ID EN

Tren Wisata Gen Z: AI Jadi Asisten Perjalanan, Bantu Cari Destinasi hingga Susun Itinerary

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 17:30

Penulis: Arif S

Teknologi Artificial Intelligence
Kecenderungan Gen Z menggunakan teknologi Artificial Intelligence untuk mencari destinasi wisata.. Foto: Pixels

Merencanakan liburan kini bisa dimulai dengan sebuah perintah sederhana kepada kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Pengguna dapat meminta rekomendasi destinasi, menyusun itinerary beberapa hari, mencari alternatif transportasi, hingga membandingkan pilihan akomodasi sesuai anggaran.

Cara itu semakin menarik bagi Generasi Z atau Gen Z. Terbiasa menggunakan teknologi digital dalam aktivitas sehari-hari, kelompok usia ini memanfaatkan AI untuk memangkas waktu pencarian informasi dan menyusun rencana perjalanan.

Data Booking.com 2026 dikutip Statista pada 28 Juli 2026 menunjukkan 69 persen responden Gen Z menggunakan AI generatif untuk merencanakan perjalanan maupun ketika sedang bepergian. Angka ini merupakan persentase tertinggi di antara kelompok usia yang diteliti.

Sebagai perbandingan, penggunaan AI untuk kebutuhan perjalanan mencapai 64 persen pada kelompok milenial, 41 persen pada Gen X, dan 11 persen pada Baby Boomers. Survei ini melibatkan 32.800 responden dari 34 negara yang memiliki rencana bepergian pada 2026.

Temuan itu menunjukkan AI semakin dekat dengan kebiasaan Wisatawan Muda. Teknologi ini tidak hanya digunakan untuk mencari ide destinasi, tetapi membantu membandingkan pilihan dan memberikan panduan ketika perjalanan berlangsung.

Riset Mindtrip bersama Sabre, Sojern, dan MMGY Travel Intelligence yang dirilis pada Agustus 2026 memberikan gambaran lebih luas. Sebanyak 54 persen responden dalam survei telah menggunakan AI untuk merencanakan perjalanan, sedangkan 75 persen berniat menggunakannya pada perjalanan berikutnya.

Penggunaan AI juga mulai memengaruhi proses penentuan destinasi. Sebanyak 40 persen responden mengaku pernah menemukan tempat wisata melalui rekomendasi AI, sementara 29 persen pernah mengubah rencana perjalanan berdasarkan saran teknologi itu.

Dalam hal kebutuhan perencanaan, 42 persen responden menggunakan AI untuk mencari informasi itinerary. Sebanyak 32 persen memanfaatkannya untuk membandingkan penerbangan, hotel, dan tur, sedangkan persentase sama menggunakannya untuk menemukan ide destinasi.

Kecenderungan itu terlihat pada kelompok Gen Z. Sebanyak 63 persen responden dari generasi ini menyatakan menggunakan asisten AI sesering media sosial untuk merencanakan perjalanan. Hasil itu menunjukkan AI mulai bersaing dengan platform sosial sebagai sumber referensi wisata.

Riset EY Future Travel Behaviours Observatory turut menunjukkan besarnya minat Generasi Muda terhadap teknologi ini. Hasil riset yang dipublikasikan EY menyebutkan, 66 persen Gen Z tertarik menggunakan asisten virtual berbasis AI untuk merencanakan liburan. Angka itu lebih tinggi dibandingkan minat pada populasi umum, sebesar 48 persen.

AI menawarkan kemudahan karena pengguna dapat menyampaikan kebutuhan perjalanan secara spesifik. Misalnya, wisatawan dapat meminta itinerary tiga hari dengan anggaran tertentu, memilih destinasi ramah keluarga, atau mencari tempat wisata berdekatan agar waktu perjalanan lebih efisien.

Teknologi ini juga dapat membantu menyusun beberapa alternatif rencana. Jika biaya hotel terlalu tinggi, pengguna bisa meminta pilihan akomodasi lain. Jika waktu kunjungan terbatas, urutan destinasi dapat diubah sesuai prioritas.

AI Bukan Satu-satunya Sumber Keputusan

Penggunaan AI tidak berarti seluruh proses perencanaan dapat diserahkan kepada teknologi. Informasi mengenai tarif tiket, jadwal transportasi, jam operasional, dan ketersediaan kamar bisa berubah sewaktu-waktu. Rekomendasi dari AI juga belum tentu mencerminkan kondisi terbaru di lapangan.

Survei Mindtrip bersama mitranya bahkan menunjukkan masih terdapat kesenjangan antara kebiasaan wisatawan dan kesiapan industri. Hanya 22 persen organisasi pemasaran destinasi yang disurvei menyediakan kemampuan perencanaan perjalanan berbasis AI di situs mereka. 

Sementara itu, 63 persen responden menyatakan bersedia menggunakan perencana perjalanan AI langsung melalui situs resmi destinasi.

Kondisi itu menjadi peluang bagi pengelola pariwisata untuk mengembangkan layanan digital yang lebih mudah digunakan. Informasi destinasi akurat, terstruktur, dan diperbarui secara berkala akan membantu teknologi AI memberikan rekomendasi lebih relevan kepada calon pengunjung.

Bagi wisatawan, langkah paling aman adalah menggunakan AI sebagai asisten, bukan satu-satunya sumber keputusan. Harga dan jadwal perlu diperiksa melalui situs resmi penyedia layanan, sedangkan informasi destinasi sebaiknya dikonfirmasi kepada pengelola atau sumber tepercaya.

Pengguna juga perlu berhati-hati ketika memasukkan data pribadi ke dalam layanan AI. Nomor identitas, informasi pembayaran, dan dokumen perjalanan tidak perlu dibagikan jika tidak benar-benar dibutuhkan.

Dengan pemanfaatan tepat, AI dapat membantu proses Perencanaan Liburan menjadi lebih cepat dan fleksibel. Bagi Gen Z, teknologi ini bukan sekadar alat pencari informasi, melainkan asisten digital untuk merancang Pengalaman Perjalanan sesuai kebutuhan.***

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!