Persija Jakarta membuktikan bahwa solusi untuk memecah kebuntuan tidak selalu datang dari lini depan. Saat para penyerang kesulitan menembus pertahanan lawan, justru pemain belakang menjadi penentu kemenangan.
Kebangkitan Macan Kemayoran saat menaklukkan Persik Kediri 2-1 di Jakarta International Stadium (JIS), Senin (26/10/2026), menjadi sorotan dalam Podcast Itsme bersama Pengamat Sepak Bola Ronny Pangemanan atau Bung Ropan dan Ophan Lamara (Bung Opan). Episode yang dipandu Syafira dan Pudula itu membahas perkembangan Persija di bawah asuhan Shin Tae-yong, termasuk peluang juara dan pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi.
Persija sempat tertinggal melalui gol sundulan Imanol Garcia pada menit ke-10. Tekanan tinggi Persik membuat tuan rumah kesulitan mengembangkan permainan. Sejumlah peluang dari Arlyansyah Abdulmanan dan Alexander Jeremejeff juga belum membuahkan hasil hingga babak pertama berakhir.
BACA JUGA
Persija Era Shin Tae-yong Mulai Berubah, Defense Jadi Fondasi dan Jeremejeff Jadi Kunci
Persija Belum Pikirkan Persib, Mauricio Souza Tegaskan Fokus Penuh ke Persijap Jepara
Persija Tumbang, Arema Punya Peluang Bongkar Kelemahan Macan Kemayoran
Namun, Persija tidak kehilangan kesabaran. Memasuki babak kedua, STY memasukkan Rizky Ridho dan Kwon Chang-hoon. Perubahan itu membantu Persija meningkatkan kendali permainan dan meredam serangan balik lawan.
Denis Kolinger menyamakan kedudukan pada menit ke-64 melalui sundulan memanfaatkan tendangan bebas Rayhan Hannan. Lima menit kemudian, Kolinger berperan sebagai pemberi umpan bagi Rizky Ridho yang melepaskan tembakan untuk membawa Persija berbalik unggul. Dua gol tersebut menjadi bukti bahwa pemain belakang bisa menawarkan solusi ketika lini depan dan tengah mengalami kebuntuan.
Bek Bukan Sekadar Bertahan
Keberanian Kolinger dan Ridho membantu serangan menjadi salah satu aspek menarik dari kemenangan Persija. Dalam sepak bola modern, pemain belakang tidak hanya bertugas mengamankan pertahanan, tetapi juga harus mampu membaca momentum, memanfaatkan ruang, dan memberikan ancaman melalui situasi bola mati.
Kemenangan ini juga menunjukkan pentingnya kesabaran dalam menjalankan rencana permainan. Meski tertinggal lebih dahulu, Persija tetap berusaha mencari celah hingga menemukan momentum untuk membalikkan keadaan.
Pelajaran tersebut terasa penting setelah Persija kalah 2-3 dari Persita Tangerang pada 17 Oktober lalu. Kekalahan itu mengakhiri empat kemenangan beruntun Macan Kemayoran. Persija perlu belajar dari hasil tersebut, terutama dalam efektivitas serangan dan antisipasi terhadap ancaman lawan.
Sebaliknya, saat menghadapi Persik, Persija memperlihatkan kemampuan bangkit dalam situasi sulit. Dua pertandingan itu menjadi pengingat bahwa tim yang ingin menjadi juara harus mampu menjaga konsistensi sekaligus beradaptasi dengan situasi pertandingan.
Puncak Klasemen Bukan Akhir Perjuangan
Kemenangan atas Persik membuat Persija mengoleksi 18 poin dan semakin kokoh di puncak klasemen sementara BRI Super League 2026/2027. Namun, posisi itu membawa ekspektasi besar. Di bawah STY, Persija dituntut bukan sekadar menang, melainkan mempertahankan performa sepanjang musim.
Salah satu pekerjaan rumah yang perlu diperhatikan adalah pertahanan. Dalam tiga pertandingan terakhir, Persija selalu kebobolan. Keberhasilan bek mencetak gol patut diapresiasi, tetapi soliditas pertahanan tetap menjadi prioritas agar lawan tidak mudah memperoleh peluang.
Konsistensi pergantian pemain juga perlu dievaluasi. Perubahan komposisi terkadang memberikan dampak positif, tetapi belum selalu menghasilkan keseimbangan permainan. STY perlu memastikan pemain pengganti mampu menjaga intensitas dan disiplin taktik.
Keberanian memberikan kesempatan kepada pemain muda lokal menjadi modal positif bagi regenerasi tim. Namun, kesempatan tersebut harus diikuti pembinaan dan konsistensi performa. Selain itu, kebugaran fisik, stamina, serta motivasi pemain harus tetap terjaga hingga menit akhir.
Kemenangan atas Persik memperlihatkan bahwa Persija memiliki berbagai cara untuk meraih hasil positif. Lini belakang bisa menjadi pahlawan ketika lini depan buntu.
Bagi STY dan Macan Kemayoran, tantangan sesungguhnya adalah mengubah momentum tersebut menjadi konsistensi. Sebab, peluang juara tidak hanya ditentukan oleh kemampuan bangkit, tetapi juga oleh soliditas pertahanan, ketepatan strategi, dan daya tahan tim sepanjang kompetisi.










