ID EN

Liburan Akhir Tahun Makin Terjangkau, Empat Moda Transportasi Dapat Stimulus

Minggu, 8 November 2026 | 15:00

Penulis: Rojes Saragih

Pemerintah menggelar Nataru Mobility Expo 2026 di Jakarta
Pemerintah menggelar Nataru Mobility Expo 2026 di Jakarta, Minggu (8/11/2026). Foto: Antara/Arnidhya Nur Zhafira

Jakarta – Pemerintah menyiapkan anggaran Stimulus Transportasi sebesar Rp883,4 miliar untuk menyambut libur Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru). Program yang mencakup empat moda transportasi ini diproyeksikan menjangkau sekitar 6,14 juta pengguna, sekaligus membuka peluang peningkatan perjalanan wisata ke berbagai daerah di Indonesia.

Alokasi itu meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan anggaran stimulus Nataru 2025/2026 yang mencapai Rp387,53 miliar. Secara persentase, kenaikannya sekitar 128 persen.

Deputi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Drajad Hari Wibowo, mengatakan peningkatan anggaran merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mempermudah mobilitas masyarakat sekaligus menggerakkan perekonomian nasional pada kuartal IV 2026.

"Tahun lalu anggarannya Rp387 miliar. Tahun ini kami mengalokasikan Rp883 miliar untuk empat moda transportasi yang sama. Artinya, stimulus perjalanan Natal dan Tahun Baru meningkat lebih dari dua kali lipat," kata Drajad dalam acara Nataru Mobility Expo 2026 di Sarinah, Jakarta, Minggu (8/11/2026).

Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, stimulus itu mencakup Transportasi Udara, kereta api, angkutan laut, dan penyeberangan. Dari total anggaran, sekitar Rp722 miliar dialokasikan untuk insentif penerbangan, sedangkan Rp161,4 miliar untuk tiga moda transportasi lainnya.

Program ini diproyeksikan memberikan manfaat kepada sekitar 3,7 juta penumpang pesawat, 1,04 juta penumpang kereta api, 414 ribu penumpang kapal laut, serta lebih dari 188 ribu penumpang dan 467 ribu kendaraan pengguna jasa penyeberangan.

Tiket Pesawat Berpotensi Turun 11–12 Persen

Salah satu stimulus yang menarik perhatian wisatawan adalah insentif untuk Penerbangan Domestik kelas ekonomi.

Pemerintah menanggung 100 persen komponen PPN sebesar 11 persen atas jasa angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri kelas ekonomi. Selain itu, diberikan potongan 50 persen untuk sejumlah biaya jasa kebandarudaraan, termasuk pelayanan penumpang pesawat dan jasa pendaratan, penempatan, serta penyimpanan pesawat.

Kementerian Perhubungan memproyeksikan kombinasi kebijakan tersebut dapat menurunkan harga tiket pesawat sekitar 11–12 persen. Namun, besaran penurunan dapat berbeda bergantung pada rute, jadwal penerbangan, komponen tarif, dan ketersediaan kursi.

Insentif berlaku untuk periode penerbangan 22 Desember 2026 hingga 10 Januari 2027. Pembelian tiket sudah dapat dilakukan sejak 20 Oktober 2026 hingga 10 Januari 2027 sesuai ketentuan.

Diskon Kereta Api dan Kapal Laut 30 Persen

Bagi masyarakat yang memilih perjalanan darat, pemerintah memberikan diskon 30 persen untuk tiket kereta api kelas ekonomi komersial di Pulau Jawa dan Sumatera Utara.

Potongan harga berlaku untuk perjalanan pada 22 Desember 2026 hingga 4 Januari 2027. Program ini diproyeksikan menjangkau sekitar 1,04 juta penumpang.

Sementara itu, wisatawan yang menggunakan transportasi laut juga mendapatkan potongan 30 persen dari tarif dasar tiket kelas ekonomi kapal penumpang PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) di seluruh rute.

Diskon tersebut berlaku untuk keberangkatan 17 Desember 2026 hingga 10 Januari 2027 dengan target penerima manfaat sekitar 414 ribu penumpang.

Untuk layanan penyeberangan, pemerintah memberikan pembebasan tarif jasa kepelabuhanan bagi penumpang pejalan kaki dan kendaraan golongan II serta IVA di 14 pelabuhan.

Kebijakan yang dijalankan melalui PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) tersebut berlaku pada 22 Desember 2026 hingga 10 Januari 2027.

Pembebasan ini khusus untuk komponen jasa kepelabuhanan, bukan berarti seluruh tiket penyeberangan gratis.

Peluang Menggerakkan Pariwisata Daerah

Peningkatan anggaran stimulus transportasi diharapkan memberikan dampak lebih luas bagi Industri Pariwisata nasional.

Biaya perjalanan yang lebih terjangkau berpotensi mendorong masyarakat mengunjungi berbagai destinasi, mulai dari kawasan pantai, pegunungan, hingga kota-kota tujuan wisata di berbagai wilayah Indonesia.

Momentum Nataru juga membuka peluang peningkatan aktivitas wisata berbasis olahraga dan petualangan, seperti golf, bersepeda, trekking, serta berbagai kegiatan outdoor.

Dikutip oleh Antara, Drajad menilai periode Natal dan Tahun Baru merupakan momentum penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Dampaknya tidak hanya dirasakan sektor pariwisata, tetapi juga perdagangan, industri kecil, kerajinan, dan usaha rumah tangga.

Pemerintah berharap stimulus transportasi tahun ini dapat memperluas mobilitas masyarakat sekaligus mendorong perputaran ekonomi di daerah tujuan perjalanan.

Dengan alokasi Rp883,4 miliar dan proyeksi penerima manfaat sekitar 6,14 juta pengguna, program Nataru 2026/2027 diharapkan menjadi salah satu pendorong perjalanan wisata domestik pada penghujung tahun.

Komentar 0
Terbaru

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!