ID EN

Ada Barongsai, Barongan dan Geguritan. Tapi Ini Bukan Festival Biasa

Minggu, 27 September 2026 | 18:00

Penulis: Rojes Saragih

Festival Unen-Unen Rembang menghadirkan beragam kesenian untuk mengenalkan budaya daerah kepada generasi muda
Festival Unen-Unen Rembang menghadirkan beragam kesenian untuk mengenalkan budaya daerah kepada generasi muda, 26/9/2026. Foto: Antara/Pemkab Rembang

Rembang – Barongsai dan leang-leong yang bergerak mengikuti irama, Barongan Ndas Papat dengan karakter empat kepala barongan, Unen-Unen Rengel hingga geguritan berbahasa Jawa hadir dalam Festival Unen-Unen di Rembang, Jawa Tengah.

Beragam kesenian ini menjadi bagian dari upaya membawa budaya daerah lebih dekat kepada Generasi Muda. Festival tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga melibatkan anak-anak dalam kegiatan edukasi agar mereka dapat mengenal budaya melalui pengalaman langsung.

Festival Unen-Unen digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Kabupaten Rembang di Rumah Dinas Wakil Bupati Rembang, Sabtu (26/9/2026) malam.

Nama “Unen-Unen” sengaja dipilih untuk menimbulkan rasa penasaran masyarakat terhadap isi festival. Di dalamnya, pengunjung dapat menyaksikan berbagai bentuk ekspresi seni, mulai dari pertunjukan yang kuat secara visual hingga kesenian yang mengandalkan Musik dan bahasa.

Barongsai dan leang-leong menjadi salah satu daya tarik pertunjukan. Barongsai menampilkan figur singa yang dimainkan secara berkelompok, sementara leang-leong menghadirkan figur naga yang digerakkan oleh sejumlah pemain menggunakan tongkat.

Keduanya memiliki kekuatan visual yang membuat pertunjukan mudah dinikmati berbagai kalangan, termasuk anak-anak dan Generasi Muda.

Berbeda dengan itu, Barongan Ndas Papat menghadirkan karakter pertunjukan yang lebih teatrikal. Nama “ndas papat” merujuk pada empat kepala barongan yang menjadi ciri visual kesenian tersebut.

Sementara Unen-Unen Rengel membawa unsur Musik tradisional. Kesenian yang berasal dari Rengel, Tuban, ini memperlihatkan bagaimana instrumen dan ekspresi musik tradisional dapat dikembangkan menjadi sebuah pertunjukan.

Di sisi lain, geguritan menghadirkan kekuatan sastra Jawa. Berbentuk puisi berbahasa Jawa, geguritan memberikan ruang bagi penyair untuk menyampaikan gagasan, pengalaman maupun perasaan melalui bahasa yang puitis.

Keberagaman tersebut membuat Festival Unen-Unen tidak hanya menjadi panggung pertunjukan. Festival menjadi ruang pertemuan berbagai cara masyarakat mengekspresikan budaya, melalui gerak, topeng, bunyi hingga kata.

Generasi Muda Jadi Bagian Penting


Kehadiran generasi muda menjadi salah satu bagian penting dari festival. Sekitar 100 siswa sekolah dasar mengikuti kegiatan edukasi teknik mewarnai.

Peserta berasal dari sekolah negeri dan swasta, termasuk sekolah yang berada di bawah Kementerian Agama.

Pelaksana tugas Kepala Dinbudpar Kabupaten Rembang Isti Choma Wati mengatakan, pelibatan pelajar merupakan bagian dari upaya mempercepat regenerasi pelaku seni di Kabupaten Rembang.

“Kita rangkul semua agar regenerasi kita lebih cepat. Di SMP kemarin ada 100 siswa dan hari ini SD juga 100 siswa,” kata Isti di Rembang, Minggu (27/9/2026) dikutip ANTARA.

Upaya serupa sebelumnya dilakukan melalui Rembangan Fest yang melibatkan sekitar 100 siswa SMP. Dalam kegiatan tersebut, para siswa mendapatkan edukasi membuat wayang berbahan jerami sekaligus menikmati pertunjukan kesenian.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa regenerasi budaya tidak hanya dilakukan dengan mempertahankan pertunjukan, tetapi juga dengan memperkenalkan kesenian kepada anak-anak sejak usia sekolah.

Dari Seni hingga Kopi Lelet


Pengalaman Budaya dalam Festival Unen-Unen juga tidak berhenti di atas panggung.

Nuansa lokal hadir melalui makanan dan minuman yang disediakan bagi pengunjung, mulai dari kacang, telo godhok hingga Kopi lelet.

Bagi generasi muda, pengalaman seperti ini memberi cara yang lebih dekat untuk mengenal budaya daerah. Mereka dapat melihat pertunjukan, mengikuti kegiatan kreatif sekaligus merasakan makanan dan minuman yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.

Bagi wisatawan, pengalaman tersebut memiliki daya tarik tersendiri.

Perjalanan ke Rembang tidak hanya tentang mendatangi sebuah tempat, tetapi juga mengenal kesenian, tradisi, kuliner dan kehidupan masyarakat lokal.

Dalam konteks inilah Festival Unen-Unen dapat dilihat sebagai bagian dari pengalaman Wisata Budaya. Seni pertunjukan, aktivitas kreatif dan kuliner lokal bertemu dalam satu ruang yang memungkinkan masyarakat, khususnya generasi muda, berinteraksi langsung dengan budaya.

Pada akhirnya, memperkenalkan budaya kepada generasi muda mungkin tidak cukup hanya dengan meminta mereka melestarikannya.

Mereka perlu diberi kesempatan untuk melihat, mendengar, mencoba dan mengalami budaya tersebut.

Festival Unen-Unen menjadi salah satu contoh bagaimana tradisi dapat diperkenalkan dengan cara yang lebih dekat dengan generasi sekarang—sekaligus membuka ruang bagi Budaya Rembang untuk terus hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya.

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!