ID EN

Wajah Baru Pariwisata Indonesia di Tangan Gen Z, Pengalaman Bermakna Jadi Daya Tarik

Rabu, 28 Oktober 2026 | 15:30

Penulis: Arif S

Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) kekinian di Jalan Ahmad Yani, Bekasi, Jawa Barat
Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) kekinian di Jalan Ahmad Yani, Bekasi, Jawa Barat. . Foto: Antara Foto/Fakhri Hermansyah

Generasi Z mulai mengubah cara orang menikmati perjalanan. Bagi Wisatawan Muda, liburan bukan lagi sekadar berburu foto estetik untuk media sosial, melainkan kesempatan menemukan pengalaman baru, mengenal budaya lokal, sekaligus melepas penat dari rutinitas sehari-hari.

Perubahan ini ikut mendorong perkembangan pariwisata urban. Destinasi dengan perpaduan ruang terbuka, suasana alam, dan konsep wisata tematik semakin menarik perhatian generasi muda yang menginginkan pengalaman visual sekaligus aktivitas berkesan.

Perwakilan industri perhotelan, Yudhitia Kurniawan, mengatakan aspek visual menjadi salah satu pertimbangan utama generasi Z ketika memilih Destinasi Wisata maupun akomodasi. 

Namun, daya tarik tetap berjalan beriringan dengan kenyamanan dan kebutuhan untuk beristirahat.

“Generasi Z sangat selektif. Mereka mencari tempat yang bukan hanya nyaman, tetapi juga memiliki karakter visual kuat. Pengalaman yang bisa dibagikan menjadi nilai tambah yang penting,” ujar Yudhitia.

Bukan Sekadar Berburu Foto Estetik

Media sosial memang berperan dalam memperkenalkan destinasi kepada wisatawan muda. Foto dan video menarik dapat memancing rasa ingin tahu, tetapi pengalaman selama berada di lokasi tetap menjadi bagian penting dari perjalanan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 mencatat, sebanyak 67,2 persen generasi Z berwisata untuk menyegarkan pikiran atau refreshing. Sementara itu, 18,5 persen melakukan perjalanan untuk mengeksplorasi budaya dan 14,3 persen mencari pengalaman baru.

Angka itu menunjukkan kebutuhan untuk beristirahat masih menjadi alasan utama wisatawan muda bepergian. Media sosial dapat menjadi pintu masuk untuk menemukan tempat baru, tetapi kenyamanan, pengalaman, dan kepuasan selama perjalanan turut menentukan daya tarik sebuah destinasi.

Karena itu, tren wisata di kalangan Gen Z tidak cukup dipahami sebagai keinginan mengunjungi tempat menarik untuk difoto. Generasi ini juga mencari suasana berbeda, aktivitas yang bisa dicoba, serta pengalaman berkesan setelah liburan berakhir.

Hotel dan Destinasi Beradaptasi dengan Tren Gen Z

Perubahan preferensi mendorong Industri Pariwisata untuk menghadirkan ruang lebih kreatif. Hotel dan pengelola destinasi mulai memperhatikan desain tematik, area komunal hingga pencahayaan mendukung suasana dan pengalaman pengunjung.

Penataan ruang menjadi bagian dari cara destinasi membangun identitas. Area dengan karakter kuat dapat menarik pengunjung untuk datang, menghabiskan waktu, dan membagikan pengalaman mereka kepada orang lain.

Meski begitu, estetika bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Kenyamanan, kualitas pelayanan, kebersihan, serta ketersediaan aktivitas sesuai kebutuhan pengunjung tetap penting agar wisatawan tidak hanya datang untuk mengambil foto.

Bagi pelaku industri, perubahan ini membuka peluang untuk mengembangkan produk wisata lebih beragam.

Pengalaman bersantai, menikmati suasana alam, mencoba wahana tematik, dan mengenal kehidupan lokal dapat dikemas menjadi satu perjalanan sesuai dengan minat generasi muda.

Bekasi Tawarkan Alternatif Wisata Urban

Kota Bekasi dan kawasan sekitarnya memiliki sejumlah destinasi yang mulai menarik perhatian wisatawan muda. Pilihannya beragam, mulai dari wisata alam hingga wahana rekreasi dengan konsep tematik.

Hutan Bambu Bekasi menawarkan suasana hijau di tengah kawasan perkotaan. Sementara itu, Sabana Delta Mas menghadirkan hamparan terbuka yang berbeda dari lanskap kota. 

Situ Rawa Gede dapat menjadi pilihan bagi pengunjung untuk menikmati suasana perairan, sedangkan Trans Snow World Bekasi menawarkan pengalaman rekreasi dengan konsep salju.

Keberagaman itu memberi pilihan bagi wisatawan yang ingin mencari suasana berbeda tanpa harus selalu bepergian jauh dari kawasan penyangga Jakarta. Setiap destinasi memiliki peluang untuk menawarkan pengalaman lebih luas daripada sekadar latar foto.

Tren wisata visual menjadi peluang bagi pengembangan pariwisata urban sekaligus Ekonomi Kreatif di Bekasi.

“Wisata yang instagramable bukan sekadar soal foto. Jika dikelola dengan baik, estetika bisa menjadi pintu masuk untuk menggerakkan ekonomi lokal dan memperkenalkan destinasi yang sebelumnya kurang dikenal,” kata Yudhistira.

Jika dikembangkan secara konsisten, daya tarik itu berpotensi membantu memperkenalkan destinasi yang belum banyak diketahui. Kehadiran wisatawan dapat membuka peluang bagi pelaku usaha lokal, mulai dari kuliner, produk kreatif, hingga layanan pendukung perjalanan.

Estetika Harus Berjalan Bersama Keberlanjutan

Meningkatnya minat terhadap wisata visual juga membawa tantangan. Destinasi perlu memastikan penataan ruang dan pengembangan fasilitas tidak mengorbankan lingkungan maupun kenyamanan masyarakat sekitar.

Pengelolaan berkelanjutan menjadi penting agar daya tarik sebuah tempat tidak berhenti pada tren sesaat.

Ruang terbuka, kawasan alam, dan destinasi berbasis komunitas membutuhkan perencanaan yang memperhatikan daya dukung lingkungan dan kebutuhan pengunjung.

Yudhitia berharap pengembangan wisata visual di Bekasi dapat diiringi penataan ruang berkelanjutan. Dengan begitu, destinasi tidak hanya memenuhi kebutuhan konten digital, tetapi juga meningkatkan kualitas pengalaman wisata secara menyeluruh.

"Dengan integrasi data yang akurat dan perencanaan wilayah yang terarah, Bekasi kini bersiap menjadi pemimpin dalam pasar pariwisata urban di Jawa Barat, menyasar generasi yang menghargai keindahan sekaligus makna dari sebuah perjalanan," pungkasnya.

Pada akhirnya, generasi Z ikut membentuk wajah baru pariwisata Indonesia melalui preferensi perjalanan, memadukan estetika, kenyamanan, dan pengalaman autentik.*** 



Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!