ID EN

Persija Tumbang dari Dewa United, Formasi dan Rotasi STY Jadi Sorotan

Senin, 2 November 2026 | 20:23

Penulis: Rojes Saragih

Persija Jakarta gagal melanjutkan tren positif setelah harus mengakui keunggulan Dewa United dalam lanjutan Super League 2026/2027. Hasil ini menjadi kejutan karena sebelumnya Macan Kemayoran dinilai memiliki modal kuat untuk menaklukkan Dewa United, menyusul penampilan meyakinkan mereka dalam sejumlah pertandingan sebelumnya, termasuk saat menghadapi Persik Kediri.

Kekalahan itu memunculkan pertanyaan mengenai keputusan Pelatih Persija, Shin Tae-yong (STY), dalam menentukan komposisi pemain. Pengamat Sepak Bola Ophan Lamara menilai STY belum menemukan susunan Pemain Terbaik yang benar-benar konsisten untuk menjaga performa tim.

Dalam pembahasan di Podcast Itsme bersama Pengamat Sepak Bola Erwin Fitriansyah dan Ophan Lamara, Ophan menyoroti keputusan STY yang melakukan perubahan cukup drastis terhadap starting eleven Persija dibandingkan ketika menghadapi Persik Kediri.

Menurutnya, perubahan terhadap lima posisi atau pemain dalam susunan utama menjadi keputusan yang patut dipertanyakan. Terlebih, komposisi sebelumnya sudah menunjukkan performa dan mampu membuktikan kualitasnya sebagai sebuah tim yang kompetitif.

Ophan juga menyoroti perubahan komposisi pemain dibandingkan saat Persija menghadapi Persik Kediri. Memija yang sebelumnya menjadi bagian dari starting eleven kali ini tidak tampil sebagai starter, sementara Loncar tetap masuk dalam susunan pemain utama.

Menurut Ophan, perubahan tersebut menunjukkan bahwa STY masih mencari formula terbaik. Persija dinilai belum memiliki the winning team yang benar-benar konsisten, terutama ketika menghadapi lawan dengan kualitas permainan yang kuat.

Pandangan serupa disampaikan Erwin Fitriansyah. Ia menilai Dewa United merupakan tim dengan kualitas pemain yang bagus. Namun, kondisi Persija yang tidak tampil dengan komposisi terbaik turut memengaruhi keseimbangan permainan.

Erwin menyoroti absennya Kolinger yang membuat Rizky harus mengisi posisi tersebut, sementara perubahan itu tidak serta-merta menghasilkan pasangan pemain yang ideal. Hilangnya Fabio di lini tengah juga sangat terasa, terutama dalam menjaga keseimbangan dan aliran permainan Persija.

Selain rotasi pemain, perubahan formasi yang dilakukan STY turut menjadi perhatian. Erwin menjelaskan bahwa penggunaan dua striker kini semakin jarang diterapkan karena membutuhkan penyesuaian pada posisi pemain di belakangnya. Dalam perkembangan sepak bola modern, formasi dengan satu penyerang tengah lebih lazim digunakan.

Tidak hadirnya Arly juga dinilai memberikan pengaruh terhadap permainan Persija. Kombinasi perubahan formasi, rotasi pemain, serta absennya sejumlah elemen penting membuat kekuatan Macan Kemayoran tidak tampil maksimal.

Situasi semakin rumit setelah Persija harus bermain dengan 10 pemain akibat kartu merah. Kondisi itu membuat upaya mengejar ketertinggalan dan menjaga organisasi permainan menjadi semakin berat.

Ophan menilai lini pertahanan Persija juga tidak berada dalam susunan terbaik ketika menghadapi Dewa United. Ia mempertanyakan keputusan STY melakukan rotasi besar ketika tim justru berhadapan dengan lawan yang memiliki kualitas dan kemampuan untuk memberikan tekanan serius.

Meski demikian, persaingan Super League masih terbuka. Persija dinilai masih memiliki sedikit keunggulan jika melihat perjalanan dan kualitas lawan yang telah dihadapi pada pertandingan sebelumnya. Berikutnya, Macan Kemayoran akan menghadapi Persebaya Surabaya dalam pertandingan yang kembali menjadi ujian penting.

Semakin rapatnya jarak poin antartim membuat persaingan Super League kian menarik. Setiap kehilangan poin bisa berdampak besar terhadap posisi di klasemen.

Bagi Ophan, STY masih memiliki pekerjaan rumah yang tidak mudah. Konsistensi dalam menentukan starting eleven, menemukan komposisi terbaik, serta menjaga keseimbangan tim menjadi pekerjaan penting agar Persija tidak kembali kehilangan momentum.

Dalam podcast ITSMe, Erwin Fitriansyah dan Ophan Lamara mengulas performa Persija, termasuk keputusan rotasi dan strategi Shin Tae-yong saat menghadapi Dewa United. Diskusi berlangsung di Studio Sentul, Bogor, Senin (2/11/2026), dengan dipandu Pudila dan Gilang Respaty.