Pergeseran Tren Wisata Generasi Z dan Milenial, Pengalaman Lebih Berharga Dibanding Spot Foto
Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:24
Penulis: Arif S

Tren pariwisata di kalangan generasi muda Indonesia mulai berubah. Generasi Z dan Milenial tidak lagi sekadar berburu spot foto populer untuk diunggah ke media sosial. Mereka semakin tertarik pada perjalanan bermakna, pengalaman autentik, serta interaksi langsung dengan masyarakat lokal.
Perubahan ini mendorong industri pariwisata untuk meninjau kembali paket perjalanan konvensional. Liburan tidak cukup hanya menawarkan kunjungan ke sejumlah objek wisata, tetapi juga perlu menghadirkan pengalaman budaya, kedekatan dengan alam, dan kesempatan membangun hubungan sosial.
Laporan Indonesia Tourism Outlook menyoroti keterlibatan budaya (cultural immersion) dan wisata ramah lingkungan (eco-friendly tourism) sebagai bagian penting dari tren pariwisata global.
BACA JUGA
Tren Wisata Santai Gen Z: Menikmati Destinasi Lebih Lama dan Menolak Overtourism
Wajah Baru Pariwisata Indonesia di Tangan Gen Z, Pengalaman Bermakna Jadi Daya Tarik
Yogyakarta dan Bali Jadi Andalan Kemenpar Promosikan Wisata Kuliner Indonesia
Sejalan dengan itu, riset Pacific Asia Travel Association (PATA) bersama Euromonitor International bertajuk Tourism in Focus mencatat wisatawan muda semakin selektif dalam menentukan Pengalaman Perjalanan.
Mereka bahkan bersedia mengeluarkan biaya lebih besar demi memperoleh pengalaman berharga daripada sekadar membeli barang mewah atau kendaraan mahal.
Bagi kelompok ini, nilai sebuah perjalanan tidak hanya ditentukan destinasi, tetapi juga cerita dan pengalaman pribadi selama berada di sana.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini, menilai perubahan ini berkaitan erat dengan cara generasi muda memaknai perjalanan.
"Gen Z, khususnya, mencari makna. Ketika mereka bepergian, perjalanan itu harus berarti sesuatu bagi mereka. Hal itulah yang mengubah jenis pengalaman pariwisata yang ingin mereka capai," ujar Ni Made Ayu Marthini.
Ayu mencontohkan perubahan itu dalam aktivitas pendakian gunung. Jika sebelumnya banyak wisatawan fokus mencapai puncak demi mendapatkan foto terbaik, kini pengalaman sepanjang perjalanan turut menjadi daya tarik.
Interaksi dengan pemandu lokal, pengenalan budaya masyarakat sekitar, hingga pengamatan keanekaragaman hayati mulai mendapat perhatian lebih besar.
Pergeseran ini juga menunjukkan meningkatnya minat terhadap Experiential Tourism, pariwisata berbasis pengalaman. Pelaku industri perlu menghadirkan kegiatan lebih dekat dengan kehidupan setempat, bukan hanya menawarkan kunjungan singkat ke tempat populer.
Generasi Muda Mencari Koneksi Manusiawi
Kedekatan generasi muda dengan teknologi digital ternyata tidak menghilangkan kebutuhan mereka terhadap pengalaman nyata.
Setelah terbiasa melihat berbagai destinasi melalui layar, sebagian pelancong justru ingin merasakan sendiri suasana tempat, bertemu orang baru, dan memahami kehidupan masyarakat setempat.
Kajian mengenai budaya perjalanan digital di Indonesia menyoroti perjalanan mandiri atau do-it-yourself travel sebagai salah satu cara anak muda mengekspresikan identitas diri.
Mereka ingin menyusun rencana perjalanan sesuai minat pribadi, menentukan tempat tujuan sendiri, dan menciptakan pengalaman di luar pola liburan massal.
Paparan konten media sosial menjadikan keaslian semakin bernilai. Ketika foto dan video perjalanan mudah dikurasi agar terlihat sempurna, pengalaman spontan dan interaksi tanpa rekayasa justru menawarkan daya tarik tersendiri.
Karena itu, Destinasi Tersembunyi (hidden gem) semakin menarik bagi wisatawan muda. Tempat-tempat seperti itu memberi kesempatan untuk menemukan suasana berbeda sekaligus membangun cerita perjalanan khas setiap individu.
Lebih dari sekadar mencari lokasi baru, perjalanan juga menjadi sarana untuk melepas penat, menemukan ketenangan, dan meningkatkan empati terhadap budaya lain.
Kenangan personal dan hubungan dengan orang-orang selama perjalanan dapat menjadi bagian paling berharga dari liburan.
Peluang Baru Bagi Industri Pariwisata Indonesia
Pergeseran preferensi membuka peluang bagi destinasi dan pelaku usaha pariwisata di Indonesia. Desa wisata, kegiatan berbasis tradisi lokal, wisata alam berkelanjutan, serta pengalaman bersama komunitas dapat dikembangkan untuk menjawab kebutuhan generasi muda.
Pemandu lokal, misalnya, tidak hanya bertugas menunjukkan arah atau menjelaskan objek wisata. Mereka dapat memperkenalkan sejarah, tradisi, kuliner, dan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. Pengalaman seperti ini memberi nilai tambah bagi wisatawan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi komunitas lokal.
Namun, tren wisata autentik perlu diimbangi dengan tanggung jawab terhadap lingkungan dan budaya setempat. Popularitas destinasi tersembunyi berpotensi meningkatkan tekanan terhadap alam apabila kunjungan tidak dikelola secara tepat.
Bagi Kemenpar dan pelaku industri, tantangannya adalah merancang produk perjalanan lebih fleksibel, personal, dan berkelanjutan. Paket wisata perlu memberi ruang bagi wisatawan untuk terlibat langsung, bukan hanya berpindah dari satu objek ke objek lain.
Pada akhirnya, pergeseran tren pariwisata generasi muda menunjukkan, liburan semakin dipandang sebagai investasi pengalaman. Foto perjalanan tetap menjadi bagian dari kenangan, tetapi makna, koneksi manusiawi, dan cerita autentik kini memiliki tempat lebih besar dalam menentukan pengalaman wisata.***











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!