Tren Wisata Santai Gen Z: Menikmati Destinasi Lebih Lama dan Menolak Overtourism
Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:43
Penulis: Arif S

Tren liburan di kalangan anak muda mulai bergeser. Jika sebelumnya perjalanan sering diisi dengan kunjungan ke banyak destinasi populer dalam waktu singkat, kini semakin banyak pelancong muda memilih slow travel atau wisata santai.
Mereka ingin tinggal lebih lama di satu tempat, mengenal kehidupan masyarakat setempat, dan menikmati perjalanan tanpa terbebani jadwal padat.
Alih-alih mengejar lima destinasi viral dalam dua hari, wisatawan muda mulai melirik desa wisata dan kota kecil sebagai tempat untuk beristirahat sekaligus mengeksplorasi kehidupan lokal. Berjalan kaki, menggunakan Transportasi Umum, hingga mencicipi kuliner khas menjadi bagian penting dari pengalaman itu.
BACA JUGA
Pergeseran Tren Wisata Generasi Z dan Milenial, Pengalaman Lebih Berharga Dibanding Spot Foto
Wajah Baru Pariwisata Indonesia di Tangan Gen Z, Pengalaman Bermakna Jadi Daya Tarik
Yogyakarta dan Bali Jadi Andalan Kemenpar Promosikan Wisata Kuliner Indonesia
Perubahan ini turut membuka peluang bagi destinasi wisata untuk mengurangi tekanan akibat overtourism, kepadatan pengunjung secara berlebihan di kawasan populer.
Dengan menyebar kunjungan dan tinggal lebih lama, wisatawan berpeluang memberi manfaat ekonomi lebih besar bagi masyarakat setempat tanpa harus menambah kepadatan di objek wisata utama.
Bagi sebagian anak muda, slow travel menjadi cara untuk memulihkan diri dari rutinitas pekerjaan dan derasnya arus informasi digital.
Liburan tidak lagi sekadar berpindah tempat, tetapi menjadi kesempatan untuk memperlambat ritme hidup, menikmati suasana, dan membangun hubungan lebih dekat dengan lingkungan sekitar.
Voluntourism Jadi Ajang Pengembangan Diri Gen Z
Selain slow travel, wisata sukarela (voluntourism) juga berkembang sebagai pilihan perjalanan bagi generasi muda. Mahasiswa dan pekerja muda mulai memanfaatkan libur semester maupun jatah cuti untuk terlibat dalam kegiatan sosial, konservasi satwa, pelestarian lingkungan, hingga pengajaran di sekolah-sekolah pelosok.
Aktivitas itu menawarkan pengalaman berbeda dari liburan konvensional. Wisatawan tidak hanya datang sebagai pengunjung, tetapi juga ikut berkontribusi kepada komunitas atau lingkungan di destinasi tujuan.
Erifili Gounari, CEO sekaligus pendiri lembaga riset pemasaran The Z Link, menilai tren itu berkaitan dengan cara generasi Z memaknai masa muda dan perjalanan.
"Gen Z memperlakukan perjalanan bukan sekadar liburan santai untuk bersenang-senang, melainkan sebagai bentuk pengembangan diri (self-development). Itulah mengapa program wisata yang menawarkan pengalaman eksklusif bermakna sosial sangat diminati mereka," ujar Gounari dalam Studi Perilaku Wisatawan Muda "The Z Link" & NY Times Travel Analysis.
Pengalaman memberi kontribusi positif menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan muda. Kepuasan setelah membantu masyarakat atau mendukung upaya konservasi bahkan dapat terasa lebih berarti daripada sekadar menikmati fasilitas hotel mewah.
Meski demikian, program voluntourism perlu dirancang secara bertanggung jawab. Kegiatan harus menjawab kebutuhan komunitas, melibatkan mitra lokal, dan memberikan manfaat nyata agar tidak berhenti sebagai aktivitas wisata berlabel sosial.
Desa Wisata dan UMKM Mendapat Manfaat dari Sight-Doing
Pergeseran tren ini turut membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di destinasi wisata. Anak muda mulai mengutamakan sight-doing, yaitu melakukan aktivitas interaktif di tempat tujuan, dibandingkan hanya sight-seeing atau menikmati pemandangan.
Mereka tertarik mengikuti lokakarya membatik, belajar memasak kuliner tradisional, mencoba kegiatan pertanian bersama warga, hingga mengenal kerajinan khas daerah secara langsung. Aktivitas semacam ini memberi pengalaman lebih personal sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya lokal.
Dampaknya dapat dirasakan pelaku usaha skala kecil. Wisatawan yang mengikuti kelas membatik, menginap di homestay milik warga, atau membeli makanan di warung tradisional ikut menggerakkan ekonomi komunitas.
Pola belanja ini membuka kesempatan bagi pemandu lokal, pemilik penginapan, perajin, petani, dan pelaku usaha kuliner untuk memperoleh manfaat langsung dari aktivitas pariwisata. Uang yang dibelanjakan wisatawan berpeluang berputar di tingkat masyarakat, bukan hanya terkonsentrasi pada jaringan usaha besar.
Kementerian Pariwisata menilai pengembangan wisata berbasis potensi budaya lokal dapat membantu memperkuat ketahanan ekonomi regional secara berkelanjutan.
Slow Travel Membuka Arah Baru Pariwisata Berkelanjutan
Meningkatnya minat terhadap slow travel, voluntourism, dan sight-doing menunjukkan, pengalaman menjadi bagian penting dalam keputusan berwisata generasi muda.
Mereka tidak hanya mencari tempat menarik untuk dikunjungi, tetapi juga ingin memahami kehidupan setempat dan meninggalkan dampak positif.
Bagi pengelola destinasi di Indonesia, tren ini menjadi peluang untuk mengembangkan paket wisata lebih mendalam.
Desa wisata dapat menawarkan pengalaman hidup bersama warga, kegiatan budaya, wisata kuliner, hingga aktivitas alam dengan memperhatikan daya dukung lingkungan.
Pendekatan ini dapat membantu mengurangi ketergantungan destinasi terhadap kunjungan singkat dalam jumlah besar. Wisatawan yang tinggal lebih lama memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengenal daerah tujuan dan membelanjakan uangnya pada usaha lokal.
Namun, keberhasilan slow travel tidak hanya ditentukan lamanya wisatawan tinggal. Pengelolaan lingkungan, kualitas pengalaman, keterlibatan masyarakat, serta pembagian manfaat ekonomi tetap menjadi faktor penting.
Pada akhirnya, tren ini menawarkan cara berbeda dalam menikmati perjalanan. Tidak terburu-buru mengejar banyak tempat, melainkan memberi waktu untuk mengenal satu destinasi secara lebih dekat.
Bagi pariwisata Indonesia, pendekatan ini dapat menjadi jalan untuk menjaga kelestarian destinasi sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.***











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!