Persamaan Carrick dan Solskjaer, Awal Manis Berujung Krisis di Manchester United
Rabu, 28 Oktober 2026 | 12:35
Penulis: Arif S

Michael Carrick dan Ole Gunnar Solskjaer menghadapi persoalan yang nyaris sama di Manchester United. Keduanya sempat membawa harapan baru ketika datang sebagai manajer interim di Old Trafford, tetapi situasi berubah setelah kepercayaan manajemen diberikan secara permanen.
Carrick menjadi sorotan setelah Manchester United terpuruk di awal musim 2026/2027. Kekalahan 0-3 dari Bournemouth dalam lanjutan Liga Inggris di Old Trafford dan 1-4 dari Como di Liga Champions memperbesar tekanan kepada pelatih yang beberapa bulan sebelumnya sukses mengantar Setan Merah kembali ke kompetisi karta tertinggi Eropa.
Situasi ini mengingatkan perjalanan mantan Manajer Manchester United, Solskjaer. Manajer asal Norwegia juga menikmati awal menjanjikan setelah menggantikan Jose Mourinho pada Desember 2018. Namun, performa tim merosot setelah status interimnya berubah menjadi jabatan permanen pada Maret 2019.
BACA JUGA
Kursi Michael Carrick Mulai Goyah, Manchester United Siapkan Opsi Manajer Pengganti
Menang Dramatis Atas Fulham, Carrick: Rasanya Lebih dari Sekadar Tiga Poin
Michael Carrick Terbangkan MU ke Liga Champions, Kontrak Permanen Segera Disepakati?
Awal Gemilang Berujung Perangkap Sentimental
Ketika menggantikan Ruben Amorim pada Januari 2026, Carrick berhasil mengubah suasana di ruang ganti Manchester United. Tim yang sebelumnya kesulitan menemukan konsistensi mulai meraih kemenangan, termasuk saat menghadapi sejumlah klub besar Premier League.
Carrick mencatatkan 11 kemenangan, tiga hasil imbang, dan dua kekalahan dalam 16 pertandingan liga pada periode interimnya. Catatan itu membantu Manchester United mengamankan posisi ketiga dan tiket Liga Champions, sekaligus memperkuat dukungan agar posisinya dipertahankan sebagai manajer tetap.
Manajemen akhirnya memberikan kontrak berdurasi dua tahun kepada Carrick pada Mei 2026. Keputusan itu didasarkan pada hasil positif sekaligus kemampuannya membangun kembali kepercayaan diri pemain dan suasana di ruang ganti.
Solskjaer pernah melewati fase serupa. Ia membawa Manchester United meraih serangkaian kemenangan setelah menggantikan Mourinho, termasuk kemenangan atas Paris Saint-Germain di Liga Champions. Performa itu diapresiasi manajemen dengan mengangkatnya sebagai manajer permanen pada Maret 2019.
Namun, momentum positif itu tidak bertahan lama. Manchester United menutup musim 2018/2019 di peringkat keenam setelah mengalami sejumlah kekalahan penting, termasuk dari Wolverhampton Wanderers, Everton, dan Manchester City.
Dua perjalanan itu memunculkan pertanyaan tentang risiko mengambil keputusan berdasarkan momentum awal. Keberhasilan dalam periode interim belum tentu menjamin seorang manajer mampu mempertahankan performa ketika menghadapi tekanan dan ekspektasi dalam jangka panjang.
Statistik Carrick Merosot Setelah Jadi Manajer Permanen
Perbedaan performa Carrick terlihat jelas ketika membandingkan periode interim dengan awal musim 2026/2027. Saat masih berstatus manajer sementara, ia mampu membawa Manchester United bersaing di papan atas. Setelah menjadi pelatih tetap, tim justru terjebak dalam krisis hasil.
Carrick mengoleksi dua kemenangan, empat hasil imbang, dan enam kekalahan dalam 12 pertandingan di semua kompetisi pada musim 2026/2027. Persentase kemenangannya hanya 16,7 persen.
Di Premier League, Manchester United hanya meraih satu kemenangan dari delapan pertandingan, disertai empat hasil imbang dan tiga kekalahan. Koleksi tujuh poin ini menempatkan Setan Merah di peringkat ke-16, hanya satu poin di atas zona degradasi.
Hasil di kompetisi lain juga belum cukup membantu. Manchester United mencatat satu kemenangan dan dua kekalahan dalam tiga pertandingan Liga Champions, sebelum tersingkir dari Piala Liga Inggris setelah menelan satu kekalahan.
Rentetan hasil buruk itu meningkatkan tekanan kepada Carrick. Manchester United juga melewati delapan pertandingan tanpa kemenangan di semua kompetisi, termasuk kekalahan telak dari Como dan Bournemouth.
Solskjaer Menjadi Peringatan Bagi Manajemen MU
Pengalaman Solskjaer memberikan gambaran, perubahan status manajer dapat membawa tekanan berbeda. Setelah mendapatkan jabatan permanen, ia tidak lagi sekadar dituntut memperbaiki keadaan, tetapi juga menjaga konsistensi dan membangun tim untuk bersaing sepanjang musim.
Solskjaer sempat membawa Manchester United finis di posisi ketiga pada musim 2019/2020 dan posisi kedua pada 2020/2021. Namun, ia akhirnya diberhentikan pada November 2021 setelah performa tim kembali menurun.
Selama menangani klub sebagai manajer permanen, ia membukukan 78 kemenangan, 33 hasil imbang, dan 38 kekalahan dalam 149 pertandingan.
Carrick kini menghadapi tantangan serupa, meskipun situasi keduanya tidak sepenuhnya identik. Solskjaer mendapatkan waktu untuk membangun kembali tim setelah awal yang sulit, sedangkan tekanan terhadap Carrick meningkat tajam ketika Manchester United terpuruk di dekat zona degradasi.
Perdebatan di internal klub mengenai langkah berikutnya juga menjadi bagian dari persoalan. Nama Julian Nagelsmann, Eddie Howe, dan Kieran McKenna mulai dikaitkan dengan posisi Pelatih Manchester United, meskipun kabar mengenai kandidat pengganti tidak berarti keputusan pemecatan telah ditetapkan.
Setelah kekalahan dari Bournemouth, Jamie Carragher termasuk pandit yang menilai masa depan Carrick di Old Trafford berada dalam bahaya. Namun, Manchester United masih memberinya kesempatan memimpin tim saat menghadapi Chelsea pada akhir pekan.***











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!