ID EN

Rekor Buruk MU Terulang Setelah 42 Tahun, Posisi Michael Carrick Kian Terancam

Minggu, 1 November 2026 | 18:00

Penulis: Respaty Gilang

Manajer interim Manchester United, Michael Carrick
Manajer interim Manchester United, Michael Carrick. . Foto: Antaranews/Manutd.com

Manchester United tengah menghadapi salah satu periode paling sulit dalam perjalanan klub. Kekalahan 0-2 dari Chelsea di Stamford Bridge, Sabtu, 31 Oktober 2026, memperpanjang catatan tanpa kemenangan Setan Merah menjadi sembilan pertandingan di seluruh kompetisi. Hasil tersebut sekaligus menyamai rentetan negatif terpanjang mereka dalam 42 tahun terakhir.

Catatan itu menjadi pukulan besar bagi Michael Carrick. Pelatih asal Inggris tersebut kini berada dalam tekanan setelah gagal membawa Manchester United keluar dari periode sulit yang sudah berlangsung selama beberapa pekan.

Berdasarkan data Opta, Manchester United terakhir kali melewati periode tanpa kemenangan yang lebih panjang pada September 1984. Saat itu, mereka mencatatkan 10 pertandingan tanpa meraih kemenangan. Artinya, rentetan sembilan laga pada musim 2026/2027 menjadi yang terburuk sejak empat dekade silam.

Dalam sembilan pertandingan terakhir, MU mencatatkan tiga hasil imbang dan enam kekalahan. Kekalahan dari Chelsea menjadi episode terbaru dari rangkaian hasil mengecewakan yang juga mencakup kekalahan dari Como dan Bournemouth.

Situasi semakin rumit karena Manchester United juga tersingkir dari Carabao Cup dan belum mampu menunjukkan konsistensi di kompetisi domestik maupun Eropa.

Kekalahan dari Chelsea Tambah Tekanan untuk Carrick

Pertandingan melawan Chelsea sebenarnya sempat memberikan harapan bagi Manchester United. Pada babak pertama, tim asuhan Carrick mampu menciptakan sejumlah peluang dan memberikan perlawanan kepada tuan rumah.

Namun, situasi berubah setelah Morgan Rogers mencetak gol pembuka Chelsea pada menit ke-50. Pemain tersebut berhasil menembus lini pertahanan MU sebelum melepaskan penyelesaian yang membawa The Blues unggul.

Petaka bagi Manchester United berlanjut ketika Lisandro Martinez menerima kartu merah pada menit ke-63. Pelanggaran terhadap Wesley Fofana membuat wasit memberikan penalti sekaligus mengusir bek asal Argentina tersebut setelah meninjau tayangan VAR.

Cole Palmer yang maju sebagai eksekutor sukses menjalankan tugasnya pada menit ke-64. Gol tersebut memastikan Chelsea mengamankan kemenangan 2-0 sekaligus memperpanjang krisis Manchester United.

Usai pertandingan, Carrick mengakui timnya gagal mempertahankan performa setelah turun minum.

"Kami tidak mampu menunjukkan permainan yang baik pada babak kedua. Seharusnya kami sudah unggul pada babak pertama. Semuanya berjalan sepositif yang kami harapkan. Kami terlihat sangat berbahaya."

Carrick juga menyoroti bagaimana pertandingan berubah setelah timnya kebobolan lebih dahulu.

"Kami justru kehilangan kendali pada babak kedua. Gol yang kami kebobolan itu seharusnya bisa dihindari. Kemudian, penalti membuat situasi semakin sulit bagi kami. Kami benar-benar berada dalam tekanan."

Nasib Michael Carrick Masih Menggantung

Rentetan hasil buruk membuat masa depan Carrick di Old Trafford semakin menjadi sorotan. Kekalahan dari Bournemouth dan Chelsea membuat tekanan terhadap mantan gelandang Manchester United tersebut meningkat.

Sebelumnya, Carrick sempat berada dalam situasi sulit setelah Manchester United kalah 0-3 dari Bournemouth di Old Trafford. Kekalahan itu memperpanjang catatan tanpa kemenangan menjadi delapan pertandingan dan memicu pembicaraan mengenai kemungkinan pergantian pelatih.

Meski demikian, Carrick masih bertahan di posisinya setelah jajaran petinggi klub menggelar pembicaraan mengenai masa depannya. Reuters melaporkan bahwa Carrick tetap memimpin sesi latihan setelah pembicaraan tersebut pada 27 Oktober 2026.

Setelah kekalahan dari Chelsea, Carrick juga menyatakan keyakinannya masih akan mendampingi Manchester United ketika menghadapi AS Roma di Liga Champions pada Selasa mendatang.

Namun, laporan The Athletic yang dikutip sejumlah media Inggris menyebut Manchester United berencana melakukan evaluasi terhadap posisi Carrick menjelang jeda internasional November. Dengan demikian, dua pertandingan berikutnya berpotensi menjadi periode penting bagi masa depan sang pelatih.

Carrick sebelumnya mendapat dukungan dari sebagian suporter karena statusnya sebagai mantan pemain klub. Bahkan, setelah kekalahan dari Bournemouth, sejumlah pendukung memberikan tepuk tangan kepadanya ketika para pemain justru menerima kritik.

Akan tetapi, dukungan tersebut belum cukup untuk menghapus persoalan utama Manchester United, yakni Hasil Pertandingan yang terus mengecewakan.

Dua Pertandingan Berikutnya Jadi Penentu?

Manchester United kini membutuhkan respons cepat untuk menghentikan rentetan negatif tersebut. Pertandingan melawan AS Roma di Liga Champions menjadi kesempatan pertama bagi Carrick untuk membuktikan timnya masih mampu bangkit.

Setelah itu, perhatian akan tertuju pada laga berikutnya sebelum jeda internasional November. Hasil dari dua pertandingan tersebut berpotensi memengaruhi keputusan manajemen mengenai kelanjutan proyek Carrick di Old Trafford.

Bagi Manchester United, persoalannya bukan hanya bagaimana mengakhiri sembilan pertandingan tanpa kemenangan. Klub juga harus menemukan kembali stabilitas permainan dan kepercayaan diri yang selama ini menjadi bagian dari identitas mereka.

Sementara bagi Carrick, waktu untuk membalikkan keadaan semakin terbatas. Rentetan hasil buruk yang terakhir kali terjadi pada 1984 kini menjadi pengingat betapa dalam krisis yang sedang dihadapi Setan Merah.

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!