Pembalap Indonesia Veda Ega Pratama dan Mario Aji.
Sumber: Antara/Fajar Satriyo

Mandalika Menjadi Ujian Berikutnya


Pada Minggu, 11 Oktober 2026, Veda tampil di hadapan pendukungnya sendiri dalam Moto3 Grand Prix Indonesia di Pertamina Mandalika International Circuit, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Ia finis di posisi keenam, dengan selisih 12,017 detik dari pemenang balapan, Maximo Quiles.

Hasil tersebut memberinya tambahan 10 poin. Setelah seri Indonesia, Veda berada di peringkat ketujuh klasemen sementara Moto3 dengan koleksi 115 poin.

Dalam balapan kandang pertamanya di kejuaraan dunia, Veda menjadi salah satu pembalap yang mendapat perhatian besar dari penonton Indonesia. Namun, podium yang diharapkan publik tidak terwujud.

Finis keenam tetap menjadi hasil yang kompetitif, tetapi juga memberikan bahan evaluasi bagi pembalap dan timnya. Balapan di Mandalika berlangsung selama 20 lap, dengan kondisi angin yang berubah-ubah serta Cuaca Panas dan lembap yang menjadi bagian dari tantangan di lintasan.

Hasil di Indonesia juga menempatkan musim debut Veda dalam konteks yang lebih jelas. Ia tidak hanya memiliki satu pencapaian bersejarah di Brasil, tetapi juga telah mengumpulkan poin melalui rangkaian balapan yang membentuk posisinya di klasemen.

Perjalanan musim masih menuntut konsistensi. Posisi klasemen dapat berubah seiring hasil setiap seri, sehingga menjaga performa menjadi pekerjaan utama bagi Veda dan Honda Team Asia.

Di balik hasil balapan, dukungan keluarga tetap menjadi bagian penting dalam perjalanannya. Sudarmono memahami dunia yang dipilih putranya, sementara pengalaman dan dukungan orang-orang di sekitarnya membantu Veda menghadapi tuntutan kompetisi.

Keberhasilan seorang pembalap memang diukur melalui catatan waktu dan posisi finis. Namun, pencapaian tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan keluarga, mekanik, pelatih, dan tim.

Bagi Veda, dukungan yang telah menyertainya sejak masa kanak-kanak menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan menuju panggung dunia.

Membawa Nama Indonesia ke Lintasan Dunia


Di tengah ambisi untuk terus berkembang, Veda memiliki motivasi yang lebih luas daripada sekadar mencapai MotoGP.

"Saya mencintai bangsa serta negara ini dan berharap bisa lebih mengharumkan nama Indonesia," ujarnya.

Pernyataan itu memperlihatkan arti yang ingin ia berikan pada kariernya. Setiap kesempatan berlaga di luar negeri menjadi ruang untuk membawa nama Indonesia ke tengah persaingan internasional.

Podium Brasil menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan tersebut. Hasil itu memperlihatkan bahwa pembalap Indonesia mampu menembus barisan depan Grand Prix, sekaligus memberi perhatian lebih besar pada perkembangan talenta muda nasional.

Namun, jalan menuju MotoGP masih terbentang panjang. Veda harus terus membuktikan kemampuannya, menjaga konsistensi, dan memanfaatkan setiap balapan sebagai kesempatan untuk berkembang.

Dari minibike pada usia lima tahun hingga menjadi juara Asia Talent Cup, runner-up Red Bull MotoGP Rookies Cup, dan pembalap Moto3, perjalanan Veda dibangun melalui tahapan yang jelas.

Kini, ia telah mencatatkan sejarah di Brasil dan mengumpulkan pengalaman penting dalam musim debutnya di kejuaraan dunia. Tantangan berikutnya bukan hanya mengulang pencapaian terbaik, tetapi menjadikan hasil-hasil tersebut sebagai fondasi untuk berkembang lebih jauh.

MotoGP masih menjadi mimpi yang menanti. Untuk saat ini, Veda memilih fokus pada apa yang ada di hadapannya: persiapan, kerja keras, dan satu balapan berikutnya.

Sebab, perjalanan menuju puncak tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat seorang pembalap melaju, tetapi juga oleh kemampuannya untuk terus belajar, bertahan, dan berkembang ketika persaingan semakin berat.

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!