ID EN

Tren Healing Gen Z: Mengapa Mendaki Gunung Semakin Diminati Anak Muda?

Rabu, 4 November 2026 | 12:15

Penulis: Arif S

Pendaki Gunung
Ilustrasi - Aktivitas mendaki gunung.. Foto: Envato

Gunung memiliki makna lebih luas bagi Generasi Muda. Bukan sekadar tempat menguji kekuatan fisik atau mengejar pemandangan indah dari puncak, aktivitas mendaki juga menjadi cara Gen Z mengambil jeda dari rutinitas, tekanan pekerjaan, dan kehidupan digital.

Di tengah aktivitas sehari-hari dengan layar ponsel, perjalanan ke gunung menawarkan pengalaman berbeda. Udara sejuk, suasana alam, dan terbatasnya akses komunikasi di sejumlah jalur pendakian memberi kesempatan bagi anak muda untuk menjauh sejenak dari notifikasi dan kembali menikmati lingkungan sekitar.

Fenomena ini sejalan dengan temuan laporan Year in Sport Trend 2025 yang dirilis Strava pada Desember 2025. Berdasarkan analisis miliaran aktivitas di platform dan survei terhadap lebih dari 30.000 responden, Strava melihat kecenderungan Gen Z beralih dari kebiasaan pasif seperti menggulir media sosial menuju aktivitas fisik dan interaksi di dunia nyata.

Strava mencatat Generasi Muda semakin menempatkan aktivitas fisik sebagai bagian penting dari kehidupan, termasuk ketika berlibur.

Meski laporan ini tidak secara khusus mengukur tren pendakian di Indonesia, temuannya memberi gambaran mengenai perubahan cara Gen Z memanfaatkan waktu luang.

Mereka tidak hanya mencari hiburan melalui layar, tetapi juga pengalaman langsung di luar ruang.

Bagi sebagian pendaki muda, perjalanan menuju puncak menjadi kesempatan untuk mengatur ulang pikiran. Pengalaman berjalan berjam-jam, menikmati pemandangan, dan berinteraksi dengan sesama pendaki menghadirkan ruang refleksi di tengah padatnya rutinitas harian.

Perubahan motivasi itu turut mendorong munculnya pilihan pendakian lebih beragam. Jalur dengan durasi relatif singkat dan tingkat kesulitan sesuai kemampuan menjadi alternatif bagi pemula yang ingin mencoba pengalaman mendaki tanpa harus mengambil cuti panjang atau menyiapkan perjalanan berhari-hari.

Namun, meningkatnya minat terhadap Wisata Alam tidak hanya terlihat dari cerita para pendaki. Data pengelola kawasan Konservasi juga menunjukkan besarnya aktivitas kunjungan. Taman Nasional Gunung Rinjani mencatat 80.214 pendaki sepanjang 2025. Jumlah itu terdiri dari 36.978 pendaki nusantara dan 43.236 pendaki mancanegara.

Aktivitas pendakian itu turut memberikan kontribusi ekonomi. TNGR mencatat penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp25,92 miliar sepanjang 2025. Angka ini membuktikan pendakian bukan hanya kegiatan rekreasi, tetapi juga bagian dari potensi ekonomi wisata alam yang perlu dikelola secara berkelanjutan.

Di sisi lain, peningkatan kunjungan membawa konsekuensi terhadap lingkungan dan keselamatan. TNGR mencatat sampah dari aktivitas pendakian mencapai 30.359,52 kilogram sepanjang 2025. Pengelola kawasan juga mencatat berbagai kejadian yang membutuhkan penanganan, mulai dari pendaki jatuh atau terkilir, tersesat, sakit, hingga mengalami hipotermia.

Persoalan kedisiplinan juga menjadi perhatian. Pada awal penerapan program Go Rinjani Zero Waste 2025, Balai TNGR memasukkan 52 pendaki ke dalam daftar hitam karena tidak membawa turun sampah mereka selama perjalanan. Sesuai SOP pendakian, pelanggaran itu dapat berujung pada larangan mendaki selama lima tahun.

Tantangan keselamatan juga terlihat di kawasan Gunung Merapi. Kementerian Kehutanan menyebut sekitar 60 orang terjaring dalam penertiban pendakian ilegal selama setahun sejak April 2025. 

Mayoritas pelanggar berada dalam kelompok usia 15-25 tahun, termasuk pelajar dan mahasiswa. Bahkan, aktivitas pendakian ilegal pada Desember 2025 mengakibatkan satu orang meninggal dunia.

Kementerian Kehutanan juga menyoroti pengaruh rasa penasaran, keinginan memperoleh pengakuan, dan FOMO terhadap aktivitas pendakian ilegal. 

Dokumentasi kegiatan di media sosial dapat menjadi daya tarik tersendiri, tetapi pendaki tidak boleh mengabaikan penutupan jalur maupun rekomendasi keselamatan dari otoritas terkait.

Karena itu, tren menjadikan gunung sebagai tempat Healing perlu diikuti pemahaman, alam bukan ruang bebas risiko. Pendaki harus memeriksa status jalur, kondisi cuaca, menyiapkan perlengkapan sesuai kebutuhan, serta memahami kemampuan fisik masing-masing sebelum berangkat.

Pada akhirnya, pengalaman terbaik di gunung tidak selalu ditentukan keberhasilan mencapai puncak atau mendapatkan foto menarik. Bagi Gen Z, perjalanan bisa menjadi cara menemukan ketenangan. Namun, ketenangan itu akan lebih bermakna jika melalui Pendakian Aman, bertanggung jawab, dan tidak merusak alam.***

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!