Liburan Gen Z: Wisata Alam Terbuka Jadi Alternatif Mengisi Akhir Pekan
Jumat, 6 November 2026 | 14:30
Penulis: Arif S

Pilihan generasi muda untuk menghabiskan akhir pekan mulai berubah. Jika sebelumnya pusat perbelanjaan dan kafe menjadi tempat favorit untuk berkumpul, kini wisata alam terbuka semakin menarik perhatian Gen Z.
Hutan pinus, kawasan mangrove, hingga air terjun menjadi tujuan untuk melepas penat setelah menjalani rutinitas kuliah maupun pekerjaan.
Selain menawarkan suasana jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, destinasi itu juga memberikan pengalaman beraktivitas di alam dengan biaya relatif terjangkau.
BACA JUGA
Tren Healing Gen Z: Mengapa Mendaki Gunung Semakin Diminati Anak Muda?
Wisata Hemat: Malaysia dan Singapura Bisa Jadi Pilihan Liburan Singkat Gen Z Indonesia
Tren Healing Gen Z: 5 Gunung Ramah Pendaki Pemula dengan Pemandangan Menakjubkan
Perubahan preferensi ini sejalan dengan hasil survei Indonesia Gen Z Report 2024. Sebanyak 84% responden Gen Z memilih pengalaman alam yang sepi dan indah sebagai destinasi untuk memulihkan semangat atau healing.
Survei juga mencatat 90% responden memandang liburan sebagai kesempatan mengeksplorasi tempat baru, budaya, dan kuliner.
Temuan itu menunjukkan wisata bagi Gen Z bukan sekadar berpindah tempat. Pengalaman, suasana, dan kesempatan mengambil jeda dari rutinitas menjadi bagian penting dalam menentukan tujuan perjalanan.
Besarnya pasar wisata domestic membuka peluang bagi destinasi alam di sekitar ibu kota Jakarta. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perjalanan Wisatawan Nusantara mencapai 938,84 juta perjalanan sepanjang Januari hingga September 2026. Jumlah itu tumbuh 4,10% dibandingkan periode sama pada 2025.
Data Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Agustus 2026 juga menunjukkan Jawa Barat menjadi salah satu provinsi tujuan utama wisatawan nusantara, dengan 18,7 juta perjalanan.
Jumlah ini meningkat 12,40% dibandingkan Agustus 2025. Pada periode sama, DKI Jakarta mencatat 9,14 juta perjalanan dan Banten 5,8 juta perjalanan.
Di sekitar Jakarta, tren wisata alam terlihat dari meningkatnya daya tarik sejumlah destinasi. Kawasan Ekowisata Mangrove Pantai Indah Kapuk (PIK), menawarkan pengalaman menjelajahi lingkungan pesisir tanpa harus meninggalkan kawasan ibu kota.
Pilihan lainnya berada di wilayah Bogor. Kawasan Gunung Pancar dengan hutan pinusnya serta sejumlah air terjun di Sentul menjadi alternatif bagi anak muda yang ingin menikmati udara lebih sejuk dan suasana alami.
Kecenderungan generasi muda memilih perjalanan untuk kebutuhan rekreasi juga mendapat perhatian BPS.
Dalam publikasi Cerita Data Statistik untuk Indonesia: Generasi Milenial dan Z dalam Dinamika Perjalanan Leisure yang dirilis pada 29 Agustus 2025, BPS mengungkapkan generasi Milenial dan Gen Z mendominasi perjalanan leisure pada 2023.
Publikasi itu turut menyoroti pengaruh kebutuhan psikologis dan media sosial terhadap keputusan melakukan perjalanan.
Kemenpar meluncurkan Indonesia Tourism Outlook 2026/2027 pada 28 September 2026. Laporan itu disiapkan sebagai referensi untuk membaca perubahan industri, peluang, dan tantangan pariwisata ke depan.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyoroti dinamika global, tantangan iklim, serta perkembangan kecerdasan buatan yang ikut memengaruhi lanskap pariwisata.
Bagi Gen Z, healing tidak selalu berarti perjalanan jauh atau menginap di tempat mahal. Aktivitas sederhana seperti trekking menuju air terjun, piknik di bawah pepohonan, atau menikmati pemandangan alam sudah menjadi cara untuk menyegarkan pikiran.
Kedekatan lokasi menjadi salah satu alasan wisata alam sub-urban semakin diminati. Anak muda dari Jakarta dan sekitarnya bisa berangkat pada pagi hari, menikmati suasana alam, lalu kembali pada hari yang sama tanpa perlu mengambil cuti.
Fenomena ini membuka peluang bagi perekonomian masyarakat di sekitar destinasi. Pelaku usaha lokal dapat mengembangkan layanan perjalanan, penyewaan perlengkapan, kuliner, hingga jasa pemandu wisata untuk menjangkau pengunjung muda.
Karena itu, pengelola destinasi perlu menyesuaikan fasilitas dengan kebutuhan wisatawan masa kini. Akses informasi digital, sistem pembayaran praktis, fasilitas sanitasi, serta jaringan komunikasi dapat menjadi nilai tambah.
Namun, pengembangan fasilitas tetap perlu memperhatikan daya dukung lingkungan agar peningkatan kunjungan tidak merusak kawasan alam.
Dengan preferensi perjalanan semakin mengarah pada pengalaman personal dan aktivitas luar ruang, Gen Z berpotensi terus menjadi salah satu penggerak perubahan Industri Pariwisata.
Wisata alam di sekitar Jabodetabek memiliki peluang berkembang, selama pengelola mampu menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas pengalaman pengunjung.***











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!