Tren Snackpacking di Kalangan Gen Z, Berwisata Sambil Berburu Jajanan Lokal
Rabu, 28 Oktober 2026 | 16:30
Penulis: Arif S

Berwisata tidak selalu harus mengunjungi pantai, mendaki gunung, atau mendatangi tempat-tempat populer untuk berburu foto. Di kalangan generasi Z, muncul tren perjalanan yang menawarkan cara berbeda menikmati sebuah kota, yaitu snackpacking, menjelajahi destinasi sambil berburu jajanan lokal, terutama di pasar tradisional.
Tren ini menjadikan pasar menjadi bagian dari pengalaman wisata. Bukan hanya tempat membeli makanan, pasar menawarkan kesempatan untuk mengenal kebiasaan masyarakat, berinteraksi langsung dengan pedagang, dan mencicipi kuliner yang menjadi identitas suatu daerah.
Bagi Gen Z, pengalaman semacam ini memiliki daya tarik tersendiri. Perjalanan terasa lebih dekat dengan kehidupan lokal, pilihan rutenya lebih fleksibel, dan setiap jajanan yang ditemukan bisa menjadi cerita menarik untuk dibagikan di media sosial.
BACA JUGA
Wajah Baru Pariwisata Indonesia di Tangan Gen Z, Pengalaman Bermakna Jadi Daya Tarik
Wisata Kuliner Arab Saudi: Hidangan Nasional hingga Kuliner Legendaris
Destinasi Rasa Halal, Potensi Kuliner Indonesia di Peta Global
Snackpacking relatif ramah di kantong. Dengan anggaran sekitar Rp50.000 hingga Rp100.000, wisatawan bisa mencicipi beragam jajanan, bergantung pada harga dan pilihan makanan di setiap destinasi.
Mengapa Snackpacking Digemari Gen Z?
Ada beberapa hal mengapa snackpacking semakin menarik bagi wisatawan muda.
Pertama, snackpacking menawarkan pengalaman lebih autentik. Pasar tradisional menghadirkan suasana khas melalui aroma makanan, suara pedagang, aktivitas tawar-menawar, dan interaksi yang sulit ditemukan di pusat perbelanjaan modern.
Kedua, wisata kuliner memberi kebebasan pengunjung untuk menentukan perjalanan sendiri. Wisatawan bisa berjalan dari satu kios ke kios lain, mencoba makanan dalam porsi kecil, lalu melanjutkan perjalanan ketika menemukan sesuatu yang menarik.
Ketiga, pasar tradisional memiliki daya tarik visual kuat. Warna-warni jajanan, cara pedagang menyajikan makanan, hingga keramaian pasar dapat menjadi materi menarik untuk TikTok, Instagram, dan YouTube.
Namun, snackpacking bukan sekadar tren berburu konten. Meningkatnya minat terhadap kuliner lokal juga membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal kekayaan Budaya Indonesia melalui makanan sehari-hari.
Dari Sumatera hingga Papua, setiap daerah memiliki jajanan, bahan pangan, dan tradisi kuliner berbeda. Pasar tradisional menjadi salah satu tempat terbaik untuk memulai perjalanan itu.
1. Pasar 16 Ilir, Palembang: Berburu Pempek hingga Kemplang
Pasar 16 Ilir bisa menjadi pilihan untuk memulai snackpacking di Palembang, Sumatera Selatan. Berada di kawasan perdagangan, dekat dengan Sungai Musi, pasar ini menghadirkan kesibukan kota dengan deretan kios, aktivitas jual beli, dan berbagai kebutuhan masyarakat.
Wisatawan bisa berburu aneka Kuliner Khas Palembang, mulai dari pempek berukuran kecil, tekwan, model, hingga kerupuk dan kemplang. Untuk pencinta makanan manis, kue maksuba dan lapis kojo juga layak masuk daftar incaran.
Cara paling menyenangkan menikmati pasar ini adalah mencoba beberapa jenis makanan dalam porsi kecil. Dengan begitu, perjalanan kuliner tidak berhenti pada satu menu saja.
Setelah puas berburu jajanan, wisatawan bisa melanjutkan perjalanan ke kawasan Sungai Musi untuk menikmati suasana tepi sungai sekaligus mengenal sisi historis Palembang. Dalam satu perjalanan, wisatawan dapat menggabungkan kuliner, kehidupan pasar, dan wisata kota.
2. Pasar Santa, Jakarta: Jajanan Lokal Bertemu Budaya Kreatif
Di Jakarta, Pasar Santa menawarkan suasana yang dekat dengan gaya hidup anak muda. Pasar ini dikenal memiliki kios makanan dan minuman, kedai kopi, serta sejumlah ruang usaha kreatif sehingga pengalaman berkunjung terasa berbeda dari pasar pada umumnya.
Snackpacker bisa mencari kopi dari kedai kecil, kue cubit dengan beragam topping, camilan kekinian, hingga makanan yang menggabungkan cita rasa lokal dengan sajian modern.
Daya tarik Pasar Santa tidak berhenti pada makanan. Sejumlah kios menawarkan barang koleksi, seperti vinil, buku, majalah lama, aksesori, dan produk kreatif lokal.
Perpaduan kuliner dan produk komunitas menjadikan Pasar Santa cocok bagi wisatawan yang ingin mengenal sisi lain Jakarta. Pengunjung bisa mencicipi makanan, menemukan barang unik, sekaligus melihat bagaimana ruang pasar beradaptasi dengan perkembangan budaya populer perkotaan.
3. Pasar Terapung Lok Baintan, Kalimantan Selatan: Jajan dari Atas Perahu
Jika pasar pada umumnya dijelajahi dengan berjalan kaki, Pasar Terapung Lok Baintan menawarkan pengalaman berbeda. Aktivitas jual beli berlangsung di atas sungai, dengan pedagang menggunakan perahu untuk membawa hasil kebun, bahan pangan, dan Makanan Tradisional.
Suasana pagi menjadi bagian penting dari pengalaman berkunjung. Perahu-perahu saling mendekat ketika pembeli dan pedagang bertransaksi, memperlihatkan tradisi sungai yang masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Banjar.
Dari sisi kuliner, wisatawan dapat mencari kue bingka yang manis dan lembut, kue apam Barabai, serta berbagai kue basah dan buah-buahan lokal. Lontong orari juga bisa menjadi pilihan bagi pengunjung yang ingin menikmati hidangan lebih mengenyangkan.
Di Lok Baintan, snackpacking bukan hanya tentang mencicipi makanan. Wisatawan juga bisa menyaksikan cara masyarakat berinteraksi, melakukan tawar-menawar, dan memanfaatkan sungai sebagai ruang aktivitas sehari-hari.
Pengalaman itu menjadikan perjalanan terasa lebih dekat dengan tradisi lokal, sekaligus memperkenalkan bentuk wisata berbeda dari kunjungan ke restoran atau pusat kuliner modern.
4. Pasar Ngasem, Yogyakarta: Kuliner Tradisional Dekat Wisata Sejarah
Yogyakarta memiliki cara tersendiri untuk memanjakan wisatawan pencinta kuliner. Pasar Ngasem bisa dimasukkan ke dalam rencana snackpacking, terutama bagi pengunjung yang ingin menikmati jajanan lokal sekaligus menjelajahi Kawasan Bersejarah.
Di pasar ini, wisatawan dapat mencari aneka jajanan pasar dan makanan khas Yogyakarta. Gudeg bisa menjadi pilihan untuk menikmati hidangan utama, sedangkan wedang cocok menemani waktu bersantai setelah berjalan menyusuri pasar.
Pengunjung bisa menyesuaikan pilihan dengan anggaran perjalanan karena harga makanan yang bervariasi. Wisatawan juga bisa mencoba beberapa jajanan sekaligus agar pengalaman kulinernya lebih beragam.
Keunggulan lainnya adalah lokasi Pasar Ngasem dekat dengan Taman Sari. Setelah berburu makanan, perjalanan dapat dilanjutkan dengan menjelajahi kompleks bersejarah.
Kombinasi kuliner dan wisata sejarah membuat snackpacking di Yogyakarta terasa lebih lengkap. Wisatawan bukan hanya mengenal rasa khas daerah, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai warisan budaya kota.
5. Pasar Hamadi, Jayapura: Mengenal Cita Rasa Papua
Di Jayapura, Papua, Pasar Hamadi menghadirkan pengalaman untuk mengenal kehidupan masyarakat pesisir sekaligus kekayaan bahan pangan lokal. Pasar ini ramai dengan aktivitas jual beli hasil laut, sayuran, buah-buahan, bumbu, dan berbagai kebutuhan sehari-hari.
Bagi snackpacker, kunjungan ke Pasar Hamadi bisa menjadi kesempatan untuk mencari jajanan berbahan sagu, kue bagea, serta aneka olahan ikan dan makanan tradisional setempat.
Sagu menjadi salah satu bahan pangan yang lekat dengan tradisi kuliner Papua. Mencoba makanan berbahan sagu dapat menjadi pintu masuk untuk memahami keragaman bahan pangan dan kebiasaan makan masyarakat di wilayah timur Indonesia.
Pasar Hamadi juga menawarkan Pengalaman Budaya di luar kuliner. Wisatawan dapat mencari produk lokal, termasuk noken atau tas rajut tradisional Papua, serta aksesori dan kerajinan yang mencerminkan identitas masyarakat setempat.
Dengan demikian, perjalanan ke Pasar Hamadi tidak hanya menjadi agenda berburu jajanan, tetapi juga kesempatan mengenal kekayaan budaya Papua melalui makanan, produk kerajinan, dan interaksi dengan masyarakat.
Snackpacking Buka Peluang Baru bagi Pariwisata Indonesia
Tren snackpacking berpotensi memberi manfaat lebih luas bagi sektor pariwisata. Ketika wisatawan menjadikan pasar tradisional sebagai tujuan perjalanan, pelaku usaha kecil mendapat kesempatan untuk memperkenalkan produk mereka kepada pengunjung dari luar daerah.
Pedagang jajanan, produsen makanan rumahan, perajin, hingga pelaku usaha oleh-oleh dapat ikut merasakan dampak dari meningkatnya minat terhadap wisata kuliner lokal. Aktivitas itu juga bisa mendorong wisatawan memperpanjang perjalanan dengan mengunjungi tempat bersejarah atau destinasi lain di sekitar pasar.
Media sosial turut membantu memperkenalkan kuliner daerah kepada khalayak yang lebih luas. Satu jajanan yang menarik perhatian bisa memancing rasa ingin tahu wisatawan untuk datang langsung dan mencicipinya.
Meski begitu, pengembangan snackpacking perlu memperhatikan kebersihan, kenyamanan pengunjung, pengelolaan sampah, dan keberlangsungan pasar sebagai ruang ekonomi masyarakat. Pasar tradisional bukan sekadar latar untuk membuat konten, melainkan tempat warga mencari nafkah dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Pada akhirnya, snackpacking menunjukkan, perjalanan menarik tidak selalu membutuhkan biaya besar atau destinasi yang jauh. Dari pempek di Palembang hingga jajanan berbahan sagu di Jayapura, pasar tradisional menawarkan cara sederhana untuk mengenal Indonesia melalui rasa, tradisi, dan cerita masyarakatnya.***











Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!