ID EN

Kekayaan Geologi Indonesia: Bojonegoro Berpeluang Jadi Geopark Dunia ke-13 Indonesia

Sabtu, 7 November 2026 | 15:00

Penulis: Arif S

Tim arkeologi meneliti situs Wong Kalang di Bojonegoro, Jawa Timur
Dokumentasi - Tim arkeologi meneliti situs Wong Kalang di Bojonegoro, Jawa Timur. . Foto: Antaranews/infopublik.id

Bojonegoro semakin dekat untuk dikenal sebagai salah satu geopark dunia. Dewan UNESCO Global Geoparks merekomendasikan kawasan di Jawa Timur itu sebagai anggota baru UNESCO Global Geoparks (UGGp) setelah melalui pembahasan dalam sidang ke-11 di Paris, Prancis, pada 2-4 November 2026.

Rekomendasi ini menjadi pencapaian penting bagi Bojonegoro setelah melalui proses pengajuan dan evaluasi. Keunikan struktur geologi, sejarah perminyakan, serta keterlibatan masyarakat menjadi sejumlah faktor yang mendapat perhatian Dewan UNESCO.

Geopark Bojonegoro memiliki 20 geosite, tiga biosite, dan delapan situs budaya. Kawasan ini menyatukan warisan geologi, keanekaragaman hayati, serta tradisi lokal yang menjadi identitas masyarakat setempat.

Sejumlah lokasi unggulan masuk dalam kawasan geopark antara lain Teksas Wonocolo, Kayangan Api, Kedung Lantung, Antiklin Kawengan, Negeri Atas Angin, Formasi Wonocolo, Formasi Bulu Beji, dan Banyu Kuning.

Daya tariknya tidak berhenti pada bentang alam. Bojonegoro juga memiliki Warisan Budaya seperti Kampung Samin dan Wayang Thengul yang memperkaya pengalaman wisata sekaligus memperlihatkan hubungan antara alam dan kehidupan masyarakat.

Sejarah Perminyakan Menjadi Daya Tarik

Salah satu kekuatan Geopark Bojonegoro adalah sejarah perminyakan atau petroleum history. Kawasan ini menyimpan jejak aktivitas geologi dan sejarah eksploitasi minyak yang memiliki nilai penting dalam kajian kebumian.

Dewan UNESCO memberikan apresiasi pada keunikan struktur tektonik dan sejarah perminyakan itu. Keterlibatan masyarakat, kolaborasi pemerintah daerah dengan berbagai pemangku kepentingan, serta kualitas pengelolaan kawasan juga menjadi aspek yang dinilai positif.

"Usulan Geopark Bojonegoro diterima (accepted) oleh Dewan UNESCO Global Geopark dengan dukungan suara bulat (unanimous). Hasil ini merupakan rekomendasi Dewan UGG untuk penetapan Geopark Bojonegoro sebagai UNESCO Global Geopark," ujar Kepala Bappeda Kabupaten Bojonegoro, Helmy Elisabeth, Selasa.

Meski mendapat dukungan penuh, status itu belum menjadi penetapan akhir. UNESCO telah memasukkan Bojonegoro dalam daftar 11 geopark baru yang direkomendasikan untuk diajukan kepada Dewan Eksekutif UNESCO pada sidang musim semi 2027.

Jika disahkan, Bojonegoro akan menambah jumlah UNESCO Global Geoparks Indonesia dari 12 menjadi 13 kawasan.

Peluang Wisata dan Pekerjaan Rumah

Pengakuan UNESCO berpotensi memperluas perhatian wisatawan terhadap Bojonegoro. Namun, peluang itu perlu didukung kesiapan destinasi, mulai dari aksesibilitas, fasilitas pengunjung, informasi geologi, hingga kualitas pemandu wisata.

Pengembangan geowisata juga harus memastikan masyarakat lokal menjadi bagian utama dari kegiatan ekonomi. Kehadiran pengunjung idealnya membuka peluang bagi pemandu lokal, pelaku kuliner, pengrajin, pengelola desa wisata, serta usaha kecil di sekitar geosite.

UNESCO menempatkan konservasi, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan sebagai tiga pilar pengelolaan geopark dunia. Artinya, peningkatan Kunjungan Wisata tidak boleh mengorbankan kelestarian kawasan maupun nilai budaya masyarakat.

Dalam konteks Indonesia, Bojonegoro bergabung dalam daftar kawasan yang telah diakui UNESCO bersama 12 geopark lain, mulai dari Batur, Belitong, Ciletuh-Palabuhanratu, Gunung Sewu, Rinjani-Lombok, Toba Caldera, Raja Ampat, Maros-Pangkep, Merangin Jambi, Ijen, Kebumen, hingga Meratus.

Bojonegoro memiliki kesempatan untuk membawa kekayaan geologi dan budaya lokal ke panggung internasional. Langkah selanjutnya adalah menunggu pengesahan UNESCO sekaligus memastikan pengelolaan kawasan terus berkembang tanpa mengabaikan kepentingan masyarakat dan Kelestarian Alam.***

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!