Malang – Di lereng Gunung Arjuno, Kabupaten Malang, Jawa Timur, terdapat sebuah kawasan yang menawarkan pengalaman perjalanan dengan karakter yang cukup unik.
Namanya Budug Asu.
Berada di kawasan Singosari dan memiliki ketinggian sekitar 1.422 meter di atas permukaan laut (mdpl), Budug Asu menjadi salah satu tujuan perjalanan alam di kawasan lereng Arjuno.
BACA JUGA
Dari Sumbar ke Dunia: Ngarai Sianok Targetkan Status Geopark UNESCO
Catat Tanggalnya! Gunung Bromo Tutup Sementara Mulai 30 Mei 2026
Danau Tianchi, Permata Tersembunyi Xinjiang yang Memadukan Gunung Salju dan Legenda Ratu Surga
Namun, daya tariknya bukan hanya apa yang terlihat ketika tiba di puncak.
Perjalanan menuju Budug Asu justru menjadi bagian penting dari pengalaman.
Hamparan kebun teh, hutan pinus, udara sejuk, hingga jalur yang menanjak dan licin menjadi rangkaian perjalanan sebelum akhirnya sampai di kawasan puncak.
Perjalanan kali ini dilakukan oleh reporter ITSMe, Raisha dan Syafira, yang memulai perjalanan dari Kota Surabaya, Jawa Timur.
Dari Surabaya, perjalanan menuju kawasan Budug Asu ditempuh sekitar dua jam.
Melewati Kebun Teh Wonosari
Akses perjalanan menuju Budug Asu membawa pengunjung melewati Kebun Teh Wonosari.
Setelah kendaraan diparkir di area masuk, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki.
Hamparan tanaman teh langsung menyambut.
Barisan tanaman hijau membentang mengikuti kontur lereng Gunung Arjuno. Udara yang sejuk membuat perjalanan terasa berbeda dibandingkan suasana perkotaan.
Di kawasan perkebunan, aktivitas para pemetik teh juga menjadi bagian dari pemandangan.
Kebun Teh Wonosari memiliki sejarah panjang. Perkebunan ini mulai dibuka pada 1875 pada masa kolonial Belanda. Pada masa awal pengembangannya, kawasan ini tidak hanya ditanami teh, tetapi juga digunakan untuk tanaman kopi dan kina.
Pengembangan tanaman teh mulai dilakukan sekitar 1910.
Setelah Indonesia merdeka, perkebunan tersebut kemudian diambil alih oleh negara.
Hingga kini, aktivitas perkebunan masih menjadi bagian dari kehidupan di kawasan Wonosari.
Di tengah perjalanan, kami pun sempat berbincang dengan para pemetik teh sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju Budug Asu.
Dari Kebun Teh Masuk ke Hutan Pinus
Setelah melewati perkebunan teh, suasana perjalanan perlahan berubah.
Jalur mulai memasuki kawasan hutan pinus.
Pohon-pohon pinus berdiri menjulang di sepanjang jalur. Suasana menjadi lebih teduh dan nuansa perjalanan semakin terasa seperti petualangan alam.
Hutan pinus bukan hanya memberikan suasana berbeda bagi perjalanan.
Vegetasi di kawasan tersebut juga memiliki fungsi ekologis. Sistem perakaran membantu menjaga kestabilan tanah, sementara pepohonan memberikan perlindungan dan ruang hidup bagi berbagai organisme.
Semakin jauh berjalan, jalur semakin membawa perjalanan mendekati kawasan Budug Asu.
Hingga akhirnya, sebuah pos menjadi titik penting sebelum perjalanan menuju puncak dilanjutkan.
Dua Jalur Menuju Budug Asu
Dari pos tersebut, terdapat dua pilihan jalur.
Jalur pertama memiliki panjang sekitar 2 kilometer.
Jaraknya memang lebih jauh, tetapi kontur jalurnya cenderung lebih landai dan relatif lebih mudah dilalui.
Pilihan lainnya hanya sekitar 800 meter.
Namun, jarak yang lebih pendek justru menghadirkan tantangan yang berbeda.
Jalur 800 meter memiliki trek yang lebih menanjak dan curam.
Dua pilihan tersebut menawarkan karakter perjalanan yang berbeda, tetapi membawa menuju tujuan yang sama.
Dalam perjalanan ini, jalur 800 meter menjadi pilihan.
Dan tantangannya langsung terasa.
Trek yang menanjak dan licin membuat langkah harus lebih hati-hati. Beberapa bagian jalur juga membutuhkan tenaga lebih untuk melewatinya.
Di sinilah perjalanan menuju Budug Asu menjadi lebih dari sekadar perjalanan menuju sebuah tempat.
Ada usaha di setiap langkah.
Budug Asu di Ketinggian 1.422 MDPL
Setelah melewati jalur tersebut, perjalanan akhirnya sampai di kawasan Budug Asu.
Berada di ketinggian sekitar 1.422 mdpl, kawasan ini menawarkan panorama dari lereng Gunung Arjuno dengan sudut pandang yang berbeda.
Dari atas, bentang alam Malang terlihat lebih luas.
Udara sejuk dan lanskap terbuka menjadi pengalaman yang didapat setelah melewati perjalanan dari bawah.
Nama Budug Asu sendiri juga memiliki cerita yang menarik.
Salah satu versi yang berkembang di masyarakat mengaitkan nama tersebut dengan keberadaan anjing liar yang dahulu sering berkeliaran di kawasan ini.
Karena merupakan cerita atau versi lokal mengenai asal-usul nama, kisah tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari cerita masyarakat yang berkembang tentang Budug Asu.
Nama yang unik itu kini melekat pada sebuah kawasan yang justru menawarkan pemandangan alam dan pengalaman perjalanan.
Budug Asu dan Cerita di Sepanjang Perjalanan
Budug Asu pada akhirnya bukan hanya tentang titik tujuan di ketinggian 1.422 mdpl.
Daya tariknya justru terasa sejak perjalanan dimulai.
Dari Surabaya, perjalanan berlanjut menuju Kebun Teh Wonosari.
Dari kebun teh, jalur membawa pengunjung memasuki hutan pinus.
Kemudian perjalanan sampai di pos dengan dua pilihan trek.
Ada jalur 2 kilometer yang relatif lebih landai.
Ada pula jalur 800 meter yang lebih pendek, tetapi lebih curam.
Semua bagian tersebut menjadi satu rangkaian sebelum akhirnya sampai di Budug Asu.
Perjalanan seperti ini menunjukkan bahwa pengalaman sebuah destinasi alam tidak selalu hanya ditentukan oleh pemandangan di titik akhir.
Jalan yang dilewati, suasana di sepanjang perjalanan, interaksi dengan masyarakat sekitar, hingga tantangan medan semuanya menjadi bagian dari cerita.
Di Budug Asu, perjalanan tersebut berakhir di ketinggian 1.422 mdpl.
Tetapi cerita tentang perjalanan menuju ke sana justru menjadi bagian yang tidak kalah menarik.
Budug Asu.
Lereng Gunung Arjuno.
Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Sebuah perjalanan alam yang mempertemukan kebun teh, hutan pinus, jalur menanjak, dan panorama Malang dalam satu rangkaian perjalanan.
Inilah ITSMe Travel Series.










