ID EN

Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Ujian Taktik John Herdman

Minggu, 27 September 2026 | 13:00

Penulis: Rojes Saragih

Indonesia dan Malaysia akan berhadapan pada laga kedua Grup A Divisi 1 FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Senin (28/9/2026) malam. Pertandingan dijadwalkan kick-off pukul 19.30 WIB.

Duel ini bukan sekadar pertandingan untuk memperebutkan tiga poin. Indonesia dan Malaysia merupakan dua tim yang sama-sama mengawali turnamen dengan kemenangan, sekaligus membawa rivalitas panjang yang membuat pertemuan keduanya selalu sarat gengsi.

Indonesia membuka turnamen dengan kemenangan 2-0 atas Singapura. Ragnar Oratmangoen membawa Garuda unggul pada menit ke-13, sebelum Ole Romeny menggandakan keunggulan melalui penalti pada menit ke-74.

Sementara itu, Malaysia tampil lebih produktif dengan mengalahkan Bangladesh 3-0. Arif Aiman Hanapi mencetak dua gol pada menit ke-18 dan 38, sedangkan penyerang naturalisasi kelahiran Brasil, Bergson Da Silva, mencetak gol ketiga pada menit ke-52.

Hasil tersebut membuat Malaysia dan Indonesia sama-sama mengoleksi tiga poin. Malaysia sementara berada di puncak Grup A karena unggul selisih gol, sedangkan Indonesia menempati posisi kedua.

Namun, pertandingan di GBK akan menghadirkan tantangan berbeda.

Kedua tim sudah melihat permainan lawannya pada pertandingan pertama. Karena itu, aspek taktik menjadi semakin penting. Pelatih Indonesia John Herdman bisa saja melakukan perubahan agar permainan Garuda tidak mudah dibaca Malaysia.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan Pengamat Sepak Bola Yusuf Kurniawan dalam Podcast ITSMe di Studio Sentul, Bogor, Sabtu (26/9/2026), yang dipandu Yatna dan Pudila.

Menurut Bung Yuke, Herdman perlu mempertimbangkan pendekatan yang berbeda setelah Malaysia memiliki gambaran mengenai permainan Indonesia saat menghadapi Singapura.

Ia juga berharap Garuda dapat memperlihatkan permainan seperti ketika menghadapi Oman dan Mozambik, dengan intensitas dan keberanian menyerang yang lebih kuat.

Rayhan Hannan dan Egy Maulana Vikri menjadi dua nama yang dinilai bisa memberikan energi tambahan jika dimainkan sejak awal. Mobilitas keduanya juga dapat digunakan untuk memberikan tekanan dan menguras stamina pemain Malaysia.

Tetapi Malaysia memiliki ancaman yang tidak boleh diabaikan.

Bergson Da Silva langsung mencetak gol pada debutnya bersama Malaysia. FIFA mencatat striker kelahiran Brasil yang telah dinaturalisasi itu menjadi salah satu pemain yang mendapat perhatian setelah kemenangan atas Bangladesh.

Selain Bergson, Arif Aiman juga menunjukkan ketajamannya dengan dua gol pada pertandingan pertama. Artinya, lini pertahanan Indonesia harus mampu mengantisipasi lebih dari satu sumber ancaman.

Pengamat Sepak Bola Erwin Fitriansyah menyoroti persoalan lain, yakni ketajaman lini depan Indonesia.

Menurut Erwin, Mitchell Baker dan Ole Romeny dapat menjadi pilihan di lini serang. Namun, agresivitas tersebut harus tetap diimbangi keseimbangan antara lini depan, tengah, dan belakang.

Keseimbangan menjadi penting karena Malaysia memiliki pemain yang mampu memanfaatkan ruang ketika lawan kehilangan bola.

Menariknya, John Herdman sendiri mengakui besarnya arti pertandingan ini. Pelatih Indonesia tersebut mengatakan dirinya semakin memahami rivalitas Indonesia-Malaysia setelah setiap hari mendapat pengingat dari orang-orang di hotel tempatnya tinggal. Herdman bahkan membandingkannya dengan Tyne-Wear Derby antara Newcastle dan Sunderland.

Namun Herdman juga mengingatkan pemainnya agar tidak terbawa suasana. Menurutnya, pertandingan derby harus dihormati, tetapi Indonesia tetap harus menjalankan permainan dan memberikan seluruh kemampuan di lapangan.

Inilah yang membuat laga Indonesia Vs Malaysia menjadi menarik.

Garuda memiliki modal kemenangan 2-0 atas Singapura. Malaysia datang dengan kemenangan 3-0 atas Bangladesh. Keduanya sudah mengetahui kekuatan awal lawan dan kini harus mencari cara untuk membuat permainan masing-masing lebih sulit dibaca.

Bagi Herdman, tantangannya bukan hanya memilih sebelas Pemain Terbaik.

Ia harus menemukan komposisi yang mampu menjaga keseimbangan, mempertahankan intensitas serangan, sekaligus meredam pemain-pemain berbahaya Malaysia.

Di GBK, Derbi Serumpun akan menjadi ujian berikutnya bagi Indonesia.

Pertanyaannya bukan hanya siapa yang lebih kuat, tetapi siapa yang mampu membaca pertandingan dengan lebih cepat dan menerapkan taktik dengan lebih efektif.