Timnas Indonesia masih menghadapi sejumlah pekerjaan rumah untuk meningkatkan kekuatan skuad menjelang Piala Asia 2027. Persoalannya bukan sekadar mencari lawan uji coba berkualitas, tetapi juga mengatasi krisis pemain di lini depan, menjaga kebugaran sejumlah pilar, hingga menghadapi semakin rumitnya proses pencarian pemain keturunan.
Tiga persoalan itu menjadi pembahasan Pengamat Sepak Bola Ophan Lamara dan Erwin Fitriansyah dalam podcast ITSMe di Studio Sentul, Bogor, Senin (2/11/2026). Diskusi yang dipandu Gilang Respaty dan Pudila itu secara khusus mengulas kebutuhan Timnas Indonesia menghadapi persaingan di level tertinggi Sepak Bola Asia di bawah arahan pelatih John Herdman.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah belum jelasnya lawan uji coba Indonesia pada FIFA Matchday November 2026. Periode pertandingan internasional FIFA berlangsung pada 9–17 November, tetapi rencana pertandingan menghadapi Yordania dan calon lawan lainnya masih menghadapi ketidakpastian.
BACA JUGA
Timnas Indonesia Butuh Winger! Marukawa Jadi Jawaban John Herdman?
John Herdman Benahi Timnas Indonesia Menuju Piala Asia 2027
John Herdman Hadapi PR Lini Depan, Timnas Indonesia Butuh Striker Nomor 9
Erwin menjelaskan, situasi keamanan di kawasan Timur Tengah membuat pencarian lawan menjadi lebih sulit. Yordania yang semula dijadwalkan menjamu Indonesia pada 13 November di Amman bahkan menghadapi kemungkinan pemindahan lokasi pertandingan. Sementara itu, Kuwait masih sebatas opsi penjajakan dan belum ada kepastian resmi.
Kondisi tersebut juga berpengaruh terhadap Pemain Indonesia yang berkarier di Eropa. Klub-klub mereka tentu akan mempertimbangkan keselamatan pemain sebelum memberikan izin melakukan perjalanan ke kawasan yang memiliki risiko keamanan.
Menurut Ophan, kualitas lawan harus menjadi prioritas. Indonesia membutuhkan pertandingan yang bisa mengukur kemampuan menghadapi kekuatan papan atas Asia, seperti Jepang, Korea Selatan, atau Uzbekistan.
Ophan bahkan menilai Uzbekistan saat ini memiliki skuad yang sangat solid dan layak menjadi salah satu tolok ukur bagi Garuda. Jika tidak mendapatkan lawan dari kawasan Timur Tengah, Indonesia bisa mempertimbangkan alternatif dari Asia Timur.
Selain kualitas lawan, status pertandingan tandang (away) juga menjadi perhatian. Herdman dinilai membutuhkan pengalaman pertandingan di kandang lawan untuk membangun mentalitas, karakter, dan kemampuan pemain menghadapi tekanan suporter tuan rumah.
Hal ini penting karena Indonesia harus membiasakan diri menghadapi situasi pertandingan dengan tekanan tinggi ketika berkompetisi di level Asia.
Ole Romeny dan Krisis Penyerang Tengah
Persoalan berikutnya adalah ketersediaan pemain, terutama di sektor depan. Dalam diskusi tersebut, Gilang mengangkat kondisi Ole Romeny, Dion Markx, dan Shayne Pattynama yang berpotensi memengaruhi komposisi Timnas Indonesia.
Perkembangan terbaru semakin mengkhawatirkan. Ole Romeny kembali mengalami masalah cedera engkel setelah menjalani comeback bersama Fortuna Sittard. Pemulihannya diperkirakan membutuhkan waktu beberapa bulan sehingga peluangnya tampil pada FIFA Matchday November semakin kecil.
Bagi Ophan dan Erwin, kehilangan Ole merupakan pukulan besar. Pasalnya, Indonesia belum memiliki alternatif dengan karakter permainan yang benar-benar serupa sebagai penyerang tengah.
Keduanya menilai kebutuhan terhadap striker murni masih menjadi persoalan serius. Taisei Marukawa, yang sempat dikaitkan dengan kemungkinan naturalisasi, dinilai lebih cocok bermain sebagai penyerang sayap atau pemain di belakang striker.
Karakter serupa juga dimiliki sejumlah pemain seperti Irfan Jaya dan Witan Sulaeman. Mereka memiliki kemampuan menyerang dari sisi sayap, tetapi bukan solusi langsung untuk menggantikan peran Ole sebagai ujung tombak.
Sementara itu, kembalinya Jay Idzes setelah pulih dari cedera akan menambah pilihan di lini belakang. Kondisi Dion Markx harus bersaing dengan pemain-pemain yang tersedia, sedangkan menit bermain dan kebugaran Shayne Pattynama juga menjadi pertimbangan tersendiri.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan Timnas Indonesia bukan hanya mencari pemain berkualitas, melainkan memastikan setiap posisi memiliki kedalaman skuad yang memadai.
Regulasi Belanda Jadi Tantangan Naturalisasi
Kebutuhan terhadap penyerang berkualitas kembali memunculkan pembahasan mengenai Naturalisasi Pemain keturunan. Namun, Erwin Fitriansyah menjelaskan bahwa mencari pemain dari Belanda kini menghadapi tantangan regulasi yang semakin ketat.
Dalam podcast ini, Erwin menyoroti ketentuan izin kerja bagi pemain profesional non-Uni Eropa di Belanda. Untuk musim 2026/2027, ia menyebut ambang gaji pemain berusia 21 tahun ke atas mencapai sekitar 630.000 euro per tahun.
Persyaratan ini berkaitan dengan ketentuan izin kerja dan tinggal bagi atlet profesional non-Uni Eropa yang melibatkan otoritas imigrasi Belanda (IND) dan lembaga ketenagakerjaan UWV. Ketentuan tersebut membuat klub harus memenuhi persyaratan tertentu sebelum merekrut pemain dari luar Uni Eropa.
Dampaknya, peluang pemain keturunan Indonesia yang belum memiliki paspor Uni Eropa untuk mendapatkan kesempatan bermain di klub Belanda menjadi lebih kompleks.
Meski demikian, Ophan mengingatkan bahwa naturalisasi bukan solusi permanen. Indonesia harus memperkuat pembinaan usia dini agar mampu menghasilkan pemain berkualitas dari kompetisi domestik.
Menurutnya, keberhasilan negara lain menghimpun pemain keturunan dari berbagai negara Eropa juga bisa menjadi referensi dalam memperluas pencarian talenta Indonesia di luar Belanda.
Penundaan Piala Asia Mengubah Peta Persiapan
Ada perkembangan penting setelah podcast ITSMe tersebut direkam. Pada 3 November 2026, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) mengumumkan penundaan Piala Asia 2027 di Arab Saudi.
Turnamen yang semula dijadwalkan berlangsung 7 Januari hingga 5 Februari 2027 kini direncanakan digelar pada 23 Desember 2027 hingga 21 Januari 2028. Perubahan ini memberikan waktu persiapan lebih panjang bagi John Herdman.
Namun, tambahan waktu tersebut juga harus dimanfaatkan untuk membangun kedalaman skuad, menemukan alternatif penyerang tengah, serta meningkatkan kualitas permainan menghadapi tim-tim kuat Asia.
Pada akhirnya, tantangan terbesar John Herdman bukan hanya menentukan siapa yang pantas masuk skuad, tetapi membangun tim yang memiliki keseimbangan di setiap lini.
Kualitas lawan uji coba, ketersediaan penyerang, dan kedalaman skuad menjadi persoalan yang perlu dijawab. Dengan jadwal Piala Asia yang berubah, Indonesia memiliki kesempatan lebih panjang untuk berbenah. Pertanyaannya, mampukah waktu tambahan tersebut dimanfaatkan untuk membawa Garuda naik kelas di persaingan sepak bola Asia?










